Selasa, 28 Agustus 2018

Keinginan dan Bersyukur

KEINGINAN tidak mengenal kata CUKUP.
KEINGINAN hanya mengenal kata TIDAK TERBATAS.

Jadi dapatkah engkau memenuhi ketidakterbatasan keinginanmu?
Sekali-kali tidak!
Tapi keinginan bisa dikendalikan dengan hidup bersyukur.

Hanya mereka yang bersyukur atas apa yang ada pada mereka yang bisa mengendalikan keinginan mereka.
Kau tidak akan bisa bersyukur jika kau selalu melihat pada apa yang tidak ada padamu. Apakah apa yang ada padamu berarti hanya segala kelimpahan materi? Tidak! Kekurangan dan kelemahan juga adalah hal yang dapat kau syukuri. Tapi apakah kau mau mensyukurinya? Sulit bukan? Tapi itulah kuncinya. Mereka yang telah selesai dengan dirinya adalah mereka yang sanggup melihat lebih jauh daripada hanya apa yang menjadi fokus dunia. Fokus dunia hanyalah hal-hal baik, bukan hal buruk atau kemalangan/kekurangan. Kekurangan adalah aib bagi dunia. Tapi tidak bagi jiwa yang senantiasa bersyukur.

Bersyukurlah terlebih kau telah mendapat apa yang jauh melampaui dunia ini yaitu Kristus Yesus, Tuhan dan Juruselamatmu. Hiduplah sungguh-sungguh di dalam takut dan hormat akan Dia. Biarlah sungguh Tuhan Yesus Kristus yang bertahta atas seluruh hidupmu.

"Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus."
(Efesus 5:20-21)

#JedaSejenak
#23012018

Pergilah, Sebuah Ketaatan

Pergilah, Sebuah Ketaatan

Kejadian 12:1-4
1 Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;
2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."
4 Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.

---

Ketika memutuskan untuk pergi ke suatu tempat. Biasanya pasti banyak pertanyaan-pertanyaan. Kita umumnya pasti ingin memastikan tempat yang akan kita tuju. Kita ingin memastikan bahwa tempat itu baik untuk kita. Tempat itu harus aman dan mendukung kehidupan kita. Intinya kita harus tahu dulu tempat itu seperti apa. Lalu bagaimana jika tempat itu adalah tempat asing bagi kita? Terlebih lagi tempat yang kita tidak tahu ada di mana. Tempat tujuannya saja tidak tahu. Seperti itulah yang dihadapi Abraham tatkala Tuhan memanggilnya untuk pergi ke suatu tempat yang mana Abraham sendiri tidak tahu di mana itu.

Hal yang menarik adalah Alkitab tidak mencatat bahwa Abraham menolak perintah Tuhan. Tidak juga bertanya untuk mengkonfirmasi. Biasanya kalau kita pasti ingin tahu dulu minimal tempat yang mau dituju itu di mana. Tapi Abraham tidak melakukan itu. Ketika Allah memerintahkan dia untuk pergi, Abraham taat dan pergi. Sungguh iman yang begitu besar.

Jika kita di posisi Abraham, apakah kita akan taat seperti Abraham? Akankah kita mempunyai iman seperti Abraham? Sebagian besar, kita mungkin akan mengeles. Mencari-cari alasan untuk tidak pergi. Kita terlalu nyaman dengan zona nyaman kita. Kita terlalu takut dengan ketidakpastian tempat yang akan dituju. Bahkan mungkin kita meragukan penyertaan Tuhan. Kita terlalu bersandar pada diri sendiri, bukan bersandar pada Tuhan secara total.

- Ketaatan bukanlah bertanya kepada perintah Allah, tetapi melakukan perintah Allah. -

#JedaSejenak
#13092017

#Kutipan : Max Lucado

.
.
.

“I Choose Love...
No occasion justifies hatred; no injustice warrants bitterness. I choose love. Today I will love God and what God loves.

I Choose Joy...
I will invite my God to be the God of circumstance. I will refuse the temptation to be cynical. I will refuse to see people as anything less than human beings, created by God. I will refuse to see any problem as anything less than an opportunity to see God.

I Choose Peace...
I will live forgiven. I will forgive so I may live.
I Choose Patience...
I will overlook the inconveniences of the world. Instead of cursing the one who takes my place, I'll invite him to do so, Rather complain that the wait is to long, I will thank God for a moment to pray. Instead of clenching my fist at new assignments, I will face them with joy and courage.

I Choose Kindness...
I will be kind to the poor, for they are alone. Kind to the rich, for they are afraid. And kind to the unkind, for that is how God has treated me.

I Choose Goodness...
I will go without a dollar before I take a dishonest one. I will be overlooked before I will boast. I will confess before I accuse. I choose goodness.

I Choose Faithfulness...
Today I will keep my promises. My debtors will not regret their trust. My friends will not question my word. And my family will not question my love.

I Choose Gentleness...
Nothing is won by force. I choose to be gentle. If I raise my voice may it only be in praise. If I clench my fist, may it only be in prayer. If I make a demand, may it be only of myself.

I Choose Self-Control...
I refuse to let what will rot, rule the eternal. I choose self-control. I will be drunk only by joy. I will be impassioned only by my faith. I will be influenced only by God. I will be taught only by Christ. I choose self-control.

Love, Joy, Peace, Patience, Kindness, Goodness, Faithfulness, Gentleness, and Self-Control. To these I commit my day. If I succeed, I will give thanks. If I fail, I will seek His grace. And then when this day is done I will place my head on my pillow and rest."

Max Lucado - "When God Whispers Your Name"

---

"Saya memilih kasih..
Tidak ada tempat untuk membenarkan kebencian; tidak juga ketidakadilan ataupun kepahitan. Saya memilih untuk mengasihi. Hari ini saya akan mengasihi Tuhan dan apa yang Tuhan kasihi.

Saya memilih sukacita…
Saya akan mengundang Tuhan saya untuk menjadi Tuhan atas setiap keadaan. Saya akan menolak godaan untuk menjadi sinis.. alat dari pemikiran yang malas. Saya menolak melihat pribadi orang lain sebagai sesuatu yang lain, selain manusia yang diciptakan oleh Tuhan. Saya akan menolak melihat masalah sebagai sesuatu yang lain kecuali sebagai kesempatan untuk melihat Tuhan.

Saya memilih kedamaian.
Saya hidup dalam pengampunan. Saya akan mengampuni sehingga saya bisa terus hidup.

Saya memilih sabar..
Saya akan mengabaikan ketidaknyamanan dunia. Alih-alih mengutuk orang yang mengambil tempat saya, saya akan mempersilahkan dia untuk mengambilnya. Dari pada mengeluh karena harus menunggu terlalu lama, saya akan bersyukur pada Tuhan karena diberi waktu untuk berdoa. Daripada mengepalkan tangan karena diberi tugas yang baru, saya akan menerimanya dengan sukacita dan keberanian.

Saya memilih kemurahan hati..
Saya akan murah hati kepada yang miskin, kepada mereka yang sendirian. Murah hati kepada orang kaya, juga mereka yang ketakutan. Dan juga murah hati kepada mereka yang tidak murah hati, karena demikianlah Tuhan telah memperlakukan saya.

Saya memilih kebaikan…
Saya akan pergi tanpa uang sebelum saya menjadi tidak jujur. Saya akan mengabaikannya sebelum menjadi sombong. Saya akan mengaku daripada menuduh. Saya memilih kebaikan.

Saya memilih kesetiaan…
Hari ini saya akan menepati janji saya. Debitur saya tidak akan menyesal karena telah mempercayai saya. Rekan saya tidak akan mempertanyakan perkataan saya. Istri saya tidak akan meragukan cinta saya. Dan anak-anak saya tidak akan pernah takut ayah mereka tidak pulang.

Saya memilih kelemahlembutan…
Tidak ada yang dimenangkan dengan pemaksaan. Saya memilih menjadi lemah lembut. Jika saya meninggikan suara saya mungkin itu hanya untuk memuji. Jika saya mengepalkan tangan saya, itu hanya karena saya mau berdoa. Jika saya memiliki permintaan, itu hanyalah pada diri saya sendiri.

Saya memilih pengendalian diri…
Saya adalah manusia rohani. Setelah tubuh ini mati, maka roh saya akan melambung. Saya menolak mengijinkan apa yang akan membusuk mengendalikan apa yang kekal. Saya memilih untuk mengendalikan diri. Saya memilih hanya mabuk oleh sukacita. Saya hanya akan tidak sabar karena iman saya. Saya hanya akan dipengaruhi oleh Tuhan. Saya hanya akan memikirkan apa yang diajarkan oleh Kristus. Saya memilih pengendalian diri.

Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan pengendalian diri. Dengan semua itu saya akan menjalani hari ini. Jika saya berhasil, saya akan bersyukur. Jika saya gagal, saya akan mencari kasih karunia dari-Nya. Dan kemudian, ketika hari ini telah selesai, saya akan menaruh kepala saya di bantal dan beristirahat."

Diterjemahkan dari : "When God Whispers Your Name" -- MAX LUCADO

Catatan Pendek

[ ] 29/11/2018 ~ Bukanlah kegagalan yang perlu dirisaukan. Jauh lebih pelik ialah kehilangan arah dan tujuan. Lebih berbahaya lagi kehilangan harapan.

[ ] 04/11/2018 ~ Ketika kau sering dianggap "kurang percaya" karena kelihatannya sering mengintervensi (bertanya terus hal yang sama), orang sering tidak melihat sisi lainnya. Mereka lupa bahwa kau tak bisa membaca pikiran mereka dan kau tak tahu sampai sejauh mana progress yang ada. Karena apa? Karena mereka hanya diam dan tak memberi respons. Padahal yang kau butuhkan hanyalah jawaban. Dan ketika kau benar-benar akhirnya hanya "diam", kau juga yang disalahkan karena katanya "kenapa tidak mengingatkan", ketika tugas menjadi tak selesai. Padahal kau sudah mengingatkan berulang-ulang kali jauh sebelumnya. ~

[ ] 01/10/2018 Senyum yang tulus ibarat air yang mengikis kegelisahan hati yang gundah. Kegundahan karena peliknya dan kerasnya kehidupan. Kehidupan yang penuh kesedihan, kemarahan, maupun kekecewaan.

Kau tak pernah tahu hari ini kau akan bertemu mereka yang hatinya seperti apa. Tapi percaya dan yakinlah, senyummu yang tulus akan sedikit banyak menceriakan hati mereka.

Jadi tersenyumlah tulus selalu dari hatimu dan bawalah keceriaan kepada dunia. Keceriaan kepada hati yang sedang gelisah. Keteduhan bagi jiwa yang sedang amarah.

Selamat pagi dan have a wonderful day.

[ ] 29/09/2018 Sejuknya pagi mengundang lelapnya pembaringan. Malas bergerak jadi tantangan. Mentari memanggil pun kau cuekin. Sampai dering telepon memekakkan barulah kau beranjak dan terburu-buru.

[ ] 28/09/2018 Bagi jiwa yang sedang gundah gulana. Ingatlah ini. Kecewa, sedih bahkan marah karena ekspektasi yang tak terkabul boleh-boleh saja. Tapi janganlah larut di dalamnya. Jangan biarkan itu merenggut keceriaan dan kebahagiaan yang telah Tuhan sediakan jauh di depan sana. Bukankah Tuhan berjanji bahwa yang Ia berikan jauh lebih baik? Bukankah Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya? Usahlah kau meratap terus menerus.

[ ] 27/09/2018 Jika kau menaruh ekspektasi berlebihan pada manusia, dengan segera kau akan kecewa. Namun jikalau kau berharap pada Tuhan, kau tak akan dikecewakan. Hanya saja kadang kau kurang sabar untuk menunggu waktunya Tuhan.

[ ] 26/09/2018 Ketika pagi mengetuk, rutinitas mungkin akan sama. Namun selalu ada dua pilihan. Syukuri hari atau menyalahkan hari. Mana yang akan menceriakan hatimu? Kau tahu jawabannya.

[ ] 25/09/2018 Selamat pagi 😇 Awali hari dengan doa dan syukur. Jalani dengan senyum dan syukur. Kerjakan dengan semangat dan syukur. Dan bersukacitalah karena lihatlah diakhir hari ini hari yang luar biasa telah kau jalani. 😉😊

[ ] 23/09/2018 "Nikmatilah anugerah kecil ini yakni wajahmu masih disapa fajar pagi. Terlebih lagi bersyukurlah atas anugerah terbesar yang Dia berikan yaitu Kristus Yesus. Bersyukurlah! Bersukacitalah! Puji dan tinggikan Dia! Tuhan dan Juruselamatmu!
.
.
.

Kadang hidup itu lucu. Ada orang tidak khawatir akan sesuatu hal, namun justru orang lain yang mengkhawatirkan orang itu. Demikian juga sebaliknya.

Kadang hidup itu gokil. Ada orang bisa tidak suka bahkan membenci sesuatu hal ataupun seseorang tanpa ia sendiri tahu alasannya. Demikian juga dengan cinta.

Kadang hidup itu kocak. Hal-hal sederhana dirumitkan oleh belat-belit perkataan yang sering salah dimengerti.

Namun itulah bumbu-bumbu yang membuat hidup menjadi tidak garing.

#20-09-2018

.
.
.

Tertawalah dalam menjalani hidup ini karena menangis dan gelisah hanyalah bumbu pelengkap.
#10-09-2018

.
.
.

Jawaban OK sepertinya menunjukkan suatu kepercayaan diri dan kesiapan menjalankan sebuah kepercayaan. Namun jika tidak dibarengi aksi, maka ianya akan berujung kepada kekecewaan dari penanya/pemberi kepercayaan.

Sebaliknya jawaban TIDAK BISA mungkin segera membawa kekecewaan bagi penanya. Namun itu terkadang lebih baik. Karena tidak memberi asa yang berlebih.

Kecenderungan kita adalah yang pertama. Dan tidak jarang yang didapat adalah kekecewaan. Kecenderungan kita adalah enggan berkonflik dari awal. Berusaha terlihat membahagiakan penanya. Mencoba mencari jawaban aman yang justru mengecewakan di akhir.

Namun terlepas dari kedua jawaban itu ada satu yang sangat berbahaya yaitu DIAM.

#JedaSejenak
#28012018

.
.
.

"Sukacita hanya akan menjadi luapan euforia sesaat saja jikalau itu bukan sukacita dari Allah.

Sukacita sejati akan terus menetap di hati jikalau itu adalah sukacita dari Allah karena Allah lah sumber sukacita itu."

#25122017

.
.
.

"Tanpa kejutan, hidup cenderung hambar.
Terlalu banyak kejutan, hidup rasanya berat.
Tapi tetap saja kita tidak menghendaki adanya kejutan."

#18092017

.
.
.

"Dalam KESUKAAN kita seringkali mengabaikan kehadiran-Nya. Kita seringkali tidak mau berbicara dengan-Nya. Kita sibuk dengan kesukaan kita.

Dalam KESUSAHAN kita seringkali menyalahkan Dia. Kita seringkali merasa Dia tidak hadir.

Bukankah Dia selalu hadir setiap waktu?
Bukankah tangan-Nya selalu terbuka untuk kita?
Dia adalah Allah yang ingin dekat dengan kita.
Kitalah yang tidak peka dan tidak mau dekat dengan-Nya."

#19072017

Minggu, 26 Agustus 2018

Jangan Tegar Tengkuk

Nats: Mazmur 106:1-48

Mazmur 106:12-13
12 Ketika itu percayalah mereka kepada segala firman-Nya, mereka menyanyikan puji-pujian kepada-Nya.
13 Tetapi segera mereka melupakan perbuatan-perbuatan-Nya, dan tidak menantikan nasihat-Nya;

---

Kedua ayat di atas sangat kontras sekali. Itulah yang terjadi pada bangsa Israel. Betapa cepatnya mereka melupakan kasih dan kebaikan Tuhan. Betapa cepatnya mereka berpaling dari Tuhan. Baru saja dibebaskan dari perbudakan di tanah mesir. Baru saja mengalami mujizat yang besar yaitu mereka bisa menyeberang laut Teberau (ayat 7-11). Di padang gurun mereka kembali menggerutu (ayat 14). Mereka lupa akan siapa itu Tuhan (ayat 1).
Perhatikan juga ayat 19, 24-25, 28-29, 32-33, 36-37. Ayat 43 merupakan kesimpulan bagaimana bangsa Israel ini selalu memberontak terhadap Tuhan. Itulah kenapa mereka disebut bangsa yang tegar tengkuk.

Pemazmur menyadari betul siapa itu Tuhan. Sebagaimana di ayat 1 menuliskan tentang kasih setia Tuhan yang tak berkesudahan. Tuhan yang tak pernah ingkar dengan janji-Nya sendiri. Pemazmur menaikkan doa pengampunan kepada Tuhan atas dosa-dosa yang dilakukan bangsanya (ayat 4-6, 47). Demikian juga dalam hal-hal kesalahan yang dilakukan nenek moyang bangsa Israel, juga ada yang memohon pengampunan kepada Tuhan (ayat 23 dan 30). Bahkan di ayat 32-33 dikatakan Musa celaka karena mereka. Hal yang membuat Musa tidak bisa memasuki tanah Kanaan (Lihat Bilangan 20:2-13).

Apa yang bisa kita renungkan dari Mazmur ini?

Perhatikan ayat 1, 44-45. Bagaimana pemazmur berulang kali menyatakan bagaimana kasih setia Tuhan yang tak berkesudahan. Allah yang tidak pernah berubah. Allah yang tidak pernah ingkar janji. Dan mazmur ini ditutup dengan pengagungan kepada Allah (ayat 48).

Hendaklah kita sebagai orang yang telah ditebus oleh Yesus Kristus hidup seturut kehendak-Nya. Janganlah kita menjadi seperti bangsa Israel yang selalu memberontak terhadap Tuhan.

"Berbahagialah orang-orang yang berpegang pada hukum, yang melakukan keadilan di segala waktu!" (Mazmur 106:3)

Mungkin dalam kehidupan kita, kita lebih sering seperti bangsa Israel yang seringkali memberontak dan meragukan kasih setia Tuhan. Kita mudah diombang-ambingkan kekhawatiran dan juga bujuk rayu dunia ini. Hendaklah kita bisa terus bersandar dan percaya sepenuh hati kepada Tuhan. Janganlah kita sekali-kali mencobai Tuhan. Tetaplah taat dan percaya kepada-Nya karena hanya Dialah Tuhan yang layak kita sembah dan muliakan (ayat 2).

Masihkah kita dalam hidup kita mau seperti bangsa Israel yang selalu tegar tengkuk, memberontak kepada Tuhan? Semoga tidak dan kiranya sekali-kali tidak!

Kiranya Tuhan memberkati dan menolong kita untuk taat sepenuhnya kepada-Nya. Amin.

#JedaSejenak
#09072017

Walaupun Berat Tetap Taat

Nats: Kisah Para Rasul 9:10-18

10 Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Firman Tuhan kepadanya dalam suatu penglihatan: "Ananias!" Jawabnya: "Ini aku, Tuhan!"
11 Firman Tuhan: "Mari, pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sekarang berdoa,
12 dan dalam suatu penglihatan ia melihat, bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi."
13 Jawab Ananias: "Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem.
14 Dan ia datang ke mari dengan kuasa penuh dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu."
15 Tetapi firman Tuhan kepadanya: "Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel.
16 Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku."
17 Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: "Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus."
18 Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis.

