Minggu, 06 Juli 2014

CERITA LAMA



CERITA LAMA

Mengepak sayap menerjang angin.
Menatap tajam menerawang jauh ke dalam pepohonan.
Menukik melesat cepat menyambar mangsa.
Semua gentar semua takut semua takjub.
Namun itu adalah cerita lama.
Cerita lama sekali.
Kini kau hanya bisa mengiba memohon belas kasihan.
Ya inilah hidup.
Ada saat engkau berkuasa.
Ada saat engkau melarat.
Jikalau hanya kekuasaan yang kau cari, sungguh kasihan.
Bawalah damai dan tebarkan kasih, kau akan bahagia.

#NR07072013

BANGKIT!



BANGKIT!

Di mana semangat itu?
Mengapa kau kini diam seribu diam?
Di mana semangat perjuanganmu itu?
Sudahkah itu pudar oleh kenyamanan yang kau dapatkan?
Apakah kedudukan, harta, kekuasaan telah menutupi semangat perjuanganmu?
Ayolah kawan, jalan perjuangan itu masih panjang!
Ayolah kawan! Bangkit!
Bangkrutkan kemalasan dan kenyamananmu!
Demi perjuangan menuju keadilan sesungguhnya!
Demi perjuangan menuju kesejahteraan sesungguhnya!
Demi ibu pertiwi!
Demi bangsa ini!
Ayolah kawan! Bangkit!

#NR07072013

TEGAR (DEMI)



TEGAR (DEMI)

Tegar tegarlah sobat!
Mereka memang hanya bisa mencemooh.
Mereka tidak mengerti!
Mereka tidak melihat apa yang dikau lihat!
Mereka tidak melihat apa yang kita lihat di balik tembok waktu di sana!

Mereka tidak mengerti, kadang kita juga tidak mengerti!
Untuk apa semua usaha ini!
Untuk apa semua perjuangan ini?!
Kadang kita terlindas oleh keraguan itu...

Bangun! Bangun saudaraku!
Kita teruskan perjuangan ini!
Karena kita berjuang untuk mereka yang tidak kita kenal,
mereka yang tidak akan kita saksikan kehadirannya di dunia ini...
Karena kita juga tidak dikenal oleh mereka yang dulu memperjuangkan dunia kita hari ini..
Ya mereka yang hidup di jaman sebelum kita..

Bangun! Bangkit!
Teruskan perjuangan ini!
Demi mereka yang tidak kita kenal...
Demi mereka generasi-generasi emas!

#NR07072013

‘Tuk Sebuah Alasan



‘Tuk Sebuah Alasan

Tanya tak berjawab
Teriak tak bersuara
Samar-samar ufuk timur

Tanya tak berjawab
Teriak tak bersuara
Terik mentari di ubun-ubun

Tanya tak berjawab
Teriak tak bersuara
Horison senja di ufuk barat
Mentari kan tertelan malam

Terhenti sejenak
Langkah tergoyah
Diam dalam semilir angin senja

Segera berlari (lagi)...
Tanya terus tanya
Teriak terus teriak
Tuk sebuah alasan
Karena malam belum tiba

Tanya terus tanya
Teriak terus teriak
Tuk sebuah mimpi
Mimpi besar kita!

#NR22072013

JANGAN



JANGAN

Tertindas jangan menindas
Tertawan jangan melawan
Terkungkung jangan mengungkung
Teraniaya jangan menganiaya

Wahai yang duduk di atas kursi tinggi...
Ingatlah!
Kaki tiang penyokongmu itu berdiri di atas mereka yang teraniaya...
Mereka yang tertindas...
Mereka yang terkungkung...
Mereka yang tertawan...

Ingatlah!
Ketika yang teraniaya...
Ketika yang tertawan...
Ketika yang terkungkung...
Ketika yang tertindas...
Sudah lelah.. lelah dan lelah...
Kaki tiang itu akan goyah dan remuk...

Tertawalah dan berfoyalah wahai dikau yang di atas kursi sana...
Karena akan ada waktunya kau tidak mampu tertawa lagi!
Akan ada masanya, kau ditertawakan...
Tertawan oleh tawamu sendiri...
Teraniaya oleh tawamu sendiri...
Terkungkung oleh tawamu sendiri...
Tertindas oleh tawamu sendiri...

Tertindas jangan menindas
Tertawan jangan melawan
Terkungkung jangan mengungkung
Teraniaya jangan menganiaya
Kau tak akan ada bedanya dengan mereka...

#NR13072013

Sudut Terpencil



Sudut Terpencil

Adakah tawa di dalam tangis?
Adakah tangis di dalam tawa?
Tidakkah mentari ada di balik kegelapan awan?
Tidakkah setelah hujan kan ada pelangi?
Tidakkah setelah badai kan ada hari cerah?

Mengapa diam tawa pora
Mengapa sunyi nyanyian pesta?
Mengapa lesu wajah angkuh
Mengapa?
Tidak bisa berpesta lagikah wahai kalian raja-raja?
Masa kalian telah usai!
Ratapilah ya ratapilah...
Sebelum kalian terdepak...
Sebelum kalian tersepak...
Ke sudut-sudut terpencil...

#NR09062013