Kamis, 20 Oktober 2016

Berkata Itu...

Berkata itu...

Bukan apa yang bisa kau kerjakan, tetapi apa yang kau kerjakan.
Bukan apa yang bisa kau pikirkan, tetapi apa yang kau pikirkan.
Bukan apa yang bisa kau rasakan,
tetapi apa yang kau rasakan.
Bukan apa yang bisa kau pahami,
tetapi apa yang kau pahami.

Engkau bisa melakukan, memikirkan, merasakan, memahami. Engkau bisa mencoba semuanya itu. Tetapi apakah kau kerjakan?

Engkau bisa berkata tentang orang lain. Engkau bisa menasehati orang lain. Engkau bisa menilai orang lain menurut dirimu sendiri. Engkau bahkan bisa menghakimi orang lain menurut sudut pandangmu sendiri. Engkau bisa dan mungkin engkau mengerjakannya. Mungkin secara sengaja maupun tidak.

Apakah ada yang salah dengan semua itu? Mungkin tidak. Persoalannya hanya pada satu hal yaitu diri kita sendiri. Sudahkah kita bercermin diri? Sudahkah kita berkata, menasehati, menertawakan bahkan menghakimi diri sendiri sebelum orang lain?
Jika sudah, mungkin kita akan mempunyai sudut pandang yang berbeda. Iya mungkin.

Memahami bukan hanya sekedar mendengar.
Meresapi bukan hanya sekedar membaca.
Melakukan bukan hanya sekedar mengatakan.
Menuntaskan bukan hanya sekedar mengerjakan.

#JedaSejenak
#NR14102016

Rabu, 05 Oktober 2016

Tunjuk Telunjuk

~ Menilai diri sendiri itu gampang! "Saya pasti benar!" ~

Mungkinkah ini kelebihan kita sebagai manusia bahwasanya diri kita sendirilah yang selalu benar? Kita ini orang baik. Itulah pandangan kita. Selalu merasa dirinya sendirilah yang baik.

Dalam hal yang berkonotasi negatif sekalipun, kita selalu merasa kita yang baik. Bukankah kita acapkali mendengar orang berkata bahwa dirinya tidak mau munafik. "Saya memang masih suka melakukan dosa ini dosa itu." Dalam ungkapan tidak mau munafik, seringkali terkandung makna kesombongan dan pembenaran diri sendiri: "Saya masih lebih baik daripada mereka yang kelihatan sok suci dan bersih itu." Apakah itu yang kita lihat dari orang lain? Atau jangan-jangan itu diri kita sendiri? Bisa ya bisa juga bukan.

Apakah ada yang salah dengan sikap di atas? Bukankah itu sesuatu yang jujur. Apa adanya tanpa topeng kesucian? Sudahlah.. Tidak penting bicara benar atau salah, boleh atau tidak bersikap demikian. Adalah jauh lebih penting melihat esensi dan motivasinya serta tujuan yang ingin dicapai. Apakah sebagai kebanggaan untuk kesombongan? Apakah sebagai pengakuan untuk perubahan atau perbaikan diri? Apa dampaknya pada orang lain?

Itu baru dalam tahap pengakuan saja. Bagaimana dalam tahap kebersalahan? Terkadang lebih parah lagi. Bahkan orang lain dikorbankan, dijadikan alasan atau istilahnya kambing hitam (kasihan kamu kambing hitam, selalu dapat yang jelek-jelek). Hal ini bahkan berlangsung mulai dari kejatuhan manusia di dalam dosa. Bukankah Adam menyalahkan Hawa, Hawa menyalahkan ular? Bahkan sebenarnya Adam menyalahkan Tuhan sendiri. Itulah kita, salah pun merasa tidak salah. Pokoknya diri kita yang benar.

Apakah itu yang seringkali kita lihat? Para koruptor, pencuri, pembunuh, pemerkosa, dll tindak kriminalitas jarang ada yang tidak menjadikan pihak lain sebagai kambing hitam, termasuk di dalamnya menyalahkan iblis bahkan Tuhan. Atau jangan-jangan itu refleksi diri kita sendiri? Entahlah..

