Jumat, 02 Oktober 2015

Jangan Ulangi Kesalahan Kami

"Jangan Ulangi Kesalahan Kami"

Sejarah adalah sejarah. Sekelam apapun, sehitam apapun noda yang tergores pada kanvas sejarah, itu memang tak kan bisa dihapus. Sejarah tidak memposisikan diri untuk mencari siapa salah siapa benar. Ianya menyajikan peristiwa yang terjadi. Bukan untuk diratapi terus, bukan pula untuk euforia berkepanjangan.

Sejarah memang tidak untuk dilupakan. Sejarah mengingatkan kita. Sejarah mewanti-wanti kita yang ada di masa sekarang yang akan menapaki masa yang akan datang. Sejarah ingin berkata: "Wahai kalian-kalian yang menapaki masa-masa yang akan datang, janganlah kalian mengulangi kesalahan kami."

Namun seringkali kita hanya melihat sejarah hanyalah peristiwa yang sudah berlalu yang tidak secara langsung berpengaruh pada kita di masa kini. Kita seringkali hanya melihat jikalaupun ada kesalahan-kesalahan yang dilakukan para pelaku sejarah, mungkin mereka sudah dihakimi baik oleh hati nurani, sosial maupun hukum. Jikalaupun ada yang perlu dimaafkan, mungkin sudah dimaafkan.

Kita lupa apa yang disuarakan sejarah, "Jangan ulangi kesalahan kami! Jangan ulangi kesalahan kami!". Dan akibatnya kita selalu dan selalu mengulangi kesalahan yang sama.

Kesalahan paling fatal yang sering bahkan selalu kita ulangi adalah kita begitu mudah diadu domba. Terlepas dalam mengatasnamakan apapun baik suku, golongan, ras, maupun agama. Eksklusivitas seringkali dijadikan senjata pemecah belah. Bukankah itu seringkali disuarakan sejarah? "Jangan ulangi kesalahan kami!".

Mungkin kita lupa. Mungkin kita tidak tahu. Mungkin juga kita cuek. Kita kurang atau cenderung menganggap angin lalu apa yang disuarakan sejarah, "Jangan ulangi kesalahan kami! Tidakkah kalian sudah melihat akibatnya? Mengapa kalian tidak mau belajar darinya?"

Ingatlah, sejarah ingin kita belajar darinya. "Jangan ulangi kesalahan kami!", suara yang selalu digaungkan sejarah.

Maukah kita belajar dari sejarah?
Ataukah terus cuek dan masa bodoh?

#JedaSejenak.
#NR30092015

posted from Bloggeroid

Rabu, 23 September 2015

Napas Bukan Kipas

Napas Bukan Kipas

Kabut ribut sibuk
Sibuk asap diapi
Api dikipas diangin
Semprot kambing
Kambing hitam,
"Duh Gusti.. apa salahku?"
Kuping berasap
Koar berbalas koar

Cukup! Diamlah!
Kami sudah sesak
Cukuplah sudah sesak
Usah sesak kuping kami

Cukup! Diamlah!
Napas kami butuh
Bukan kipas
Kami butuh napas
Kami butuh napas
Hening
Sepi
Sunyi
Habis sudah napas
Hening

#NR23092015

posted from Bloggeroid

Senin, 21 September 2015

Menjemput Senja

Menjemput Senja

Ada tanya tak berjawab
Bimbang ragu mengganggu
Harap berkobar bara
Menanti pulang jawab tanya
Ada janji tuk tepati
Ada tugas belum usai
Melangkah maju tiada ragu
Menangkap harap tiada pupus
Sampai masa menjemput senja

#NR21092015

posted from Bloggeroid

Jumat, 11 September 2015

Utopia di Senja Negeri

Utopia di Senja Negeri

Katanya ya katanya
Permadani hijau nan luas
Tempat bermain satwa dan primata
Tempat bernyanyi merdunya burung

Katanya ya katanya
Samudera biru nan luas
Tempat selancar fauna lautan
Tempat istirahat aneka karang

Katanya ya katanya
Zamrud khatulistiwa berkilauan

Ya alangkah kayanya negeri ini
Ya alangkah melimpahnya karunia Tuhan bagi negeri ini

Namun sayang beribu sayang
Jelata tak menikmatinya
Hanyalah dongeng bagi jelata
Kemakmuran kesejahteraan
Hanyalah untaian kata-kata indah
Dongeng indah dalam buku
Utopia di senja negeri

#NR20150911

posted from Bloggeroid

Jumat, 17 Juli 2015

Melangkahlah

Melangkahlah

Menyuapi yang tak berpangan
Menyelimuti yang tak bersandang
Memayungi yang tak berpapan

Mengobati yang terluka
Menguatkan yang lemah
Memberi harap yang putus asa
Menghibur yang berduka
Mendengar yang tersudutkan
Merangkul yang terabaikan
Menopang yang lelah

Biarkan mereka menari
Bersenandung
Tertawa ceria senyum sukacita
Jalani hari penuh pengharapan
Tidakkah kau ingin melihat senyum mereka?

Kenapa kau gentar hai jiwa
Kenapa kau takut hai hati
Berjalanlah melangkahlah
Bukankah Aku menyertaimu?

#NR11072015

posted from Bloggeroid

Sabtu, 11 Juli 2015

MyNote: "DIDIKAN"



DIDIKAN

"Masakan kita hanya mau menerima yang baik (baca : BERKAT) saja dari Tuhan, tetapi tidak mau menerima yang "jelek" (baca : DIDIKAN, TEGURAN, NASEHAT, HAJARAN) dari Tuhan?"

Kita sebagai manusia cenderung menginginkan keinginan kita selalu dipenuhi. Apa yang kita minta kepada Tuhan, kita maunya selalu dikabulkan.
Namun tatkala yang diberikan oleh Tuhan adalah hal yang "jelek" menurut kacamata manusia (atau mungkin jelek menurut kita sendiri karena tidak sesuai keinginan kita), kita cenderung bersungut-sungut. Kita umumnya marah sama Tuhan. Kita mulai menyalahkan Tuhan. Kita mulai menuntut: "Katanya Engkau baik, kenapa memberikan atau membiarkan hal ini yang terjadi?", "Di manakah Engkau Tuhan? Kenapa malah penderitaan ini yang aku dapatkan?",
"Aku melayani Engkau sepenuh hati, sepenuh jiwa, tetapi kenapa malah dapat hal yang jelek begini?", dan keluhan-keluhan lainnya.

Apakah benar Tuhan tidak peduli sama kita?
Apakah benar Tuhan mempermainkan kita?
Atau jangan-jangan Tuhan hanya mau memanfaatkan kita saja?
Berbagai pertanyaan tuduhan muncul di kepala kita.

Apakah benar hal-hal yang kita tuduhkan?
Kadang kita terlalu memaksakan ego dan keinginan kita. Kita selalu maunya apa yang kita pinta harus Tuhan kabulkan. Kita cenderung melihat bahwa kalau Tuhan itu baik berarti Dia harus mengabulkan semua hal yang kita pinta kepada-Nya. Kadang kita sampai lupa atau tidak sadar atau mungkin memang tidak tahu bahwa ada hal-hal yang kita pinta itu sebenarnya adalah RACUN yang kita kira adalah MADU. Tatkala Tuhan memberikan MADU yang sesungguhnya, kita justru menganggapnya sebagai RACUN. Itulah salah satu hal yang sering tidak kita sadari.

Coba kita lihat terlebih dahulu konteks seorang ayah (orangtua) dengan anaknya. Adakah orang tua yang tidak sayang anaknya?

Setiap orang tua (yang baik dan bertanggungjawab) pasti akan memberikan yang terbaik bagi anaknya.
Seorang ayah atau ibu tahu apa yang baik bagi anaknya. Tatkala sang anak merengek-rengek minta sesuatu, belum tentu sang ayah atau sang ibu pasti mengabulkan permohonan sang anak.
Saat sang anak melakukan salah, tidak jarang ayah atau ibunya juga akan menghukum atau menghajar anaknya.
Tentu bagi sang anak, akan terasa sakit dan sepertinya orang tuanya sudah tidak sayang lagi sama dia. Namun seiring waktu, sang anak kelak akan mengerti mengapa ia dihukum (mungkin dipukul dengan rotan, dan lain sebagainya) tatkala ia melakukan kesalahan. Namun di jaman sekarang, kadang anak terlalu dimanja sehingga meskipun sang anak ada melakukan salah, orang tua tidak menghukum malah cenderung mengabaikan. Dibiarkan saja. Tanpa disadari sedikit banyak hal ini kelak akan membentuk bagaimana anak ini.

Bukankah seorang ayah akan menghajar anaknya jikalau anaknya salah?

Seorang anak yang tidak pernah dihajar oleh orang tuanya cenderung menjadi anak yang manja. Ia bisa menjadi cengeng ataupun liar tidak terkendali. Apakah orang tua jaman sekarang menyadari akan hal ini?

