Keluaran 7:12
Masing-masing mereka melemparkan tongkatnya, dan tongkat-tongkat itu menjadi ular; tetapi tongkat Harun menelan tongkat-tongkat mereka.
Keluaran 7:22
Tetapi para ahli Mesir membuat yang demikian juga dengan ilmu-ilmu mantera mereka, sehingga hati Firaun berkeras dan ia tidak mau mendengarkan mereka keduanya seperti yang telah difirmankan TUHAN.
Keluaran 8:7
Tetapi para ahli itu pun membuat yang demikian juga dengan ilmu-ilmu mantera mereka, sehingga mereka membuat katak-katak bermunculan meliputi tanah Mesir.
Keluaran 8:18-19
18 Para ahli itu pun membuat yang demikian juga dengan ilmu-ilmu manteranya untuk mengadakan nyamuk-nyamuk, tetapi mereka tidak dapat. Demikianlah nyamuk-nyamuk itu hinggap pada manusia dan pada binatang.
19 Lalu berkatalah para ahli itu kepada Firaun: "Inilah tangan Allah." Tetapi hati Firaun berkeras, dan ia tidak mau mendengarkan mereka — seperti yang telah difirmankan TUHAN.
-----
Kita tentu sudah sering membaca dan mendengar tentang sepuluh tulah. Apa yang bisa kita pelajari? Banyak hal. Salah satu bagian yang cukup menarik perhatian saya ketika membaca tentang sepuluh tulah ini adalah bagaimana respons para ahli sihir Mesir.
Saya memfokuskan pada 4 kutipan ayat di atas. Pertama adalah sebelum sepuluh tulah yaitu tongkat menjadi ular. Kemudian ketiga ayat berikutnya adalah soal tulah pertama (air menjadi darah), kedua (katak), dan ketiga (nyamuk).
Ketika merenungkan hal ini, saya teringat juga tentang bagaimana sikap sebagian kecil orang Indonesia meresponi insiden bendera terbalik pada penyelenggara Sea Games 2017 yang baru berlalu.
Betapa mudah kita mengikut arus. Tatkala kita "dipermalukan", kita meresponinya justru dengan hal yang semakin membuat kita malu.
Jika merunut ke sejarah peradaban bangsa Mesir, sungai Nil dan bercocok tanam di sepanjang aliran sungai Nil adalah kebudayaan mereka. Mereka sangat mengandalkan akan aliran sungai Nil. Melalui tulah pertama, sebenarnya mereka sedang dipermalukan. Dewa sembahan bangsa Mesir sedang dipermalukan oleh Tuhan. Tetapi hal ini mungkin tidak disadari oleh para ahli Mesir. Alih-alih menetralkan akan tulah pertama ini, mereka justru malah melakukan hal yang lebih memalukan sebenarnya. Mereka mungkin berpikir, jika Harun dan Musa dapat melakukannya, kami juga bisa. Demikian juga dengan tulah kedua. Katak adalah salah satu hewan yang spesial bagi bangsa Mesir. Mereka menyembah dewa katak. Katak melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Lagi-lagi Tuhan mempermalukan mereka. Dan lagi-lagi mereka tidak sadar. Mereka pikir mereka hebat. Dan pada tulah yang ketiga, mereka tidak sanggup melakukan hal yang sama lagi. Dan barulah mereka mengakui Allahnya Musa dan Harun lebih hebat dari dewa mereka.
Coba kita renungkan, apakah kita juga sering bersikap seperti para ahli Mesir itu? Seberapa sering kita meresponi sesuatu secara keliru? Berapa sering hal yang kita lakukan justru semakin membuat malu kita sendiri dan juga membuat malu Tuhan? Bukankah seringkali kita seperti itu?
#JedaSejenak
#07072017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar