Rabu, 27 Mei 2015

Mungkin

Mungkin

Jingga horison senja
Camar menari-nari
Gemuruh riuh tabuhan ombak
Bergelora sejuta tanya
"Di mana keadilan hidup ini?"

Dalam sunyi sepi
Berbisik tanya pasir bisu
Tanya untuk sebuah jawab
Selaksa alasan membungkus jawab
Sejuta bingung melanda kalbu
"Mengapa Tuhan?"

Lapis demi lapis
Detik berdetak menit
Hari menggenap minggu
Minggu bersalin bulan
Bulan berganti tahun
Tanya tetap hanyalah tanya

Lelah
Lelah 'tuk bertanya
Lelah 'tuk menerka
Lelah 'tuk alasan
Biarlah
Biarlah tanya tak berjawab
Mengembara di langit gelap
Berkelana di dinginnya malam
Mungkin sang waktu kelak kan menjawab.
Mungkin...

#NR27052015
posted from Bloggeroid

Minggu, 24 Mei 2015

MyNote: "Apalah Arti Seorang SAHABAT?"


MyNote: "Apalah Arti Seorang SAHABAT?"



Sahabat..
Mungkin justru adalah orang yang paling menjengkelkan bagi kita..
Mungkin justru adalah orang yang karenanya kita kadang merasa kecewa..

Sahabat..
Mungkin tak selalu ada disaat engkau perlu..
Mungkin ia tak mau memberikan pundaknya buat engkau menumpahkan kesedihanmu..
Mungkin ia seakan-akan meninggalkanmu sendirian menghadapi pergumulan beratmu..
Mungkin seakan-akan ia sudah tidak peduli lagi kepadamu..

Sahabat..
Mungkin tak banyak bicara saat engkau sepertinya ingin mendengar komentarnya tentang curhatmu..
Mungkin ia lebih banyak diam tanpa suara tatkala engkau ingin mendengar suaranya..
Mungkin sepertinya ia tidak mendengar keinginanmu..

Sahabat..
Mungkin tak seideal bayangan yang ada di benakmu..
Engkau mungkin merasa minder terhadap orang lain karena engkau mempunyai sahabat yang kelihatan tidak rupawan dan tidak berbobot..

Mengapa engkau jengkel?
Mengapa engkau kecewa?
Mengapa engkau minder?

Kadang engkau mungkin tidak akan memahaminya..
Kadang engkau mungkin tidak akan mengerti..
Kadang engkau mungkin berpikir lebih baik saya tidak mempunyai sahabat seperti itu..

Ya mungkin engkau akan merasa sangat-sangat kecewa..
Teramat kecewa..

Namun..
Tatkala sang waktu menyingkapkannya..
Tatkala sang waktu menyingkapkan tanda tanya besar itu untukmu..

Engkau baru sadar..
Engkau baru mengerti..
Engkau mungkin terkejut..
Engkau mungkin akan menangis malu dan terharu..
Engkau akan mengucap beribu syukur atas sahabatmu..

Kecewa dan jengkelmu itu berubah menjadi ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya..

Oleh ketegasan sahabat menasehati dan menegurmu dengan keras, engkau bisa menjadi orang yang berjalan di jalan benar..

Oleh ketidaksetujuannya akan hal-hal keliru yang hendak engkau kerjakan, engkau akhirnya baru sadar akan kealpaan dan kekhilafanmu..

Oleh karena kerasnya ia menolak keinginan-keinginanmu yang liar tak terkendali, engkau akhirnya bisa menjadi orang..

Engkau akhirnya sadar, kecewa dan jengkelmu tak ada gunanya..

Diamnya sahabatmu, ketidakpeduliannya yang engkau tuduhkan akhirnya berubah menjadi beribu ucapan terima kasih..

Oleh diamnya, ia ingin engkau mampu memikul bebanmu.. Ia ingin engkau tidak selalu bergantung pada orang lain.. Ia ingin engkau dapat bersandar kepada Tuhan..

Tahukah engkau, dibalik diamnya, ia senantiasa menopangmu dengan lututnya?
Tahukah engkau, siang malam ia mendoakan engkau?
Tahukah engkau, ia ingin engkau dapat bersandar kepada Dia, Tuhan semesta alam?
Akhirnya engkau tahu, oleh diamnya, engkau mampu untuk mandiri..