-----

Sebagian besar dari kita tentu sudah pernah bahkan sering mendengar tentang kisah pertobatan Paulus (Saulus), bagaimana Saulus bertemu dengan Tuhan Yesus dalam perjalanannya menuju kota Damsyik. Cahaya menyilaukan yang membuat mata Saulus menjadi buta. (Kisah Para Rasul 9:1-9)

Kita tidak akan membahas lebih jauh soal Saulus. Namun tokoh satunya lagi yaitu Ananias. Saya yakin pasti Ananias menghadapi pergumulan yang cukup berat ketika ia diperintah oleh Tuhan untuk menemui Saulus. Hal ini cukup jelas digambarkan dalam ayat 13-14. Secara kita juga pasti akan kaget dan takut jika diperhadapkan pada situasi yang dihadapi oleh Ananias. Pergumulan batin yang teramat sangat tentu dirasakan oleh Ananias. Bayangkan saja, Ananias disuruh mengunjungi orang yang secara terang-terangan justru mau menangkap dan menganiaya mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus termasuk Ananias sendiri. Anda tentu bisa merasakan pergumulan batin yang dialami oleh Ananias.

Namun demikian, Ananias lebih memilih taat kepada Tuhan. Dia lebih memilih percaya kepada Tuhan dan melakukan perintah Tuhan. Mengapa Dia bisa taat? Karena Dia memiliki kedekatan dengan Tuhan. Ananias tentu memiliki relasi yang dekat dengan Tuhan. Ananias dikatakan sebagai murid Tuhan (ayat 10). Ananias bisa memahami isi hati Tuhan (ayat 15-16). Tanpa kedekatan dengan Tuhan, tidak mungkin kita bisa memahami isi hati Tuhan. Bagaimana dengan kita? Apakah kita memiliki relasi yang dekat dengan Tuhan? Apakah kita ada membaca firman-Nya? Berkomunikasi dengan-Nya melalui doa dan waktu pribadi (saat teduh) setiap hari? Ataukah kita hanya datang menyapa-Nya seminggu sekali?

#JedaSejenak
#08072017

Dengan Segenap Hati?

Kisah Para Rasul 4:32-37
32 Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.
33 Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.
34 Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa
35 dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.
36 Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus.
37 Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

Kisah Para Rasul 5:1-11
1 Ada seorang lain yang bernama Ananias. Ia beserta isterinya Safira menjual sebidang tanah.
2 Dengan setahu isterinya ia menahan sebagian dari hasil penjualan itu dan sebagian lain dibawa dan diletakkannya di depan kaki rasul-rasul.
3 Tetapi Petrus berkata: "Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu?
4 Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah."
5 Ketika mendengar perkataan itu rebahlah Ananias dan putuslah nyawanya. Maka sangatlah ketakutan semua orang yang mendengar hal itu.
6 Lalu datanglah beberapa orang muda; mereka mengapani mayat itu, mengusungnya ke luar dan pergi menguburnya.
7 Kira-kira tiga jam kemudian masuklah isteri Ananias, tetapi ia tidak tahu apa yang telah terjadi.
8 Kata Petrus kepadanya: "Katakanlah kepadaku, dengan harga sekiankah tanah itu kamu jual?" Jawab perempuan itu: "Betul sekian."
9 Kata Petrus: "Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan? Lihatlah, orang-orang yang baru mengubur suamimu berdiri di depan pintu dan mereka akan mengusung engkau juga ke luar."
10 Lalu rebahlah perempuan itu seketika itu juga di depan kaki Petrus dan putuslah nyawanya. Ketika orang-orang muda itu masuk, mereka mendapati dia sudah mati, lalu mereka mengusungnya ke luar dan menguburnya di samping suaminya.
11 Maka sangat ketakutanlah seluruh jemaat dan semua orang yang mendengar hal itu.

---

Apa persamaan yang dilakukan antara Yusuf/Barnabas dengan Ananias dan Safira? Apa pula perbedaannya?
Mengapa Ananias dan Safira justru meninggal dengan cara yang cukup tragis?

Apa yang bisa kita renungkan di sini adalah bukan soal jumlah persembahan yang mereka berikan. Sama sekali bukan. Perikop ini setidaknya mengajarkan kepada kita tentang kesungguhan dan motivasi yang benar dalam memberikan persembahan. Hendaklah kita sungguh-sungguh dan dengan kerelaan dan juga kecintaan kepada Tuhan di dalam memberikan persembahan. Tidak hanya dalam memberikan persembahan materi namun dalam segala aspek kehidupan kita. Motivasi kita juga harus murni. Bukan untuk mencari hormat dari manusia. Bukankah Yesus sendiri mengajarkan kepada kita untuk mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa, dan juga kekuatan kita?

Matius 22:37 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

Ulangan 6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.

Apakah kita sudah sungguh-sungguh melakukannya? Apakah kita sudah sungguh-sungguh mengasihi Tuhan kita? Apakah kita sudah sungguh-sungguh mengasihi Yesus Kristus? Apa buktinya? Adakah kita mentaati firman-Nya? Bukankah kita lebih suka taat pada diri sendiri?

#JedaSejenak
#06072017

(Jangan) Menghakimi

(Jangan) Menghakimi

Nats: Yohanes 8:1-11

Jika kita melihat situasi dan kondisi akhir-akhir ini terutama pada masa-masa pilkada DKI yang baru berlalu, terlihat bagaimana gampangnya orang menghakimi orang lain seolah-olah dirinya sendiri yang paling benar dan suci. Hal seperti inilah yang dialami wanita ini. Yesus membalikkan segalanya. Alih-alih menghakimi wanita ini ---- Yesus berhak menghakimi sebenarnya karena Ia adalah satu-satunya yang tidak berdosa ---- Yesus malah menunjukkan belas kasihan kepada wanita ini sekaligus memberikan pelajaran kepada para ahli Taurat dan orang Farisi yang mendakwa wanita itu (ayat 7-11).

Para ahli Taurat dan orang Farisi itu pasti sangat merasa malu atau mungkin marah dengan apa yang Yesus katakan dan lakukan. Mereka pasti tahu bahwa tidak ada dari mereka yang tidak berdosa.

Sebaliknya wanita itu tentu sangat bersyukur karena mendapat pengampunan. Ia pasti sangat menyesali perbuatannya. Ia mengalami pertobatan. Dan hidupnya berubah.

