Jumat, 26 Agustus 2016

Hati Air

Tiga dasa menjejak bumi
Dasa empat kurang asta
Panjat syukur Ilahi
Kasih anugerah-Mu besar
Terima kasih Tuhan
Satu pintaku
Hati setenang air
Pedang tiada bisa menebas
Toya tiada sanggup memukul
Mengalir bebas tiada beban
Ajari bentuk hati ini
Tetap mengasihi walau dibenci
Tetap teguh walau tertekan
Tiada mendendam walau disakiti
Arahkanlah kaki ini ya Tuhan
Menjejak seturut Dikau
Tegarkan dan kuatkan ya Tuhan
Terus melangkah dalam anugerah-Mu

#NR24082016

Kenang

Subuh bulan lapan
Tiga satu kurang sebelas
Dalam lelap pagi
Dalam ketenangan fajar
Dikau melangkah
Mendahului kami ke rumah baka

Memutar waktu berlalu
Melintas jejak kenangan
Kayuh kakimu mengayun pedal
Mengantar menaik bukit
'Gar kami menimba ilmu

Dalam masa sebelum dikau terbaring
Tatkala malam menuju larut
Motor belum dikandang
Dikau selalu khawatir
Minta nelpon tanya kabar
Tatkala malam larut ke keheningan
Nyala tabung sinar berisik
"Sudah larut malam, kamu belum tidur?" katamu
Kadang...
Risih aku..
Tapi.. Kurindu saat-saat itu
Saat yang tak kan berulang

Selamat jalan paman..
Kita kan bertemu kembali
Nanti di surga baka

#InMemoriam
#NR20082016

Hati Pejuang

Hati Pejuang

Desing peluru tiada gentar
Runcing bambu mengantar tegar
Tekad jiwa raga terkobar
Menjejak bebas negeri sendiri

Kami ingin berlari
Kami ingin mendaki
Kami ingin mengarung
Kami ingin mengangkasa
Di negeri sendiri

Ini tanah kami
Ini air kami
Ini negeri kami
Kami ingin bebas

Desing peluru tiada gentar
Runcing bambu mengantar tegar
Tekad jiwa raga terkobar
Menjejak bebas negeri sendiri

Kami berjuang
Kami rela korban diri
Kami ingin jejak bebas negeri sendiri
Kami ingin cucu cicit bebas jejak negeri
Kami ingin Indonesia merdeka!
Tak sudi kami terus di jajah
Habis Holland lalu Nippon
Kami ingin Indonesia bebas!
Indonesia Raya!

#NR17082016

Lucunya Kami Bermimpi

Lucunya Kami Bermimpi

Ini mimpi kami punya
Kami mimpi mimpi kami
Ini mimpi nyata mimpi
Kami hidup beralas mimpi

Ini (mimpi) kami punya
Ribuan pulau
Jutaan flora
Miliaran fauna
Pelangi mineral
Ah elok nian kaya
Kami kaya kami koar
Tapi tiada kami punya

Ini mimpi kami punya
Makmur sejahtera permai tenteram
Ah indahnya kami punya mimpi
Kami bangga dalam koar mimpi
Kami kaya kami koar
Tapi tiada kami punya

Kami gugat Tuhan
Kami minta yang terbaik
Agar kami berada
Tuhan kasih kami kaget
Kami tolak kami gugat
Tuhan bingung kami punya mimpi
Ah lucunya kalian ini kata Tuhan
Ini mimpi kami punya, Tuhan
Kabulkan kami punya mimpi
Kami terus gugat Tuhan
Kami bangga dalam mimpi
Tuhan pun pusing lihat kami punya mimpi
Ini mimpi kami punya

#NR16082016

Kentut

Kentut

Omong ini hari
Esok boleh beda
Koar anu ini hari
Esok koar itu
Kutu memang loncat?
Ketika omong hanyalah kentut
Kambing berbedak meong
Macan bertudung rusa
Ah biasa sudah itu
Harkat integritas obral murah
Demi sebungkus nasi
Segenggam emas dalam mimpi
Ah biasa sudah itu
Apalah arti suatu omong
Bukankah omong hanya kentut?

#NR11082016

Selasa, 09 Agustus 2016

"Berat Nian Masalahku..."

"Berat Nian Masalahku..."