Dalam kesunyiannya, ketidakbersuaraannya..
Tuduhanmu bahwa ia tidak mau mendengarkanmu itu akhirnya berubah menjadi ucapan terima kasih dan tawa sukacita..

Dalam kesunyiannya, ia mendengar semua keluh kesahmu..
Dalam kesunyiannya, ia dengan sabar mendengar omelan dan celotehanmu yang tak bermakna itu..
Dalam kesunyiannya, ia juga membawa keluh kesah dan beban pergumulanmu melalui doa kepada Tuhan..
Dalam kesunyiannya, ia juga berpikir bagaimana untuk membantumu..

Kadang jauh setelah itu engkau baru sadar, mungkin waktu itu sahabatmu tidak memberi sepatah katapun atas keluh kesahmu..
Mungkin ia sepertinya tidak mendengar..

Lewat tindakan kasihnya dan karyanya yang nyata, engkau akhirnya sadar, itulah jawaban sahabatmu atas keluh kesahmu..

Lewat kesunyiannya itu juga, ia telah menyediakan dirinya sebagai pendengar yang baik untuk menampung keluh kesahmu.. Sehingga akhirnya hatimu menjadi lega..

Dalam "ketidakrupawannya" dan "ketidakberbobotannya" itu, tuduhan-tuduhan mata fisikmu itu akhirnya berubah menjadi kebanggaan bagimu karena memiliki sahabat seperti itu..

Dalam ketidakrupawan fisiknya, sahabatmu ternyata sangat rupawan hatinya.. Di saat engkau jatuh miskin, gagal, tidak mempunyai jabatan lagi, tidak rupawan lagi, mungkin teman-temanmu akan meninggalkan engkau.. Namun sahabat tetap peduli kepadamu.. Menerima engkau apa adanya.. Tidak pernah meninggalkanmu..Senantiasa memberi dukungan dan semangat kepadamu untuk bangkit..

Dalam ketidakberbobotannya, ternyata sahabat sangat bijak.. Tatkala teman-temanmu hanya memberi jawaban utk memuaskan telingamu saja meskipun kadang itu menjerumuskan engkau.. Sahabat tidak sungkan menegur dengan keras.. Ia tidak takut engkau menjadi marah kepadanya.. Karena ia tahu apa yang baik dan tidak baik untuk kamu lakukan.. Engkau akhirnya sadar tatkala engkau mengikuti anjuran teman-temanmu yang tidak bertanggungjawab, engkau menjadi hancur.. Engkau baru sadar, ternyata ketidakberbobotan sahabatmu justru menolongmu..

SAHABAT ADALAH MALAIKAT KECIL YANG TUHAN KIRIM BAGI KITA.

Apakah engkau memiliki sahabat seperti itu?
Apakah engkau adalah sahabat seperti itu?

-------------

Terlebih dari semua itu, ada satu sosok agung yang mau menjadi sahabat kita semua..
Ya SAHABAT SEJATI bagi kita semua..
Dialah Tuhan Yesus Kristus.
Dia adalah Tuhan, namun Dia mau menjadi sahabat kita, manusia yang berdosa ini.
(Mat 11:19, Luk 7:34, Yoh 15:14-15).

Ini adalah anugerah yang besar.
Dia mau menjadi sahabat Anda.
Maukah engkau?


#NR17032010

MyNote: "Anak Sulung Atau Anak Bungsukah Kita?"



MyNote: "Anak Sulung atau Anak Bungsukah Kita?" 
--------------------------------------------------------------------
Perumpamaan Tentang Anak Yang Hilang (Lukas 15:11-32)
--------------------------------------------------------------------
 

Dalam perumpamaan tentang anak yang hilang, ada 3 tokoh utama yaitu bapa, anak sulung, anak bungsu.
Ada beberapa poin penting yang dapat saya tangkap dari perumpamaan ini :
- KELUARGA
- PERTOBATAN
- KASIH
- KEEGOISAN MANUSIA

Dalam perumpamaan ini, fokus utama sepertinya kepada si anak bungsu. Jikalau dilihat sepintas lalu, sepertinya si anak bungsu lah yang paling mendapat perhatian dari awal sampai akhir kisah. Memang penekanannya lebih kepada anak bungsu. Namun bukan berarti anak sulung tidak mendapat perhatian. Mungkin inilah sebabnya kenapa bisa timbul penafsiran bahwa "semakin berdosa, semakin dikasihi Tuhan".

Namun coba diperhatikan baik-baik konteks keseluruhan kisah, apakah betul penafsiran tersebut? Jawabannya jelas SALAH BESAR! Itu adalah jebakan iblis!

Coba perhatikan baik-baik bagaimana kisah hidup si anak bungsu setelah ia meminta hak warisannya dan menghambur-hamburkan uangnya, hidupnya menderita. Tiada pengharapan.
Ini sebenarnya menunjukkan bagaimana hidup kita jika jauh dari Tuhan.
Anak bungsu ini kemudian sadar betapa bodohnya ia. Dia menyesali perbuatannya (ayat 17-19). Apakah hanya menyesal saja? Tidak, dia memutuskan kembali kepada bapanya, mengakui segala kesalahannya dan mencoba meminta menjadi orang upahan bapanya (dia merasa tidak layak jadi anak lagi). Inilah penyesalan dan pertobatan.

Mungkin jika kita hanya pikir secara dangkal sampai di sini saja, kita cenderung akan menarik kesimpulan seperti statement yang salah di atas. Jikalau dimaknai dengan serius, pernyataan "semakin berdosa, semakin disayang Tuhan", sebenarnya justru menunjukkan keegoisan manusia. Manusia tidak menyadari apa dosa yang telah dilakukannya. Justru sebenarnya membangga-banggakan dosanya. Membingungkan?
Coba deh dipikir, apakah mungkin Allah yang Mahakudus mengasihi dosa? Allah mengasihi manusia, bukan dosa. Dia ingin manusia lepas dari dosa bukan semakin terbelenggu dalam dosa. Jikalau pemikiran bahwa agar semakin dikasihi Allah, kita harus semakin berbuat dosa, berkembang dalam pikiran saudara/i, sebenarnya saudara/i sedang jatuh semakin dalam ke jurang maut. Saudara/i justru akan semakin jauh dari Allah, bukan mendekat kepada Allah. Bukan semakin dikasihi Allah.
Coba lihat si anak bungsu, apakah ia membanggakan dosa-dosanya, apakah ia semakin melakukan dosa? Tidak bukan?! Satu-satunya titik balik dalam hidupnya adalah penyesalan dan berbalik kembali kepada bapa.
Jikalau si anak bungsu tidak menyesal dan justru semakin terjerumus ke dalam jalan hidupnya yang salah itu, dapatkah saudara/i bayangkan akhir hidupnya? Semakin tiada pengharapan bukan?!
Saat ia berbalik, menyesal dan bertobatlah baru ia mendapatkan pengharapan.

Allah ingin saudara/i berbalik meninggalkan dosa dan kembali kepada-Nya.
Apa artinya berbalik meninggalkan dosa?
Itu artinya bertobat, mengakui segala dosa-dosa kita, dan berjanji tidak melakukannya lagi. Hidup seturut kehendak Allah. Hidup di jalan Allah.
Ada perubahan hidup yang nyata. Hidup yang diubahkan. Tidak lagi mengasihi dosa, tetapi membenci dosa. Adanya kasih yang sungguh-sungguh terhadap sesama.

Menarik sekali statement tentang "jika tidak berbuat dosa, itu bukan manusia namanya".
Benar juga statement ini. Memang tidak ada manusia yang tidak berbuat dosa, semua manusia telah jatuh ke dalam dosa (Roma 3:23).
Jadi adakah manusia yang tidak berdosa? Adakah orang-orang yang rajin ke gereja, rajin melayani Tuhan, hidupnya saleh, tidak berbuat dosa?
Adakah manusia yang lebih baik dari manusia lainnya?
Inilah yang harus kita pahami dari si anak sulung.
Dia sebenarnya juga terhilang di rumah, karena dia sebenarnya tidak menyadari siapa dirinya.
Banyak dosa-dosanya yang tidak dibereskan. Iri hati dan dengki adalah salah satunya.
Dosa dalam hatilah yang paling berbahaya dan mesti segera dibereskan.
Si anak sulung juga tidak memahami kasih di dalam keluarga.
Ayat 30 cukup menarik. Bagaimana si anak sulung bisa tahu bahwa si anak bungsu memboroskan uangnya bersama-sama para pelacur?
Padahal di ayat 13 hanya dikatakan si anak bungsu pergi ke negeri yang jauh, dan memboroskan hartanya dengan hidup berfoya-foya. Tidak dikatakan bersama pelacur-pelacur. Jadi kita bisa nampak sikap iri hati dan dengki dari si anak sulung.
Seharusnya si anak sulung ikut berbahagia karena adiknya telah kembali dan bertobat.
Dia juga seharusnya bisa mensyukuri bahwa hidup bersama bapa sungguh baik jikalau ia melihat pengalaman hidup adiknya yang menderita, tiada pengharapan saat meninggalkan bapanya.
Bukankah harusnya si anak sulung justru bersyukur atas pemeliharaan bapa dalam hidupnya? Bukannya malah dengki.