Demikian juga dengan anak yang apapun keinginannya selalu dipenuhi oleh orang tuanya. Bahkan mungkin tugas atau pr dari sekolah saja sampai orang tua atau pembantu yang kerjakan. Pokoknya jangan sampai sang anak menangis. Tidak tahu juga apakah ada orang tua yang mendidik anaknya seperti itu. Sang anak selalu dilayani. Apapun yang diminta pasti dipenuhi. Tinggal meminta saja. Istilah kerennya mungkin ongkang-ongkang kaki saja, tidak perlu susah-susah berusaha karena tinggal minta saja. Tugas sekolah ada yang bisa kerjakan, dan lain sebagainya.

Mungkinkah sang anak akan menjadi kuat dan mandiri kalau tahunya hanya meminta berkat dari orangtuanya saja?
Mungkinkah sang anak bisa mandiri kalau selalu dimanja? Mau ini dikasih, mau itu dikasih. Pokoknya kalau mau apa aja pasti dikabulkan.
Apakah benar cara mendidik anak seperti itu?
Begitukah cara orangtua yang baik mendidik anaknya? Tidak bukan?!

Jikalau kita saja tahu bahwa tidak semua keinginan anak harus kita penuhi, apalagi Tuhan kita.

Kalau orangtua kita tidak menghajar kita, mungkinkah kita jadi orang?

Orang tua menghajar kita karena mereka sayang dengan kita. Mereka ingin kita bisa mandiri dan bisa jadi orang.

Demikian juga dengan Tuhan kita!
Dia menghajar kita karena Dia sayang sama kita.

Bersyukurlah kalau Dia masih mau mendidik dan menghajar kita.

Karena akan tiba waktunya, Dia tidak lagi menghajar dan mendidik kita yaitu saat penghakiman itu datang, ya saat kedatangan-Nya yg kedua kali.

Jadi terimalah didikan, ajaran, teguran, dan hajaran dari Tuhan karena itulah yang membuat kita bisa tumbuh dari bayi rohani yang lemah dan tak berdaya menjadi anak-anak Tuhan yang kuat dan tidak cengeng.

Janganlah kita terus menjadi bayi-bayi rohani yang cengeng !!

Kiranya Tuhan memberkati.

#NR27012010

I Have A Dream



I HAVE A DREAM

Suatu ketika...
Aku melihat ada senyuman manis...
Ya aku melihat rona kebahagiaan terpancar di wajah mereka...
Aku mendengar tawa bahagia mereka...
Aku juga mendengar tangis bahagia mereka...
Aku merasakan ya aku merasakannya...
Kehangatan cinta kasih mereka...
Persaudaraan yang hangat...
Aku juga melihat ya aku melihat semangat mereka menggapai cita...
Tatapan mata yang penuh keyakinan dan pengharapan...
Ya pengharapan kepada Dia dan di dalam Dia...
Ya sungguh kulihat sukacita mereka...
Menatap hari-hari penuh harapan...
Akankah ini nyata?

Badan mereka lusuh dan kotor...
Mengais-ngais demi sesuap nasi...
Bayi-bayi dalam dekapan menangis lapar sampai kering air matanya...
Menatap hari depan yang tak pasti...

Mereka perlu kasih Allah yang besar.
"Tidakkah engkau peduli?", suara itu bergema.
"Siapakah yang akan Ku utus?", semakin keras dan kuat bergema suara itu.

#NR..082009

Sabtu, 27 Juni 2015

Terhempas Keraguan

Terhempas Keraguan

Kupejam mata
Tiada dapat
Bergejolak tanya
Sanubari bimbang
Ada apa gerangan

Rasa ini
Kau tahu
Tiada sanggup
Terucap
Ku ingin kau tahu
Rindu ini
Kehampaan ini
Tiada yang lain
Hanya dikau seorang
Tiada yang lain
Duhai jelita

Kau diam
Meninggalkanku dalam bimbang
Terhempas ombak keraguan
Diam tanpa suara
Diam dengan sejuta tanya
Ada apa gerangan


#NR25062015
posted from Bloggeroid

Rabu, 24 Juni 2015

Setia Menyapa

Setia Menyapa

Fajar...
Menelan gulita malam
Menyingsing mentari pagi
Menyapa menyemangati hari

Senja...
Menghantar mentari ke peraduan
Menyambut sang putri rembulan
Bersenandung cerita hari