#JedaSejenak
#NR05102016

Selasa, 04 Oktober 2016

Secuil Alpha, Sebongkah Dharma

~Bukankah selalu lebih mudah mencari kesalahan orang lain daripada kebaikan orang lain?~

Bukankah selalu lebih mudah mencibir, menertawakan, mengejek kelemahan daripada memuji, menyanjung, membanggakan kelebihan seseorang?

Memang betul peribahasa "nila setitik rusak susu sebelangga." Setiap manusia sepertinya memang dituntut sempurna di mata orang lain apalagi jika orang itu adalah orang terkenal. Apapun tingkah tanduknya haruslah kelihatan sempurna. Kita - ya kita para penonton --- begitu gampang mencibir, menjelekkan, berubah haluan 180° tatkala sosok yang diharapkan sempurna itu ada secuil salah saja. Ini hanya dari sosok yang dikatakan baik saja. Jika demikian, betapa lebih lagi keburukan sosok yang dikatakan jahat atau buruk. Mengerikan!

Entah kenapa, apakah mereka pantas diperlakukan demikian? Entahlah..
Bagaimana jika itu adalah diri kita sendiri? Atau jika itu keluarga atau orang yang dekat dengan kita? Bagaimana kita memandangnya? Menjijikkan? Mengerikan?
Entahlah..

Apakah mungkin memang demikian adanya kita ini? Menganakemaskan secuil alpha, menganaktirikan sebongkah dharma. Ataukah memang demikian tuntutan kesempurnaan itu? Sepertinya iya karena sempurna tiadalah bercacat cela. Jika demikian, bukankah memang kita manusia tidak ada yang sempurna?
Jadi kesalahan adalah hal yang lumrah bagi kita. Sesuatu yang bisa dimaklumi. Sesuatu yang kita katakan sangat manusiawi.

Menyadari hal ini juga pun tidak membuat kita menilai diri kita. Kita selalu merasa berhak menjelek-jelekkan orang lain terutama karena kesalahan orang tersebut. Bertindak bak diri sendiri lah yang benar dan suci.

Lalu apakah artinya kesalahan itu adalah sesuatu yang harus didiamkan? Tidak demikian juga. Kesalahan pasti ada konsekuensinya termasuk ya cibiran dan cemoohan atau cacian. Kesalahan pasti ada konsekuensi moral, sosial, bahkan hukum.

Hal yang lebih penting adalah apakah kita menarik pelajaran dari kesalahan orang lain agar kita tidak melakukan kesalahan itu? Apakah kita belajar menjadi lebih bijak menyikapi kesalahan orang lain? Atau kita hanya sekedar ikut-ikutan arus menyudutkan orang yang bersalah semakin terpuruk dan tersudut? Apakah kita ikut mengambil batu untuk merajam yang bersalah? Tidakkah kita belajar dari Kristus Yesus seperti kisah di Yohanes 8:1-11?

~ Menyatakan kesalahan untuk memperbaiki seseorang bukan untuk menghancurkan seseorang lebih dalam lagi ~

"Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."
(2 Timotius 3:16)

#JedaSejenak
#NR04102016

Kamis, 01 September 2016

Selagi

Selagi

Jika
Tiga putar
Menjejak
Syukur
Sudah

Di mana
Kapan
Akhir
Jejak
Entah

Jika
Diijinkan
Tiga putar
Dua Belas
Syukur
Sudah

Asa
Angan
Biarlah
Kejar
Tuntas
Janji
Kerja
Tunai
Tugas
Selagi
Waktu

#NR01092016

Jumat, 26 Agustus 2016

Hati Air

Tiga dasa menjejak bumi
Dasa empat kurang asta
Panjat syukur Ilahi
Kasih anugerah-Mu besar
Terima kasih Tuhan
Satu pintaku
Hati setenang air
Pedang tiada bisa menebas
Toya tiada sanggup memukul
Mengalir bebas tiada beban
Ajari bentuk hati ini
Tetap mengasihi walau dibenci
Tetap teguh walau tertekan
Tiada mendendam walau disakiti
Arahkanlah kaki ini ya Tuhan
Menjejak seturut Dikau
Tegarkan dan kuatkan ya Tuhan
Terus melangkah dalam anugerah-Mu