Apakah saudara/i adalah si anak bungsu? ataukah si anak sulung?
Di posisi apapun saudara/i, jikalau saudara/i belum membereskan dosa-dosa saudara/i, segeralah BERTOBAT!
Kembalilah kepada Allah.

"Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita." (1 Yohanes 1:8).

Bacalah Galatia 5:19-26.

"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9).

"Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6).


---
repost_04032010

Jangan Takut Untuk Takut

Jangan Takut Untuk Takut

Jangan takut untuk takut
Beranilah untuk takut
Takut dengan hormat akan Dia Yang Mahatinggi

Jangan takut untuk berani
Beranilah untuk berani
Berani berjuang untuk yang layak diperjuangkan

Jangan takut untuk maju
Beranilah untuk maju
Maju demi kebenaran
Maju demi keadilan

Jangan takut untuk mundur
Beranilah untuk mundur
Melangkah mundur perbaiki diri

Jangan takut untuk gagal
Jangan takut untuk terpuruk
Jangan takut tak diindahkan
Selama ada takut akan Dia Yang Mahatinggi


#NR05112013
posted from Bloggeroid

Diujung Sabar

Diujung Sabar

Jangan
Jangan kau katakan
Jangan katakan bisa
untuk yang kau tak bisa
Jangan katakan tak bisa
untuk yang kau bisa

Lihat
Lihatlah dan lihatlah
Kau rasa bisa
untuk yang kau tak bisa
Kau rasa tak bisa
untuk yang kau bisa

Ingat
Ingatlah dan ingatlah
Tak selamanya harus diam
Ada kalanya kau harus berhenti
Berhenti bertahan
Biarkan riak-riak itu meledak
Biarkan sadar dalam nyata
Tak semuanya kan menurut
Karena sabar ada ujungnya

~NR021113~
posted from Bloggeroid

Minggu, 17 Mei 2015

Lihat Dengar Rasa

Lihat Dengar Rasa

Kadang...
Kadang kala...
Terdengar tangisan dalam tawa
Terukir rintik dalam senyum
Tidakkah kau dengar?
Tidakkah kau lihat?
Tangis tak harus berair
Tangis bisa berhias tawa

Kadang...
Kadang kala...
Terselip tawa dalam tangisan
Tidakkah kau lihat?
Tawa tak mesti berhias senyum
Tawa bisa bertopeng tangis

Tertawa bukan tertawa
Menangis bukan menangis
Tawa pun bersalut tangis
Tangis bertisu tawa

Lihat lihatlah... tatap
Dengar dengarlah... simak
Tawa belum tentu tawa
Tangis tak tentu berair

Kan ada masa
Tangis bukan karena sedih
tapi marah
Kan ada saat
Tawa bukan karena lucu
tapi sedih
Kan ada waktu
Ya kan ada waktu
Tawa bukan karena lucu, tapi sesal

Tawa belum tentu tertawa
Tangis tak tentu berair


#NR25022015

Inikah?

Inikah?

Ku tak mengerti
Tak jua paham
Tak dapat kubendung
Tak dapat
Mengalir menyeruak
Menyentak

Selintas pertama
Senyum itu t'lah menangkapku
Tiada dapat ku berpaling
Inikah? Entahlah...

Hari-hari berlalu
Namun senyum itu...
Ah.. Inikah? Entahlah...

#NR10052015