Fajar dan senja
Tiada pernah berhenti
Setia menyapa
Setia bersenandung
Setia mengiringi hari

Bilakah fajar dan senja kan berhenti
Berhenti tuk menyapa
Berhenti tuk bersenandung
Berhenti tuk mengiringi hari

Mungkin
Tatkala lelah dengan mentari
Tatkala lelah dengan rembulan
Mentari yang acuh
Melangkah pergi meninggalkan fajar
Rembulan yang tiada pernah menyapa senja
Tapi
Fajar dan senja
Tak kan pernah berhenti menyapa
Tak kan pernah berhenti bercerita
Tak kan pernah berhenti bersenandung
Fajar dan senja kan setia selalu

Fajar...
Menelan gulita malam
Menyingsing mentari pagi
Menyapa menyemangati hari

Senja...
Menghantar mentari ke peraduan
Menyambut sang putri rembulan
Bersenandung cerita hari


#NR24062015

posted from Bloggeroid

Sabtu, 13 Juni 2015

Bukan Kaca

Bukan Kaca

Kau anggap kami sansak
Nyatanya kami trampolin
Kami bukan kaca
Kami adalah air
Kami adalah karang, bukan gundukan pasir
Ombak tak kan menyapu kami

Kami teraniaya
Kami tertindas
Kami tertekan
Tapi tidak jiwa kami

Kami terluka
Tubuh kami berdarah
Kulit kami melepuh
Tapi tidak hati kami

Jiwa kami berkobar bersama kebenaran
Hati kami telah takluk kepada keadilan
Kebenaran dan keadilan 
Itulah nafas kami

Kami tiada 
Api kan tetap berkobar
Api kan tetap berkobar!
Kebenaran dan keadilan
Itulah nafas kami

#NR13062015

MyNote: "Semua Hanya Anugerah-Nya"



MyNote: "Semua Hanya Anugerah-Nya"

"... siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:35-36)

Seringkali kita berpikir Tuhan itu baik. Tentu Dia akan memberikan apapun yang kita minta kepada-Nya. Namun kalau Tuhan tidak mau mengabulkan bagaimana?
Kalau Tuhan seakan-akan tidak mau menjawab doa kita bagaimana?

"Tuhan, bukankah Engkau sendiri yang berjanji akan memberikan kepada yang meminta? Tapi kok Tuhan tidak menepati janji sih."

Kadang kita memang seringkali berpikir demikian. Kadang kita sering berpikir seperti seorang anak kecil yang meminta sesuatu kepada bapanya. Kita kadang "menuntut" Tuhan harus mengabulkan permintaan kita, seakan-akan Tuhan itu punya hutang sama kita.
Kadang kita juga merasa bahwa kita telah melakukan sesuatu (katakanlah pelayanan bagi Tuhan, dan lain sebagainya seperti memberi persembahan, dan sebagainya), sehingga Tuhan harus membalas jasa atas apa yang telah kita lakukan bagi-Nya. Namun apakah benar demikian adanya?

Coba kita pikirkan baik-baik.
Apakah kita yang telah melakukan sesuatu bagi Tuhan sehingga Tuhan berkewajiban membalas budi atas apa yang telah kita lakukan bagi-Nya?
Atau bukankah sebaliknya, Tuhan sendiri yang telah terlebih dahulu melakukan sesuatu bagi kita sehingga kita yang meresponinya dengan melakukan pelayanan bagi Dia sebagai ungkapan syukur kita kepada-Nya?
Mana yang benar?

Apa yang telah Tuhan lakukan bagi kita?
Pandanglah akan salib Kristus.
Itulah kasih terbesar Yesus bagi kita.

Apa yang kita miliki, semua hanya karena anugerah-Nya semata, termasuk juga panggilan kita, bukan karena sebagai upah atas usaha kita, bukan juga sebagai balas jasa karena kita telah mengerjakan sesuatu bagi Dia, sehingga janganlah kita memegahkan diri kita.

Jika Dia mau memakai kita menjadi alat saluran berkat-Nya, itu semata-mata hanya anugerah-Nya. Bukan karena kecakapan, kepandaian, atau keahlian kita. Sudahkah kita menyadari akan hal ini?

Setelah tahu, apa yang akan Anda lakukan? Lari atau makin giat? Pikirkanlah sobat!


#NR10092009

Senin, 08 Juni 2015

MyNote: "Kegagalan adalah kegagalan. Benarkah?"