#NR24082016

Kenang

Subuh bulan lapan
Tiga satu kurang sebelas
Dalam lelap pagi
Dalam ketenangan fajar
Dikau melangkah
Mendahului kami ke rumah baka

Memutar waktu berlalu
Melintas jejak kenangan
Kayuh kakimu mengayun pedal
Mengantar menaik bukit
'Gar kami menimba ilmu

Dalam masa sebelum dikau terbaring
Tatkala malam menuju larut
Motor belum dikandang
Dikau selalu khawatir
Minta nelpon tanya kabar
Tatkala malam larut ke keheningan
Nyala tabung sinar berisik
"Sudah larut malam, kamu belum tidur?" katamu
Kadang...
Risih aku..
Tapi.. Kurindu saat-saat itu
Saat yang tak kan berulang

Selamat jalan paman..
Kita kan bertemu kembali
Nanti di surga baka

#InMemoriam
#NR20082016

Hati Pejuang

Hati Pejuang

Desing peluru tiada gentar
Runcing bambu mengantar tegar
Tekad jiwa raga terkobar
Menjejak bebas negeri sendiri

Kami ingin berlari
Kami ingin mendaki
Kami ingin mengarung
Kami ingin mengangkasa
Di negeri sendiri

Ini tanah kami
Ini air kami
Ini negeri kami
Kami ingin bebas

Desing peluru tiada gentar
Runcing bambu mengantar tegar
Tekad jiwa raga terkobar
Menjejak bebas negeri sendiri

Kami berjuang
Kami rela korban diri
Kami ingin jejak bebas negeri sendiri
Kami ingin cucu cicit bebas jejak negeri
Kami ingin Indonesia merdeka!
Tak sudi kami terus di jajah
Habis Holland lalu Nippon
Kami ingin Indonesia bebas!
Indonesia Raya!

#NR17082016

Lucunya Kami Bermimpi

Lucunya Kami Bermimpi

Ini mimpi kami punya
Kami mimpi mimpi kami
Ini mimpi nyata mimpi
Kami hidup beralas mimpi

Ini (mimpi) kami punya
Ribuan pulau
Jutaan flora
Miliaran fauna
Pelangi mineral
Ah elok nian kaya
Kami kaya kami koar
Tapi tiada kami punya

Ini mimpi kami punya
Makmur sejahtera permai tenteram
Ah indahnya kami punya mimpi
Kami bangga dalam koar mimpi
Kami kaya kami koar
Tapi tiada kami punya

Kami gugat Tuhan
Kami minta yang terbaik
Agar kami berada
Tuhan kasih kami kaget
Kami tolak kami gugat
Tuhan bingung kami punya mimpi
Ah lucunya kalian ini kata Tuhan
Ini mimpi kami punya, Tuhan
Kabulkan kami punya mimpi
Kami terus gugat Tuhan
Kami bangga dalam mimpi
Tuhan pun pusing lihat kami punya mimpi
Ini mimpi kami punya

#NR16082016

Kentut

Kentut

Omong ini hari
Esok boleh beda
Koar anu ini hari
Esok koar itu
Kutu memang loncat?
Ketika omong hanyalah kentut
Kambing berbedak meong
Macan bertudung rusa
Ah biasa sudah itu
Harkat integritas obral murah
Demi sebungkus nasi
Segenggam emas dalam mimpi
Ah biasa sudah itu
Apalah arti suatu omong
Bukankah omong hanya kentut?

#NR11082016

Selasa, 09 Agustus 2016

"Berat Nian Masalahku..."

"Berat Nian Masalahku..."