Bagaimana dengan diri kita? Apakah kita juga seperti para ahli Taurat dan orang Farisi itu yang merasa paling benar dan suci? Atau kita seperti wanita itu --- yang telah berdosa telah mengalami pengampunan oleh Allah melalui karya keselamatan yang telah dikerjakan oleh Yesus Kristus di atas kayu salib --- mau sungguh-sungguh bertobat? Dan terlebih lagi, meneladani Kristus yang penuh belas kasih dan pengampunan.

"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?"
(Matius 7:1-3)

#JedaSejenak
#03072017

Perjumpaan Pribadi

Perjumpaan Pribadi

Nats: Yohanes 4:1-42

Sebagian besar dari kita mungkin sudah sering mendengar tentang kisah ini. Percakapan Yesus dengan perempuan Samaria. Kisah ini juga sering kali ditampilkan dalam drama pada saat natal misalnya. Kisah bagaimana seorang perempuan Samaria yang sebenarnya memiliki persoalan yang pelik dan mungkin membuat ia malu dengan statusnya (ayat 17-18). Karena hal inilah yang membuat ia baru datang ke sumur untuk menimba air pada tengah hari yang panas (ayat 6 bagian akhir). Karena dia ingin menghindari orang-orang disekitarnya yang mungkin tahu statusnya itu. Perjumpaan dan percakapannya dengan Yesus telah mengubah segalanya. Ia memperoleh sukacita dan bahkan bersaksi tentang Yesus. Ia tidak malu lagi mengakui segala hal yang terjadi dalam hidupnya (ayat 28-29). Dengan berani ia bersaksi kepada orang-orang di kotanya (Sikhar). Kesaksiannya membawa orang-orang datang kepada Yesus (ayat 30). Dan banyak dari mereka menjadi percaya kepada Yesus melalui kesaksian perempuan Samaria tersebut (ayat 39). Mereka bahkan meminta Yesus mengajar mereka lebih banyak lagi (ayat 40). Dan semakin banyak orang yang menjadi percaya oleh pengajaran Yesus (ayat 41).

Perikop ini ditutup dengan ayat yang menarik perhatian saya.

~ dan mereka berkata kepada perempuan itu: “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.” ~
(Yohanes 4:42)

Melalui kesaksian perempuan Samaria itu, orang dibawa untuk mengenal Yesus. Dan akhirnya mereka mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus.

Dalam jaman sekarang, apakah kita hanya sebatas suka dengan kesaksian saja? Ataukah kita ingin lebih lagi, mengenal Yesus secara pribadi?

#JedaSejenak
#02072017

Meresponi Pencobaan

Memaknai Pencobaan Yesus Di Padang Gurun

Nats: Matius 4:1-11

Perikop Yesus dicobai oleh iblis setelah perikop Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis.

Pada perikop ini ada 3 pencobaan yang dialami oleh Yesus, yaitu:
- Pencobaan pertama (ayat 3-4)
- Pencobaan kedua (ayat 5-7)
- Pencobaan ketiga (ayat 8-10)

Bagian pembuka dan penutup dari perikop ini juga menarik. Pada ayat 1 dikatakan bahwa Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai iblis. Ini menandakan bahwa pencobaan ini diijinkan oleh Allah. Sedangkan pada ayat 11 dikatakan bahwa iblis meninggalkan Yesus setelah gagal membuat Yesus jatuh dalam pencobaan. Ini menguatkan kita bahwa kita pun sebagai anak Tuhan dan murid Kristus, ketika dalam kehidupan kita menghadapi pencobaan yang diijinkan Allah, kita bisa melewatinya juga asalkan kita bersandar kepada Tuhan Yesus. Perikop ini diakhiri dengan hal yang indah di mana dikatakan malaikat-malaikat datang melayani Yesus.

Sebelum membahas makna pencobaan Yesus oleh iblis ini, jika kita perhatikan dari perikop sebelumnya tentang Yesus dibaptis, kemudian dipimpin oleh Roh, dan Yesus berpuasa 40 hari 40 malam, kita akan dapati ada 3 hal penting bagi kita orang percaya, yaitu:
- Pembaptisan sebagai proklamasi iman kita atau proklamasi kelahiran baru kita di dalam Kristus.
- Roh Kudus yang berdiam di dalam diri kita, akan senantiasa menuntun kita.
- Komunikasi yang intim dengan Allah melalui doa dan firman dalam waktu khusus kita (saat teduh).

Secara umum jika diperhatikan, ketiga pencobaan ini menyangkut 3 aspek dalam kehidupan dan juga merupakan pola yang umum kita alami. Ketiga pencobaan ini juga seperti tingkat yang menaik. Ketiga aspek itu ialah:

Pertama, aspek KEINGINAN DAGING (fisik / jasmani). Pada pencobaan pertama ini, dikatakan bahwa setelah berpuasa, Yesus merasa lapar. Iblis menyuruh Yesus mengubah batu menjadi roti. Tetapi Yesus tidak menuruti kemauan iblis. Yesus mengutip ayat firman Tuhan dari Ulangan 8:3.

Apa kaitannya pencobaan pertama ini dengan kita? Ini adalah pencobaan yang umum kita alami. Sadar atau tidak. Keinginan daging kita seperti anak kecil yang merengek ingin semua permintaannya dipenuhi oleh orangtuanya. Itulah kita. Keinginan kita adalah selalu dilimpahkan berkat materi dari Allah saja. Semua keinginan kita maunya dipenuhi. Terkadang seperti itulah kita. Kita jarang melihat sesuatu yang lebih penting dari hanya sekedar berkat materi, yaitu firman Allah yang lebih penting bagi kelaparan rohani kita.

Kedua, aspek KEANGKUHAN HIDUP / KESOMBONGAN. Pada pencobaan kedua, Iblis membawa Yesus ke atas bubungan bait Allah. Iblis dengan berani menggunakan ayat firman Tuhan (Mazmur 91:11-12) yang dipakai secara salah oleh iblis. Dan Yesus menjawab tegas dengan mengutip ayat firman Tuhan (Ulangan 6:16) untuk meluruskan penyalahgunaan ayat firman Tuhan tersebut. Melalui pencobaan ini, iblis sebenarnya ingin agar kita meragukan Allah. Kaitan sederhana yang kita alami sehari-hari contohnya ada yang bilang "kalau tidak merokok, tidak keren." Apakah benar demikian? Tentu itu kesalahan. Ego kita, gengsi kita sering kali ditantang pernyataan-pernyataan menyesatkan seperti itu. Janganlah kita mencobai Tuhan kita dengan meragukan Dia.

