Sabtu, 28 Oktober 2017

MyNote: "Jangan Terlena"

~ Sejatinya apa yang baik pada suatu masa belum tentu mudah dipertahankan untuk masa berikutnya. Bukankah sejarah sudah mengajarkannya dengan jelas. Jadi janganlah terlena oleh fenomena. ~

---
2 Raja-raja 18:1-3
1 Maka dalam tahun ketiga zaman Hosea bin Ela, raja Israel, Hizkia, anak Ahas raja Yehuda menjadi raja.
2 Ia berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh sembilan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Abi, anak Zakharia.
3 Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya.

2 Raja-raja 20:21
Kemudian Hizkia mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya. Maka Manasye, anaknya, menjadi raja menggantikan dia.

2 Raja-raja 21:1-2
1 Manasye berumur dua belas tahun pada waktu ia menjadi raja dan lima puluh lima tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Hefzibah.
2 Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, sesuai dengan perbuatan keji bangsa-bangsa yang telah dihalau TUHAN dari depan orang Israel.
---

Jika Hizkia dikatakan melakukan yang baik. Namun tidak demikian adanya dengan Manasye anaknya. Manasye dikatakan melakukan yang jahat di mata Tuhan.

Jika kita pernah mendapat yang baik, jangan kaget jika suatu saat mendapat yang tidak baik.

Sungguh benar kata pengkhotbah.

Pengkhotbah 1:8-11
8 Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar.
9 Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.
10 Adakah sesuatu yang dapat dikatakan: "Lihatlah, ini baru!"? Tetapi itu sudah ada dulu, lama sebelum kita ada.
11 Kenang-kenangan dari masa lampau tidak ada, dan dari masa depan yang masih akan datang pun tidak akan ada kenang-kenangan pada mereka yang hidup sesudahnya.

#JedaSejenak
#NR18102017

Minggu, 13 Agustus 2017

MyNote: Kemana?

Ada saat kita ingin berhenti dan diam sejenak, tetapi tiada dapat. Waktu terus bergulir.

Ada saat kita ingin kembali mengulang dari awal, tetapi tiada dapat. Semua telah berlalu.

Ada saat kita ingin berkata, tetapi tiada dapat. Tiada yang mendengar.

Ada saat kita ingin diam, tetapi tiada kuasa berdiam selamanya.

Ada banyak kekecewaan.
Ada banyak keputusasaan.
Ada banyak kegagalan.
Ada banyak hal tidak menyenangkan.
Itulah realita sehari-hari.

Apa yang kita impikan, belum tentu akan tercapai.
Sejuta goresan bayangan keinginan, umumnya jarang terealisasikan penuh. Mungkin hanya samar-samar saja.

Ada ribuan keinginan kita.
Ada berjuta impian kita.
Dan kita pun bingung bagaimana mewujudkannya.

Kita bekerja. Kita berusaha sekuat tenaga.
Ada yang tetap semangat. Ada yang pantang menyerah. Namun banyak juga yang putus asa. Mundur dari keinginan dan impiannya.

Banyak yang berhasil mewujudkan sebagian impian dan harapannya. Banyak pula yang gagal.

Namun terkadang kita kembali lagi ke awal. Untuk apa itu semua? Benarkah itu yang terpenting bagi diri kita? Itukah tujuan yang ingin kita capai dalam hidup?

Banyak yang setelah berhasil justru merasakan kekosongan. Kehampaan. Dan tidak tahu harus bagaimana lagi. Hidup yang terasa penuh tetapi tidak penuh.

Banyak pula yang gagal dan merasakan ketiadaan arti tujuan hidup. Ini celaka. Banyak yang berpikir untuk mengakhiri. Padahal jalan masih panjang.

Lalu apa yang membuat hidup bisa penuh?