"Kegagalan adalah sukses yang tertunda." Tentunya kita sudah seringkali mendengar akan hal ini. Apakah hal ini sepenuhnya benar? Ada benarnya namun tidak sepenuhnya benar.

Bagaimanapun juga kegagalan bukanlah sukses yang tertunda. Kegagalan adalah kegagalan. Kegagalan bukanlah kesuksesan. Keduanya tidaklah sama.
Intinya kegagalan ya kegagalan. Sampai di sini persoalan selesai. Kisah selesai. Titik.

Bagaimana Anda memulai perjalanan berikutnya dari titik kegagalan tersebut adalah persoalan yang lain. Dan itu adalah chapter selanjutnya dari hidup Anda.

Ada yang memilih hidup dalam ratapan; Ada yang memilih menjalani dan mencoba melupakan;
Ada juga yang menjalani dan menjadikannya sebagai cambuk motivasi dan pembelajaran. Namun ada pula yang betul-betul terpuruk karena kegagalan itu. Mereka tidak mampu bangkit setelah mengalami kegagalan.

Kita bisa mengambil contoh di Alkitab. Kita ambil saja kisah Petrus dan Yudas Iskariot. Dua dari dua belas murid Yesus. Apa persamaan keduanya? Mereka sama-sama gagal. Namun ada perbedaan besar di antara keduanya. Yang satu terpuruk dan tidak mampu bangkit lagi. Yang satu terpuruk tetapi akhirnya bangkit lagi dan dipakai dengan luar biasa oleh Tuhan.

Ketika Yudas Iskariot mengkhianati Yesus, sebenarnya ia menyesali kesalahannya itu. Namun sangat disayangkan dia hanya sampai di sana saja. Yudas terpuruk tapi ia tidak berbalik. Ia memilih mengakhiri hidupnya. Akhir kisah yang tragis.

Sementara itu, Petrus juga mengalami kegagalan terbesar dalam hidupnya. Ia menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Padahal sebelumnya dengan lantang Petrus berkata bahwa sekalipun iman para murid yang lain tergoncang, ia sekali-kali tidak akan tergoncang dan tidak akan meninggalkan Yesus. Namun pada kenyataannya Petrus justru menyangkal Yesus. Bahkan sampai tiga kali. Petrus menyesali kesalahannya. Namun ia tidak terpuruk terus. Petrus berbalik dan akhirnya dipakai dengan luar biasa oleh Tuhan.

Dua orang yang sama-sama gagal. Namun chapter selanjutnya yang bertolak belakang. Yang satu betul-betul gagal. Yang satu berdampak luar biasa.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita mau seperti Yudas Iskariot atau Petrus? Anda sendiri yang memutuskan.

#NR08062015

posted from Bloggeroid

Selasa, 02 Juni 2015

MENANTI


MENANTI

Gejolak rasa tak terperih
Terperangkap relung kedalaman jiwa
Sunyi tanpa suara
Sepi berteman malam

Asa melambung menggapai bintang
Senyum merekah di dasar jiwa
Menebar asa sejuta asa
Menari diam di telaga kesunyian
Menanti asa bertepuk bimbang

#NR15022010

RINDU



RINDU

Kosong dan hampa
Sunyi dan sepi
Ada dan tiada
Penuh keraguan

Aku begitu takut
Begitu lemah
Tiada kekuatan
Penuh kebimbangan

Berjalan sendiri di lorong gelap
Sunyi dan sepi
Berjalan, berjalan, dan berjalan
Berlari, terus dan terus dan terus

Ku tak mampu lagi
Hilang sudah tenagaku
Cahaya tak kunjung nampak
Kutersungkur, terdiam, terbisu
Ingin rasanya mengakhiri
Tetapi tak kuasa
Jalan masih panjang

-10-12-2006-

----- 
#RefleksiKehidupan :
Ini adalah mengenai kehidupan manusia, pencarian akan arti dan tujuan hidupnya di dunia ini.
Bertanya, bersandar, dan mencari pada diri sendiri tidak akan menemukan jawabannya.
hanya berujung pada kekecewaan dan keputusasaan.
Lalu harus bagaimana?
Bertanyalah dan bersandarlah kepada Penciptamu.
Hanya Dia yang bisa memberikan jawaban kepadamu.
Hanya Dia yang bisa menuntun langkahmu dan menjaga engkau.
Hanya Dia yang bisa menolong, menopang, dan memberi engkau kekuatan.

Masihkah engkau bertanya, mencari, dan mengandalkan kekuatanmu sendiri?
Pilihan ada di tangan Anda!