Aspek ketiga, KEINGINAN MATA akan hal-hal duniawi (kekayaan, kekuasaan, kejayaan atau sering orang bilang 3T yaitu harta, tahta, wanita). Di pencobaan ketiga ini, iblis semakin menjadi-jadi. Iblis dengan sangat berani mengklaim bahwa semua yang di dunia ini adalah miliknya yang bisa ia berikan kepada siapa saja yang mau menyembahnya. Padahal kita tahu, pencipta dan pemilik semuanya itu ialah Allah, bukan iblis. Betapa liciknya iblis ini. Menawarkan jalan mudah kepada siapa saja yang mau mendapatkan kekayaan duniawi hanya dengan menyembahnya saja. Betapa banyak orang bukan yang gampang jatuh dalam pencobaan seperti ini? Satu yang perlu kita ingat, jalan mengikut Kristus bukanlah jalan yang mudah. Kita perlu memikul salib dan menyangkal diri. Yesus tidak menjanjikan kekayaan jika kita mengikut-Nya, malahan penderitaan. Tapi yang Yesus janjikan adalah hidup yang kekal. Sementara yang ditawarkan oleh iblis adalah jalan yang mudah namun berujung pada kebinasaan kekal.

Ingatlah satu hal, jika kita diijinkan oleh Allah untuk menghadapi pencobaan, janganlah mengandalkan diri sendiri. Bersandarlah kepada Tuhan Yesus. Untuk itu kita perlu memiliki hubungan yang dekat dan intim dengan Yesus melalui doa dan firman dalam waktu khusus kita bersamanya. Memakai istilah dalam sesi retret kemarin (Retret Pemuda 2017), "Always attach with The Holy Spirit".

#JedaSejenak
#30062017

Sabtu, 25 Agustus 2018

Respon Yang Keliru

Keluaran 7:12
Masing-masing mereka melemparkan tongkatnya, dan tongkat-tongkat itu menjadi ular; tetapi tongkat Harun menelan tongkat-tongkat mereka.

Keluaran 7:22
Tetapi para ahli Mesir membuat yang demikian juga dengan ilmu-ilmu mantera mereka, sehingga hati Firaun berkeras dan ia tidak mau mendengarkan mereka keduanya seperti yang telah difirmankan TUHAN.

Keluaran 8:7
Tetapi para ahli itu pun membuat yang demikian juga dengan ilmu-ilmu mantera mereka, sehingga mereka membuat katak-katak bermunculan meliputi tanah Mesir.

Keluaran 8:18-19
18 Para ahli itu pun membuat yang demikian juga dengan ilmu-ilmu manteranya untuk mengadakan nyamuk-nyamuk, tetapi mereka tidak dapat. Demikianlah nyamuk-nyamuk itu hinggap pada manusia dan pada binatang.
19 Lalu berkatalah para ahli itu kepada Firaun: "Inilah tangan Allah." Tetapi hati Firaun berkeras, dan ia tidak mau mendengarkan mereka — seperti yang telah difirmankan TUHAN.

-----

Kita tentu sudah sering membaca dan mendengar tentang sepuluh tulah. Apa yang bisa kita pelajari? Banyak hal. Salah satu bagian yang cukup menarik perhatian saya ketika membaca tentang sepuluh tulah ini adalah bagaimana respons para ahli sihir Mesir.

Saya memfokuskan pada 4 kutipan ayat di atas. Pertama adalah sebelum sepuluh tulah yaitu tongkat menjadi ular. Kemudian ketiga ayat berikutnya adalah soal tulah pertama (air menjadi darah), kedua (katak), dan ketiga (nyamuk).

Ketika merenungkan hal ini, saya teringat juga tentang bagaimana sikap sebagian kecil orang Indonesia meresponi insiden bendera terbalik pada penyelenggara Sea Games 2017 yang baru berlalu.

Betapa mudah kita mengikut arus. Tatkala kita "dipermalukan", kita meresponinya justru dengan hal yang semakin membuat kita malu.

Jika merunut ke sejarah peradaban bangsa Mesir, sungai Nil dan bercocok tanam di sepanjang aliran sungai Nil adalah kebudayaan mereka. Mereka sangat mengandalkan akan aliran sungai Nil. Melalui tulah pertama, sebenarnya mereka sedang dipermalukan. Dewa sembahan bangsa Mesir sedang dipermalukan oleh Tuhan. Tetapi hal ini mungkin tidak disadari oleh para ahli Mesir. Alih-alih menetralkan akan tulah pertama ini, mereka justru malah melakukan hal yang lebih memalukan sebenarnya. Mereka mungkin berpikir, jika Harun dan Musa dapat melakukannya, kami juga bisa. Demikian juga dengan tulah kedua. Katak adalah salah satu hewan yang spesial bagi bangsa Mesir. Mereka menyembah dewa katak. Katak melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Lagi-lagi Tuhan mempermalukan mereka. Dan lagi-lagi mereka tidak sadar. Mereka pikir mereka hebat. Dan pada tulah yang ketiga, mereka tidak sanggup melakukan hal yang sama lagi. Dan barulah mereka mengakui Allahnya Musa dan Harun lebih hebat dari dewa mereka.

Coba kita renungkan, apakah kita juga sering bersikap seperti para ahli Mesir itu? Seberapa sering kita meresponi sesuatu secara keliru? Berapa sering hal yang kita lakukan justru semakin membuat malu kita sendiri dan juga membuat malu Tuhan? Bukankah seringkali kita seperti itu?

#JedaSejenak
#07072017

Jangan Terjebak Fanatisme Buta

Ketika terjebak dalam fanatisme buta, kita cenderung lupa mengkritik. Mengkritik untuk mengingatkan sesuatu hal yang dirasa kurang baik. Bukan menyudutkan untuk menjatuhkan. Kenyataannya adalah kadang justru pengkultusan yang membuat jatuh, bukan kritikan. Lebih susahnya lagi adalah kesulitan untuk membedakan mana kritikan dan mana hasutan. Kritikan yang pada dasarnya baik, jika ditanggapi dengan cara salah (anti-kritik) malah akan membuat orang jadi apatis dan diam saja. Dan tidak jarang ditunggangi atau justru dimanfaatkan pihak yang ingin menjatuhkan. Pada dasarnya setiap kritikan hendaknya dicerna dulu. Diambil hikmahnya. Ditarik pelajarannya. Dan jika ada solusi mungkin bisa dipertimbangkan. Hal lebih parah lagi adalah fans yang terlalu mengkultuskan junjungannya. Pokoknya junjungannya pasti benar punya. Para fans inilah yang cenderung tidak bisa menerima kritikan dan akibatnya kritikan yang pada dasarnya baik dan memberi masukan penting menjadi seolah sia-sia. Paling parahnya jika sang junjungan cenderung hanya menilai keberhasilan apa yang dia kerjakan dari respons positif para fans butanya itu. Bukan melihat secara keseluruhan sampai kepada akar rumput. Padahal apa yang ada ditataran fans buta belum tentu merepresentasikan secara jelas apa yang sebenarnya terjadi di akar rumput.