~ Ada kalanya beratnya beban masalah bukanlah pada masalah itu sendiri. Tetapi pada diri kita sendiri yang terlalu memaksa untuk dapat menyelesaikan masalah itu ataupun terlalu memaksa diri untuk mengikuti maunya masalah --- kita fokus atau larut pada diri kita sendiri. ~

Apakah maksudnya kita harus melarikan diri dari masalah? Apakah kita jangan memikirkan masalah?
Tidak! Bukan seperti itu!
Masalah adalah masalah. Suka atau tidak suka, memang kita harus menghadapinya. Bagaimana kita menghadapinya yang membedakan berat tidaknya beban masalah itu bagi kita. Kecenderungan kita umumnya adalah larut dalam masalah sehingga sulit bagi kita berpikir jernih dan melihat solusi dari masalah. Kita bisa larut meratapi diri ataupun sebaliknya berusaha sekuat tenaga mengangkat masalah dengan tangan kita sendiri. Inilah yang sering kita lakukan bukan?

Kita jarang untuk beristirahat sejenak. Kita jarang mengambil jeda sejenak. Kita jarang mencoba men-zoom out sudut pandang kita atas masalah. Kita terlalu egosentris.

Lebih parahnya lagi kita cenderung menyalahkan pihak lain. Jujur saja, siapakah yang paling sering kita salahkan jika ada masalah menimpa kita? Nasib? Tuhan? Jika mau jujur bukankah Tuhan seringkali menjadi pihak yang sering kita salahkan?

"Firman Tuhan tidak pernah menyederhanakan atau menyepelekan masalah, pergumulan, maupun penderitaan."

Ketika merenungkan kutipan khotbah di Ibadah Raya minggu kemarin, saya menyadari satu hal, masalah adalah hal yang serius. Masalah memang bukan hal yang bisa kita sederhanakan. Ketika kita mencoba menyederhanakan masalah, kita sebenarnya sedang membesarkan masalah. Kita mencoba lari dari masalah. Masalah sudah ada beratnya sendiri. Janganlah kita menambahkan beratnya lagi. Ilustrasi tentang tas yang berat bagi seorang anak kecil, namun tidak bagi ayahnya cukup menggambarkan bahwa sebenarnya bukan soal berat ringannya masalah. Namun bagaimana kita memandang masalah itu. Kita seperti anak kecil itu, kekuatan kita tidak seberapa namun memaksa diri untuk harus bisa mengangkat tas itu. Kita berpikir kita mampu, padahal sesungguhnya tidak. Kita hendaknya menyadari batas kemampuan kita. Namun ini tidak berarti kita sedikit-sedikit menyerahkan atau melemparkan masalah kepada Tuhan. Biar Tuhan yang selesaikan. Itu juga sikap yang tidak tepat.

Hendaknya kita bisa menempatkan diri pada perimbangan yang tepat. Kita tetap menghadapi masalah tersebut. Tapi kita juga harus yakin dan percaya Tuhan akan menyertai dan menolong kita melewatinya. Namun ini nampaknya hanya mudah diucapkan. Benar! Tidak mudah ketika kita benar-benar dihadapkan pada masalah.

Apa yang harus kita lakukan ketika menghadapi masalah? Sekali lagi jangan lupa tetap harus beristirahat! Itulah kesimpulan dari khotbah minggu kemarin. Kelihatannya sederhana. Ya memang seperti itu. Tapi apakah itu berarti menyederhanakan masalah? Sekali-kali tidak. Tidak ada dikatakan sederhanakan masalah. Namun sikap kita menghadapi masalah. Ada orang yang ketika ada masalah, jadinya tidak mau makan, tidak mau tidur. Yang dipikirkan cuma masalah dan berputar-putar di masalah itu saja. Bukannya memikirkan bagaimana mengatasi masalah ini. Bagaimana menghadapi masalah ini. Pikiran menjadi beku. Dan tidak mampu lagi memikirkan solusi atau jalan keluar. Bahkan sampai lupa bahwa ada Tuhan yang menyertainya. Bukankah kita cenderung seperti itu?

"Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?" (Matius 6:27)

Apakah dengan selalu kuatir, lalu masalah akan terselesaikan? Apakah dengan selalu memikirkan masalah, lalu masalah itu akan selesai dengan sendirinya? Bukankah justru kekhawatiran hanya akan menambah berat masalah? Bukankah dengan tidak mau makan, tidak mau tidur, dll hal yang merusak tubuh hanya akan menambah masalah baru? Pikirkan dan renungkanlah!

"Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!" (Mazmur 3:6)

Bisakah kita seperti apa yang Daud ungkapkan di atas? Meskipun begitu berat masalah yang dia hadapi, dia tetap bisa beristirahat. Dan apakah dia kuatir? Ya dan Tidak! Dia ada kehawatiran tapi tidak berlarut dan menjadi momok bagi dia. Dia yakin Tuhan yang akan menyertainya dan menolongnya melewati masalah-masalah yang ia hadapi. Dapatkah kita seperti itu?

#JedaSejenak
#NR09082016