Tidak mudah menjawab hal ini.
Namun sebagai orang Kristen, saya diajar bahwa kepenuhan hidup hanya bisa didapat dalam Kristus. Sederhana tapi tidak gampang. Menyerahkan hidup kepada Kristus bukanlah perkara gampang. Perlu ketaatan total kepada-Nya. Kecenderungan yang ada umumnya adalah mencari Dia hanya tatkala perlu, bukan totalitas menyerahkan hidup kepada-Nya. Dalam banyak hal justru lebih mengandalkan diri sendiri. Lebih mengutamakan diri sendiri. Lebih memilih memuaskan keinginan diri. Padahal mungkin itu tidak sesuai keinginan dan kehendak Kristus.

Apakah tujuan hidupku sebenarnya?
Pertanyaan yang mungkin perlu seumur hidup terus ditanyakan. Pertanyaan yang mungkin selalu sulit dijawab dengan jujur. Pertanyaan yang hendaknya mengarahkan langkah kaki ke depan.
Ke mana kaki ini akan melangkah?
Entahlah...

#JedaSejenak
#NR12082017

Kamis, 10 Agustus 2017

Tertahan Tertelan

Sepi berjubah ramai
Sunyi bersuara riuh
Letih tiada sandar
Tiada lah bahu

Berceloteh tiada didengar
Berbisik tiada terdengar
Ribuan gundah peluh lidah
Tertahan tertelan
Ah diam lah baiknya

Letih tiada sandar
Tiada lah bahu

Kepada angin
Lepas penat pikir
Angin pun tiada acuh
Ah diam lah baiknya

#NR10082017

Sabtu, 05 Agustus 2017

Kepada Seorang Sahabat

Kepada seorang sahabat

Waktu bergulir tiada kata mundur
Menggores kisah pada kanvas kenangan
Tiada terasa sudah sekian waktu
Bapa Sorgawi mengasihimu

Walau terpisah dua dunia
Kelak kita kan bersua di sana
Di rumah keabadian

Sobat...
Tawamu
Candamu
Menghangatkan keheningan

Sobat...
Ketegaranmu
Ketabahanmu
Perjuanganmu
Menghadapi sakit itu
Kau hadapi dengan senyum
Kau justru beri kami semangat
Kau justru meneguhkan kami
Kau sungguh tegar

Selamat ulang tahun sobat

#05082017

Rabu, 26 Juli 2017

Tepian Dermaga

Tepian dermaga
Setarik rona senyum
Terdiam terpaku daku
Rasa pun mengakar
Berdetak degup
Waktu tertawai diam
Inikah? Ah...
Kau pun menjauh dermaga
Kan kah labuh jangkar
Mentari pun berangsur tidur
Bayanganmu semakin jauh

#NR26072017

Sabtu, 01 Juli 2017

MyNote: "Hening"

Pada sore itu, dalam sesi Silent Prayer, 'ku berjalan dalam bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ku berjalan ke ujung rumah retreat, melihat hamparan tanah lapang berumput sedang di sana. Pandangan ini terhenti pada sebatang pohon yang sepertinya berbeda sendiri. Di sekeliling hamparan itu mayoritas adalah pohon kelapa sawit kecil dan rerumputan saja. Sebatang pohon itu memberi nuansa tersendiri. Hati ini merenung, betapa kadang tidak berani berbeda sendiri. Betapa kadang lebih suka didikte oleh dunia. Ah Tuhan, terima kasih atas pembelajaran kecil ini.

Setelah berdiam sejenak di sana, berjalan balik lagi dan berjalan ke samping rumah retreat. Di sana masih terlihat pohon itu. Berdiam sejenak di sana. Kemudian berjalan lagi. Menuju ke bundaran yang terdiri dari sembilan pilar. Di setiap pilar ada tertulis buah Roh Kudus seperti yang ada dalam Galatia 5:22. Duduk di dalamnya, bersandar pada salah satu pilar sambil melihat latar bukit. Ah sungguh menakjubkan karya-Mu Tuhan. Menengadah ke atas, dan mata ini terdiam melihat tulisan pada bentangan pilar. Tulisan itu adalah kutipan ayat Alkitab.

"Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yoh 8:31-32)

Dan ketika melihat ke belakang, melihat tulisan pada pilar tempatku bersandar, di sana tertulis kata SUKACITA.

Apa makna semua ini? Hatiku membatin.

Setelah dari sana, berjalan lagi. Berjalan dan berjalan. Akhirnya melintas gereja dan memutuskan masuk ke dalamnya. Mengambil tempat duduk di bangku belakang. Di sana entah kenapa, rasanya hanya ingin berdiam diri. Berdoa dalam keheningan kepada-Nya. Tanpa terasa, air mata mulai menetes. Sebuah keharuan dan ketenangan dirasakan. Sepertinya Tuhan menegurku. "Ke mana sajakah engkau? Masihkah engkau tinggal di dalam firman-Ku?". Diri ini hanya bisa terdiam dan air mata terus mengalir. "Ampuni hamba-Mu ini ya Tuhan, yang mungkin lalai dan tidak mengabaikan Engkau." Waktu terus berlalu. Di sanalah hati ini merasa lega. Sangat lega. Terima kasih Tuhan atas pembelajaran-Mu.

#NR27062017

Selasa, 16 Mei 2017

Jika Aku (bisa)

Jika Aku...

Jika aku bisa
Akankah ku pilih?
Tempat lahirku?
Sukuku?
Negara tempatku?
Bahkan agama awalku?
Andai bisa
Tapi tidak

Apakah pilihanku
Lahir di negeri ini?
Bermata seperti ini?
Berkulit seperti ini?
Beraksen suara seperti ini?
Andai iya
Tapi tidak

Apakah kau juga bisa memilih?
Sama sobatku, andai kau bisa
Tapi tidak
Kita tidak bisa memilih
Dan itu bukanlah pilihan kita

Usahlah kau hakimi apa yang kita tidak bisa pilih
Usahlah perdebatkan apa yang kita tidak bisa pilih

Ah sudahlah
Mungkin bagimu ini hanya retorika belaka
Susahlah kalau hati panas
Harusnya kepala panas supaya bisa merenung
Hati harus tetap dingin supaya menyejukkan
Ah sudahlah...

#NR16052017

Selasa, 09 Mei 2017

Gelap Suram

Runtuh
Runtuhlah sudah
Pilar keadilan
Remuk sudah
Keropos oleh tekanan massa
Oh dewi keadilan
Kenapa dikau gemetar
Kemana lagi kami berlindung?
Meratap menatap
Suramnya jalan keadilan
Gelap pekat
Suram

#NR09052017

Kamis, 27 April 2017

Gugurlah Sudah

Gugurlah sudah
Sudahlah gugur
Tidak!
Tidak sekali-kali
Sekali-kali tidak!
Biji sesawi sudahlah mati dalam tanah
Bertumbuh menjadi pohon yang besar
Satu gugur ribuan mekar
Selaksa barisan terbangun tidur
Bersiap
Bersedia
Bara kebenaran telah berkobar
Menyala sanubari
Siapa gerangan sanggup padamkan?
Tidak!
Sekali-kali tidak
Bara kebenaran telah berkobar
Selaksa barisan telah bangun
Bersiap
Bersedia
Demi ibu pertiwi!
Demi kebenaran!
Membungkam kelaliman!
Siapa gerangan sanggup padamkan?
Malam gelap usah kau takuti
Cahaya purnama bersinar terang!
Selaksa barisan telah bangun!
Bersiap
Bersedia
Demi empat pilar!
Demi ibu pertiwi!
Demi Indonesia jaya!

NR27042017

Rabu, 26 April 2017

Suara Ditakuti

Suara Ditakuti

Suara ditakuti
Bukan gelegar tiada makna
Bukan koar menakuti
Tidak gila hormat dan pengakuan
Tidak memaksa kehendak diri
Suara ditakuti
Mengalir dari mata hati
Perlahan membakar kalbu
Menggetarkan sanubari rasa
Menyentuh hati membuka pikir
Menggerakkan
Membakar membara
Melintas jaman
Suara ditakuti
Berbisik dalam relung hati
Dihormati bukan ditakuti
Ah sayang beribu sayang
Insani lebih rela ditakuti

#NR26042017