Dalam ranah ekonomi yang katanya lesu saat ini, hendaknya pemerintah benar-benar mulai mencerna anomali apa yang sebenarnya terjadi. Keberhasilan penataan dalam tataran pucuk belum tentu menyerap langsung ke tataran akar rumput. Mungkin ada baiknya menilai dengan bijak. Mungkin saja ada hal-hal kecil yang tidak terperhatikan yang justru berpotensi menjadi permasalahan besar di kemudian hari.

Apakah benar pola konsumsi atau belanja masyarakat sudah bergeser ke online sehingga ada beberapa sektor (misalnya ritel) yang menjadi lesu? Mungkin iya dan mungkin juga tidak. Tapi seberapa besar persentase online ini? Apakah merepresentasikan semuanya sampai ke akar rumput? Sepertinya tidak. Apakah benar pengaruhnya begitu signifikan? Mungkin tidak.

Apakah benar juga masyarakat sekarang cenderung lebih hemat dan tidak jor-joran dalam konsumsi sehingga perputaran ekonomi melesu? Mungkin iya. Jika iya apa penyebabnya? Penghasilan yang berkurang? Lapangan kerja yang semakin berkurang? PHK? Banyak usaha tutup? Biaya-biaya hidup yang semakin tinggi? Atau ada hubungan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang kurang tepat? Adakah hubungan itu semua? Mungkin ada.

Atau apakah ada hubungannya dengan fokus pemerintah yang sekarang lebih ke pembangunan infrastruktur? Pembangunan infrastruktur memang penting dan mendesak. Memang hasilnya tidak bisa segera dirasakan. Perlu waktu. Hanya saja hal yang perlu diwaspadai adalah kesiapan menanggulangi efek dari pergerakan fokus ini yang dulunya lebih ke konsumsi. Tentu banyak yang terdampak. Dan mungkin banyak yang tidak siap. Lagipula pembangunan infrastruktur ini lebih banyak dikerjakan negara melalui BUMN. Pihak swasta kurang. Seperti tulisan Dahlan Iskan, fenomena ayam petelur yang stres sehingga tidak bisa bertelur. Mungkin analisa ini ada benarnya juga.

Dan juga kestabilan politik dan keamanan. Mungkin ini pengaruhnya besar juga. Termasuk juga masalah penegakan hukum dan kerukunan. Tentu memberi kontribusi yang besar pula.

Apapun itu, kerikil-kerikil kecil tetap perlu diwaspadai karena salah-salah kita bisa terpeleset.

#CatatanPinggir
#16112017

Damai Sejahtera Bagi Kamu

Yohanes 20:19-20

19 Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan *pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi*. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: *"Damai sejahtera bagi kamu!"*

20 Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.

---

Ketika Yesus ditangkap, disidang, disiksa, disalibkan sampai dengan matinya, para murid sangat dilanda ketakutan. Bahkan ketika mereka berkumpul di suatu ruangan, rasa takut dan bimbang terus menghantui mereka sampai-sampai pintu dikunci rapat (ay 19). Mereka dilanda frustasi dan ketiadaan harapan. Apa yang menjadi bayangan mereka selama ini bahwa Sang Mesias akan membebaskan mereka dari perbudakan dan mengembalikan kejayaan Israel pupus sudah. Guru mereka telah meninggal. Yang tertinggal hanyalah kenangan semasa mereka diajar dan bersama-sama dengan Gurunya.

Lalu tiba-tiba dalam kebimbangan dan ketiadaan harapan itu, Guru mereka menampakkan diri kepada mereka. Hadir di tengah-tengah mereka dalam ruangan itu. Pintu masih terkunci. Dan lihatlah, Sang Guru itu tidak menyalahkan para murid karena para murid meninggalkan dan lari saat para serdadu Romawi menangkap-Nya di taman Getsemani. Tidak juga mengatakan "bukankah sudah kukatakan, mengapa kalian tidak percaya?". Sang Guru hadir menampakkan diri dan mengatakan suatu kalimat yang membawa pengharapan dan sukacita. "Damai sejahtera bagi kamu!".

Seketika itu juga para murid diteguhkan, iman mereka dipulihkan, ketakutan sirna. Mereka dikuatkan dan mempunyai semangat yang menyala-nyala.

Bagaimana dengan kita, apakah kita merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan para murid? Apakah kita masih terus hidup dalam ketakutan ataukah kita hidup dalam pengharapan?

#JedaSejenak
#01042018
#SelamatPaskah

Sapaan Kasih

Sapaan Kasih

Dalam badai yang kau hadapi
Adakah kau alami sapaan kasih-Nya?
Dalam pergumulan hidupmu
Adakah kau lihat tangan-Nya menopangmu?

Alami rasakan sapaan kasih-Nya
Percayalah pada-Nya
Serahkanlah hidupmu pada-Nya
Yesus Tuhan Dialah Penolongmu

#NR27122017

Menyangkal Diri

Menyangkal Diri

Salah satu masalah pelik manusia di dalam menyangkal diri adalah menyangkal itu sendiri.

Banyak orang -- entah sadar atau tidak -- selalu menyangkal bahwasanya ia sendiri tidak "sakit" dan tidak perlu pertolongan untuk sembuh. Orang lain yang sakit dan perlu pertolongan. Sedangkan dirinya baik-baik saja.

"Jika engkau tidak "sakit", mengapa masih suka berenang dalam lumpur?"

Hanya ketika engkau betul-betul menyadari akan hal ini (bertobat), barulah engkau akan bisa menyangkal diri dan sanggup memikul salib.

Hal lainnya adalah kita seringkali -- bahkan terlalu sering -- menyangkal bahwa kita mencari Dia hanya untuk diri kita sendiri. Kita mengharapkan berkat-Nya semata-mata bagi kepentingan kita sendiri. Bahkan kita menyangka kita telah memikul salib padahal yang kita pikul adalah akibat kesalahan dan penderitaan yang kita cari-cari sendiri.

Kadang pelayanan yang kita kerjakan sebenarnya bukan untuk Dia tetapi untuk kita sendiri. Untuk prestise kita, kebanggan kita, ketenaran kita, bahkan mungkin demi kepentingan bisnis kita. Dan kita menyangkal akan hal ini.

Matius 16:24 
"Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku."

