Tepian dermaga
Setarik rona senyum
Terdiam terpaku daku
Rasa pun mengakar
Berdetak degup
Waktu tertawai diam
Inikah? Ah...
Kau pun menjauh dermaga
Kan kah labuh jangkar
Mentari pun berangsur tidur
Bayanganmu semakin jauh
#NR26072017
Tepian dermaga
Setarik rona senyum
Terdiam terpaku daku
Rasa pun mengakar
Berdetak degup
Waktu tertawai diam
Inikah? Ah...
Kau pun menjauh dermaga
Kan kah labuh jangkar
Mentari pun berangsur tidur
Bayanganmu semakin jauh
#NR26072017
Pada sore itu, dalam sesi Silent Prayer, 'ku berjalan dalam bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ku berjalan ke ujung rumah retreat, melihat hamparan tanah lapang berumput sedang di sana. Pandangan ini terhenti pada sebatang pohon yang sepertinya berbeda sendiri. Di sekeliling hamparan itu mayoritas adalah pohon kelapa sawit kecil dan rerumputan saja. Sebatang pohon itu memberi nuansa tersendiri. Hati ini merenung, betapa kadang tidak berani berbeda sendiri. Betapa kadang lebih suka didikte oleh dunia. Ah Tuhan, terima kasih atas pembelajaran kecil ini.
Setelah berdiam sejenak di sana, berjalan balik lagi dan berjalan ke samping rumah retreat. Di sana masih terlihat pohon itu. Berdiam sejenak di sana. Kemudian berjalan lagi. Menuju ke bundaran yang terdiri dari sembilan pilar. Di setiap pilar ada tertulis buah Roh Kudus seperti yang ada dalam Galatia 5:22. Duduk di dalamnya, bersandar pada salah satu pilar sambil melihat latar bukit. Ah sungguh menakjubkan karya-Mu Tuhan. Menengadah ke atas, dan mata ini terdiam melihat tulisan pada bentangan pilar. Tulisan itu adalah kutipan ayat Alkitab.
"Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yoh 8:31-32)
Dan ketika melihat ke belakang, melihat tulisan pada pilar tempatku bersandar, di sana tertulis kata SUKACITA.
Apa makna semua ini? Hatiku membatin.
Setelah dari sana, berjalan lagi. Berjalan dan berjalan. Akhirnya melintas gereja dan memutuskan masuk ke dalamnya. Mengambil tempat duduk di bangku belakang. Di sana entah kenapa, rasanya hanya ingin berdiam diri. Berdoa dalam keheningan kepada-Nya. Tanpa terasa, air mata mulai menetes. Sebuah keharuan dan ketenangan dirasakan. Sepertinya Tuhan menegurku. "Ke mana sajakah engkau? Masihkah engkau tinggal di dalam firman-Ku?". Diri ini hanya bisa terdiam dan air mata terus mengalir. "Ampuni hamba-Mu ini ya Tuhan, yang mungkin lalai dan tidak mengabaikan Engkau." Waktu terus berlalu. Di sanalah hati ini merasa lega. Sangat lega. Terima kasih Tuhan atas pembelajaran-Mu.
#NR27062017