~ Ada kalanya beratnya beban masalah bukanlah pada masalah itu sendiri. Tetapi pada diri kita sendiri yang terlalu memaksa untuk dapat menyelesaikan masalah itu ataupun terlalu memaksa diri untuk mengikuti maunya masalah --- kita fokus atau larut pada diri kita sendiri. ~

Apakah maksudnya kita harus melarikan diri dari masalah? Apakah kita jangan memikirkan masalah?
Tidak! Bukan seperti itu!
Masalah adalah masalah. Suka atau tidak suka, memang kita harus menghadapinya. Bagaimana kita menghadapinya yang membedakan berat tidaknya beban masalah itu bagi kita. Kecenderungan kita umumnya adalah larut dalam masalah sehingga sulit bagi kita berpikir jernih dan melihat solusi dari masalah. Kita bisa larut meratapi diri ataupun sebaliknya berusaha sekuat tenaga mengangkat masalah dengan tangan kita sendiri. Inilah yang sering kita lakukan bukan?

Kita jarang untuk beristirahat sejenak. Kita jarang mengambil jeda sejenak. Kita jarang mencoba men-zoom out sudut pandang kita atas masalah. Kita terlalu egosentris.

Lebih parahnya lagi kita cenderung menyalahkan pihak lain. Jujur saja, siapakah yang paling sering kita salahkan jika ada masalah menimpa kita? Nasib? Tuhan? Jika mau jujur bukankah Tuhan seringkali menjadi pihak yang sering kita salahkan?

"Firman Tuhan tidak pernah menyederhanakan atau menyepelekan masalah, pergumulan, maupun penderitaan."

Ketika merenungkan kutipan khotbah di Ibadah Raya minggu kemarin, saya menyadari satu hal, masalah adalah hal yang serius. Masalah memang bukan hal yang bisa kita sederhanakan. Ketika kita mencoba menyederhanakan masalah, kita sebenarnya sedang membesarkan masalah. Kita mencoba lari dari masalah. Masalah sudah ada beratnya sendiri. Janganlah kita menambahkan beratnya lagi. Ilustrasi tentang tas yang berat bagi seorang anak kecil, namun tidak bagi ayahnya cukup menggambarkan bahwa sebenarnya bukan soal berat ringannya masalah. Namun bagaimana kita memandang masalah itu. Kita seperti anak kecil itu, kekuatan kita tidak seberapa namun memaksa diri untuk harus bisa mengangkat tas itu. Kita berpikir kita mampu, padahal sesungguhnya tidak. Kita hendaknya menyadari batas kemampuan kita. Namun ini tidak berarti kita sedikit-sedikit menyerahkan atau melemparkan masalah kepada Tuhan. Biar Tuhan yang selesaikan. Itu juga sikap yang tidak tepat.

Hendaknya kita bisa menempatkan diri pada perimbangan yang tepat. Kita tetap menghadapi masalah tersebut. Tapi kita juga harus yakin dan percaya Tuhan akan menyertai dan menolong kita melewatinya. Namun ini nampaknya hanya mudah diucapkan. Benar! Tidak mudah ketika kita benar-benar dihadapkan pada masalah.

Apa yang harus kita lakukan ketika menghadapi masalah? Sekali lagi jangan lupa tetap harus beristirahat! Itulah kesimpulan dari khotbah minggu kemarin. Kelihatannya sederhana. Ya memang seperti itu. Tapi apakah itu berarti menyederhanakan masalah? Sekali-kali tidak. Tidak ada dikatakan sederhanakan masalah. Namun sikap kita menghadapi masalah. Ada orang yang ketika ada masalah, jadinya tidak mau makan, tidak mau tidur. Yang dipikirkan cuma masalah dan berputar-putar di masalah itu saja. Bukannya memikirkan bagaimana mengatasi masalah ini. Bagaimana menghadapi masalah ini. Pikiran menjadi beku. Dan tidak mampu lagi memikirkan solusi atau jalan keluar. Bahkan sampai lupa bahwa ada Tuhan yang menyertainya. Bukankah kita cenderung seperti itu?

"Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?" (Matius 6:27)

Apakah dengan selalu kuatir, lalu masalah akan terselesaikan? Apakah dengan selalu memikirkan masalah, lalu masalah itu akan selesai dengan sendirinya? Bukankah justru kekhawatiran hanya akan menambah berat masalah? Bukankah dengan tidak mau makan, tidak mau tidur, dll hal yang merusak tubuh hanya akan menambah masalah baru? Pikirkan dan renungkanlah!

"Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!" (Mazmur 3:6)

Bisakah kita seperti apa yang Daud ungkapkan di atas? Meskipun begitu berat masalah yang dia hadapi, dia tetap bisa beristirahat. Dan apakah dia kuatir? Ya dan Tidak! Dia ada kehawatiran tapi tidak berlarut dan menjadi momok bagi dia. Dia yakin Tuhan yang akan menyertainya dan menolongnya melewati masalah-masalah yang ia hadapi. Dapatkah kita seperti itu?

#JedaSejenak
#NR09082016

Jumat, 01 Juli 2016

Belantara

Belantara

Tertegun langit biru
Meresapi jiwai makna
Menjejak diam langkah
Menatap balik jejak
Menghela tanya
Apatah arti semua ini?
Apalah arti perjalanan ini?
Harustah terus berlari?
Mungkin... Mungkin tidak!
Dikau adalah dikau
Usah dijadikan oto
Usah dijadikan diesel
Usah dijadikan roda
Cukup.. Cukup sudah waktu!
Melangkahlah jalani jalanmu
Jalanmu! Bukan jalan disepat pecut!
Meski...
Belantara buas menanti
Gelap lebat awan tiada berkawan
Petir kilat menghantui menyertai
Badai siap menerkam
Laut bergelora ombak menghadang
Berjalan, mengayuhlah
Kayuhlah jalanmu sendiri
Kayuhlah dalam bebas
Melangkah dan kayuhlah
Berlayarlah!

#NR01072016

Selasa, 31 Mei 2016

Ketulusan dan Pengorbanan

Berbicara tentang ketulusan, adakah ketulusan yang benar-benar tulus. Tidak adakah motivasi yang menyertainya?

Beberapa waktu terakhir, ramai dibicarakan khususnya di media sosial tentang topik yang berkaitan dengan fenomena seorang Ahok. Lebih khususnya lagi tentang TemanAHOK. Kerja keras relawan dalam mengumpulkan KTP untuk mendukung Ahok maju di Pilkada DKI 2017 sudah mencapai 900.000 lebih. Dan diperkirakan sebelum batas waktu berakhir, target 1 juta KTP akan dapat dicapai. Ini sebuah pencapaian yang luar biasa. Ini bisa menjadi sejarah baru bagi perjalanan demokrasi di negeri ini.

Kembali lagi ke topik di awal tentang ketulusan. Bagaimana kita memandang sebuah ketulusan itu? Tentu saya yakin ketulusan berkaitan erat dengan motivasi. Pasti ada sesuatu yang mendorong seseorang mau melakukan sesuatu secara tulus. Dan tentunya kita tidak berbicara tentang materi. Materi uang misalnya jika dijadikan sebagai motivasi, tentu bukan lagi namanya ketulusan. Kita juga tidak bisa menjadikan kekuasaan atau posisi sebagai faktor pendorong. Hal yang mendorong itu umumnya dari diri yaitu kasih dan juga keadilan. Keadilan? Iya terutama jika dihubungkan dengan fenomena Ahok, motivasi para relawan yang dengan tulus mendukung perjuangan Ahok mewujudkan keadilan sosial bagi warga DKI ya keadilan itu. Mereka rindu keadilan sosial itu dapat terwujud. Mereka rindu melihat kota mereka maju. Mereka rindu melihat kota mereka sejahtera. Mungkin lebih tepatnya faktor pendorong itu adalah pengharapan yang bukan sekedar janji. Apakah tidak terselip kepentingan lain untuk keuntungan diri sendiri misalnya? Itu dikembalikan ke individu masing-masing.

Sama halnya dengan kasih sejati yang tidak menuntut balas jasa, demikian juga dengan ketulusan. Kasih mendorong seseorang secara tulus mengerjakan atau melakukan sesuatu. Ianya mengalir dan memberi. Berharap kembali mungkin ada tapi tidak menuntut harus kembali.

Ketulusan itu gampang diucapkan, sama halnya dengan kasih. Namun tidaklah mudah dilakukan. Ya mengasihi dengan tulus. Memberi dengan tulus tanpa pamrih. Itu sama sekali tidak mudah dilakukan. Namun tidak berarti tidak bisa dilakukan.

Ketulusan berbicara tentang kemurnian. Seperti emas yang adalah logam mulia. Mengapa disebut mulia? karena ianya murni tidak tercampur bahan lain. Sebuah emas, semakin dibakar akan semakin murni. Ketulusan juga demikian, perlu ditempa. Itu juga sebabnya ketulusan menuntut adanya pengorbanan. Tanpa mau berkorban, tidak mungkin seseorang dapat tulus mengasihi atau memberi atau melakukan sesuatu. Suatu keniscayaan.

Mungkinkah Tuhan Yesus mau berkorban di atas kayu salib untuk menebus manusia yang berdosa jika Ia tidak mengasihi manusia dengan tulus? Saya rasa tidak. Justru karena kasih-Nya lah Ia mau melakukan itu.

Lantas... Bagaimana dengan kita. Adakah kita mengasihi Tuhan Yesus dengan tulus? Seberapa kita sungguh mengasihi-Nya? Setulus semurni apa kasih kita kepada-Nya? Apa buktinya?

Tiga kali Tuhan Yesus bertanya kepada Simon Petrus, "Apakah engkau mengasihi Aku? Apakah engkau sungguh mengasihi Aku?"
Bagaimana jika pertanyaan itu diajukan kepada kita? Apa jawab kita?

#JedaSejenak
#NR31052016

Senin, 30 Mei 2016

Bersyukur Itu...

Bersyukur Itu...

Dalam situasi dan kondisi atau kejadian berdampak positif, kata ini begitu mudah kita ucapkan. Namun tidak demikian ketika dalam keadaan yang buruk. Meskipun ada juga yang selalu benar-benar bersyukur baik dalam saat baik maupun buruk sekalipun.

Kita tidak bisa menafikan bahwa kecenderungan kita adalah bersyukur tatkala itu berdampak baik bagi kita. Tatkala sesuatu yang buruk terjadi, sangat sulit rasanya untuk tetap bersyukur.

Apakah ini sesuatu yang salah? Sulit juga mengatakan salah atau benar. Dan alangkah lebih baik tidak mengatakan masalah salah atau benar. Ini sesuatu yang sangat manusiawi karena kita makhluk yang cenderung egois.

Apa yang mungkin lebih baik direnungkan adalah bagaimana kita bersyukur. Setidaknya inilah yang saya tangkap dari sebuah diskusi dalam suatu kelas pengajaran sabtu yang lalu. Apakah bersyukur itu hanya sekedar suatu luapan emosi dan euforia sesaat? Ataukah hanya sekedar rasa di hati? Ataukah sekedar lips service belaka? Jikalau bukan, lalu apa?

Bersyukur bisa menjadi sesuatu yang sifatnya sangat egois. Fokusnya hanya pada aku. Contohnya misal ada kebakaran, kita bersyukur bahwa bukan kita atau rumah kita yang jadi korban. Hanya sampai di sana ungkapan syukur kita. Apakah ini salah? Kembali lagi kepada pernyataan sebelumnya. Bukan soal benar atau salah.

Kita coba telaah lebih dalam. Adakah wujud syukur itu bisa lebih dari hanya fokus pada diri sendiri? Bagaimana jika fokusnya diarahkan atau diperluas kepada orang lain atau sekitar kita? Apa yang bisa kita lakukan atau kerjakan sebagai ungkapan syukur kita bagi sesama atau sekitar kita? Adakah yang bisa kita kerjakan? Saya yakin tentu ada. Hanya kadang kita tidak mau memikirkannya atau tidak terpikirkan oleh kita. Saya rasa inilah yang lebih penting direnungkan, dipikirkan, dikerjakan dan dilakukan. Bagaimana caranya? Jujur, saya juga tidak bisa atau tidak berani mengatakannya karena saya juga masih merenungi hal ini. Dan ya semoga satu langkah maju dapat diambil nantinya. Semoga...

~NR30052016~

Rabu, 11 Mei 2016

Opium

Opium

Terperih rasa tersayat kata
Pilu geram asap merah
Simpati mengalir (memang)
Opium simpati kalian tebar
Rasa pilu sebatas muka
Opium simpati tuk pesona
Ah...
Terperih rasa tersayat kata
Usahlah pilu dicampur cuka
Usahlah simpati beracun opium
Pilu itu bukan puitis apalagi politis

#NR11052016

Jumat, 29 April 2016

Mengalir

Mengalir

Usah buih koar
Dituli sudah kuping
Kapas digumpal
Pekak
Lelah

Usah cantik coret
Hitam tudung mata
Buram coret cantik
Dibuta
Lelah

Cukup bisik
Cukup gores
Didengar dibaca
Syukur
Dituli dibuta
Bebas
Usah sesak pusing
Mengalir

#NR29042016

Sabtu, 23 April 2016

Kisah Depan

Kisah Depan

Labuh rasa bahtera hati
Sandar rindu rona sumringah
Tersadar sentak belaian angin
Tiada jejak merapat dermaga
Menanti harap berkisah tawa
Melukis kanvas pahit manis
Tersadar tersentak belaian angin
Tarik jangkar melayar asa
Menabuh bara gelora jiwa
Menggores mengukir jejak kisah
Melukis kanvas pahit manis

#NR23042016

Jumat, 22 April 2016

Berbisik Berisik

Berbisik Berisik

Berbisik pada angin
Berisik kata angin
Daun cekikikan
Rumput bertepuk ramai
Tertawai
Ah angin
Tega

Susah tah
Alunkan nada
Sulit tah
Mainkan melodi
Tak jua
Sampaikan
Ah angin
Tega

Mengabur
Memendar
Pudar
Menjauh
Lenyap
Ah angin
Coba acuh
Mungkin
Senyum
Tak memendar
Ah angin
Berbisik kau bilang berisik
Tega

#NR17022016

Senin, 18 April 2016

Sensi

Sensi

Ekspresi menor ekpresif diri
Acungan jempol kau cari
Eksis heboh eksistensi hampa
Heboh sensasi kau cari
Kosong makna mana duli

Masa bodoh kau bilang
Tapi sensi melebihi pluto
Tak digubris meradang meringis
oh eksis ekpresif nan bablas
Ekspresi heboh sarat nir makna
Ah... Ini tah dunia sekarang
Ego narsis melebihi bimasakti

#NR16032016

Dua Bukan Satu

Dua Bukan Satu

Hei kamu
Ya kamu
Kau yang mati-matian
Mati-matian teriak
"Hargai hak kami!"
Tapi
Kau sendiri juga
Kau kebiri hak orang lain
Toleransi kau anggap apa?!
Kau mati-matian
Minta orang toleransi
Tapi kau paksa orang ikuti maumu!
Jika tidak, salah! denda! penjara!
Toleransi apa ini?!
Mana hak mereka?
Yang teguh bahwasanya dua bukan satu.
Yang teguh bahwasanya berlainan bukan sejenis.

Persetan dengan HAM yang kau dengungkan!
Kau sendiri mengebiri HAM orang lain!
Persetan dengan nafsu-mu!
Usah kau paksa orang lain setuju denganmu!
Usah kau tekan mereka atas nama HAM!

#NR07032016

Diam (Rasa)

Diam (Rasa)

Tergelak renyah memecah hening
Bertutur berkisah canda
Bergulir mendetak waktu
Menatap senyum lepas
Rona sipu merah
Mengalun melodi merdu
Memekar taman hati
Terdiam terpanah rasa
Tergelak renyah memecah hening
Tutur kisah mendetak waktu
Satu jam pun berlalu
Terdiam terpanah rasa
Gejolak gelora hati
Terdiam
Dan waktu pun melangkah jauh
Bilakah masa (berulang)?

#NR13022016