#JedaSejenak
#25102013
#RePostFB

Kamis, 23 Agustus 2018

Rasa Tak Pernah Logika

Rasa Tak Pernah Logika

Tiada paham tiada mengerti
Rasa tak pernah logika
Datang tiada terpahami
Menyentak menggelisah hati

Terkungkung tidakmengerti
Terperangkap rasa dan asa
Tiada paham
Inikah...
Entahlah...

Mungkin ini sepintas menyapa
Menjauh seiring pudar
Sensasi impian dan asa
Entahlah...

Rentang masa yang lebar
Susahlah jembatan pikir dan rasa
Usahlah memaksa diri
Jangan hancur berkeping perih

#NR23082018

Selasa, 14 Agustus 2018

MyNote : Relakanlah...

Semakin kita bersandar pada pengertian sendiri, semakin kita goyah.

Semakin kita menjauhkan masalah, semakin kita merangkulnya.

Semakin kita merangkul apa yang kita anggap hak kita, semakin kita terikat pada beban itu.

Semakin kita memberi makan kekuatiran, semakin tambun ketakutan dalam diri kita.

Lepaskanlah. Lepaskanlah semuanya itu.

Bersandarlah pada Lengan Yang Kokoh.
Bersandarlah pada Tuhan.
Bawalah semua masalahmu kepada-Nya dan biarlah Dia menuntunmu melalui dan menjalani masalah-masalah itu.

Usahlah kau terikat pada kesementaraan fana ini. Harta yang kau miliki. Kekuasaan yang kau dapatkan. Itu semua hanyalah sementara. Untuk apa mati-matian kau coba pertahankan --- meskipun ada alasan kuat kau merasa layak mempertahankannya. Jika itu mengikat dan membelenggumu, membuatmu kuatir, apalah arti semua itu? Bukankah itu tiada berarti? Tiada sukacita. Tiada kedamaian. Hanya kekuatiran. Hanya ketakutan. Hanya kegelisahan. Hanya kesakitan batiniah. Untuk apa kau rangkul erat? Lepaskan beban yang mengikat itu. Ada hal-hal yang harus kau relakan sekalipun berat dan tidak adil rasanya bagimu. Percayalah, Tuhan akan memberikan yang lebih baik.

Kau tak kan bisa meminta Tuhan memberikan sukacita, damai, kelegaan, kebebasan, kalau kau tak mau melepaskan beban itu. Terkadang hanya itulah caranya. Lepaskanlah jika itu menjadi beban yang mengikatmu.

Jangan simpan kekuatiranmu, bawa dan letakkan semua itu di bawah kaki-Nya. Pandanglah pada salib-Nya. Bukankah maut yang adalah kekuatiran dan ketakutan terbesar manusia sudah Ia kalahkan?

Melepaskan dan merelakan bukanlah hal mudah. Apalagi jika itu terasa tidak adil bagi kita. Bersusah payah kita mengusahakannya. Dan harus direlakan dan diambil begitu saja. Bukan hal yang mudah. Tapi jika itu membawa kepada sesuatu yang lebih baik. Membawa kelepasan bagi jiwamu yang tertekan. Lepaskanlah. Relakanlah.

Bukankah Tuhan berkata burung pipit dan rumput di padang pun Dia pelihara. Apalagi hidupmu. Lalu mengapa kau begitu kuatir?

#JedaSejenak
#14082018

Jumat, 10 Agustus 2018

MyNote: Tahukah dan Siapkah?

Bacaan: Markus 8:34-38

Renungan:

"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku."

Bagian ini seringkali kita dengar. Namun seberapa kita memahaminya? Apalagi melakukannya?

Kita mungkin hanya lebih senang bagian akhirnya, "mengikut Aku". Kita tidak suka bagian awalnya. Terlalu berat atau mungkin saja itu diluar ekspektasi kita.

Hal yang sama mungkin juga dirasakan oleh para murid Yesus ketika mendengar pernyataan Yesus ini. Mungkin itu terlalu sukar mereka pahami. Atau setidaknya itu diluar ekspektasi mereka. Setidaknya kita bisa lihat bagaimana seorang Petrus pada perikop di atasnya (ay 27-33).

Seberapa Petrus mengenal Yesus?
Benarkah Petrus tahu apa yang Yesus inginkan?
Bagaimana dengan kita, seberapa kita mengenal Yesus?
Benarkah kita tahu apa yang Yesus inginkan?
Atau jangan-jangan kita hanya membayangkan keinginan Yesus sesuai dengan keinginan kita?

Petrus adalah murid yang dekat dengan Yesus. Ayat 29 menunjukkan bagaimana Petrus mengenal Yesus dengan cukup baik. Akan tetapi tidak dengan apa yang Yesus pikirkan. Pada ayat 33, Yesus menegur/memarahi Petrus karena ia kurang atau tidak memahami dengan jelas apa yang menjadi tujuan Yesus ke dunia ini.

Kita mungkin sama seperti Petrus. Kita tahu dengan jelas siapa Yesus, tapi tidak dengan apa yang Yesus pikirkan.

Kita berusaha menyelaraskan pengetahuan kita terhadap seseorang dan menaruhnya sesuai jalan pikiran atau keinginan kita.

Ayat 34 sangat berat dan mungkin di luar pikiran atau bayangan kita. Harga mengikut Yesus sangat mahal. Harganya bahkan dikatakan melebihi nyawa kita. Menyangkal diri dan memikul salib bukanlah hal yang mudah. Tetapi itulah yang harus kita lakukan jika kita mau mengikut Yesus.

Petrus sendiri meski mengenal Yesus, namun setelah Yesus mulai memberitakan bahwa Anak Manusia harus menderita dan mati untuk menyelamatkan umat manusia juga tidak memahami ini. Bayangan Petrus adalah Yesus akan memulihkan Kerajaan Israel secara fisik / pemerintahan. Bagaimana mungkin Sang Mesias justru harus menderita dan mati? Ini sesuatu hal yang sulit dipahami oleh Petrus. Terlebih lagi ketika Yesus memberikan syarat mengikut Dia. Hal ini tentu semakin sulit dipahami. Apalagi dilakukan.

Namun pada akhirnya Petrus dan para murid mengerti. Apa yang dicatat pada ayat 35 juga dilakukan oleh Petrus dan para murid lainnya. Mereka rela kehilangan nyawa demi memberitakan Injil tentang Yesus.

Kita tidak hanya cukup mengenal Yesus dari pengetahuan saja. Tetapi kita harus mengenal hati dan pikiran Yesus. Barulah kita bisa hidup bagi Yesus.

Siapkah kita mengikut Yesus?
Siapkah kita menyangkal diri dan memikul salib?