Sabtu, 25 Agustus 2018

Jangan Terjebak Fanatisme Buta

Ketika terjebak dalam fanatisme buta, kita cenderung lupa mengkritik. Mengkritik untuk mengingatkan sesuatu hal yang dirasa kurang baik. Bukan menyudutkan untuk menjatuhkan. Kenyataannya adalah kadang justru pengkultusan yang membuat jatuh, bukan kritikan. Lebih susahnya lagi adalah kesulitan untuk membedakan mana kritikan dan mana hasutan. Kritikan yang pada dasarnya baik, jika ditanggapi dengan cara salah (anti-kritik) malah akan membuat orang jadi apatis dan diam saja. Dan tidak jarang ditunggangi atau justru dimanfaatkan pihak yang ingin menjatuhkan. Pada dasarnya setiap kritikan hendaknya dicerna dulu. Diambil hikmahnya. Ditarik pelajarannya. Dan jika ada solusi mungkin bisa dipertimbangkan. Hal lebih parah lagi adalah fans yang terlalu mengkultuskan junjungannya. Pokoknya junjungannya pasti benar punya. Para fans inilah yang cenderung tidak bisa menerima kritikan dan akibatnya kritikan yang pada dasarnya baik dan memberi masukan penting menjadi seolah sia-sia. Paling parahnya jika sang junjungan cenderung hanya menilai keberhasilan apa yang dia kerjakan dari respons positif para fans butanya itu. Bukan melihat secara keseluruhan sampai kepada akar rumput. Padahal apa yang ada ditataran fans buta belum tentu merepresentasikan secara jelas apa yang sebenarnya terjadi di akar rumput.

Dalam ranah ekonomi yang katanya lesu saat ini, hendaknya pemerintah benar-benar mulai mencerna anomali apa yang sebenarnya terjadi. Keberhasilan penataan dalam tataran pucuk belum tentu menyerap langsung ke tataran akar rumput. Mungkin ada baiknya menilai dengan bijak. Mungkin saja ada hal-hal kecil yang tidak terperhatikan yang justru berpotensi menjadi permasalahan besar di kemudian hari.

Apakah benar pola konsumsi atau belanja masyarakat sudah bergeser ke online sehingga ada beberapa sektor (misalnya ritel) yang menjadi lesu? Mungkin iya dan mungkin juga tidak. Tapi seberapa besar persentase online ini? Apakah merepresentasikan semuanya sampai ke akar rumput? Sepertinya tidak. Apakah benar pengaruhnya begitu signifikan? Mungkin tidak.

Apakah benar juga masyarakat sekarang cenderung lebih hemat dan tidak jor-joran dalam konsumsi sehingga perputaran ekonomi melesu? Mungkin iya. Jika iya apa penyebabnya? Penghasilan yang berkurang? Lapangan kerja yang semakin berkurang? PHK? Banyak usaha tutup? Biaya-biaya hidup yang semakin tinggi? Atau ada hubungan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang kurang tepat? Adakah hubungan itu semua? Mungkin ada.

Atau apakah ada hubungannya dengan fokus pemerintah yang sekarang lebih ke pembangunan infrastruktur? Pembangunan infrastruktur memang penting dan mendesak. Memang hasilnya tidak bisa segera dirasakan. Perlu waktu. Hanya saja hal yang perlu diwaspadai adalah kesiapan menanggulangi efek dari pergerakan fokus ini yang dulunya lebih ke konsumsi. Tentu banyak yang terdampak. Dan mungkin banyak yang tidak siap. Lagipula pembangunan infrastruktur ini lebih banyak dikerjakan negara melalui BUMN. Pihak swasta kurang. Seperti tulisan Dahlan Iskan, fenomena ayam petelur yang stres sehingga tidak bisa bertelur. Mungkin analisa ini ada benarnya juga.

Dan juga kestabilan politik dan keamanan. Mungkin ini pengaruhnya besar juga. Termasuk juga masalah penegakan hukum dan kerukunan. Tentu memberi kontribusi yang besar pula.

Apapun itu, kerikil-kerikil kecil tetap perlu diwaspadai karena salah-salah kita bisa terpeleset.

#CatatanPinggir
#16112017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar