Selasa, 31 Mei 2016

Ketulusan dan Pengorbanan

Berbicara tentang ketulusan, adakah ketulusan yang benar-benar tulus. Tidak adakah motivasi yang menyertainya?

Beberapa waktu terakhir, ramai dibicarakan khususnya di media sosial tentang topik yang berkaitan dengan fenomena seorang Ahok. Lebih khususnya lagi tentang TemanAHOK. Kerja keras relawan dalam mengumpulkan KTP untuk mendukung Ahok maju di Pilkada DKI 2017 sudah mencapai 900.000 lebih. Dan diperkirakan sebelum batas waktu berakhir, target 1 juta KTP akan dapat dicapai. Ini sebuah pencapaian yang luar biasa. Ini bisa menjadi sejarah baru bagi perjalanan demokrasi di negeri ini.

Kembali lagi ke topik di awal tentang ketulusan. Bagaimana kita memandang sebuah ketulusan itu? Tentu saya yakin ketulusan berkaitan erat dengan motivasi. Pasti ada sesuatu yang mendorong seseorang mau melakukan sesuatu secara tulus. Dan tentunya kita tidak berbicara tentang materi. Materi uang misalnya jika dijadikan sebagai motivasi, tentu bukan lagi namanya ketulusan. Kita juga tidak bisa menjadikan kekuasaan atau posisi sebagai faktor pendorong. Hal yang mendorong itu umumnya dari diri yaitu kasih dan juga keadilan. Keadilan? Iya terutama jika dihubungkan dengan fenomena Ahok, motivasi para relawan yang dengan tulus mendukung perjuangan Ahok mewujudkan keadilan sosial bagi warga DKI ya keadilan itu. Mereka rindu keadilan sosial itu dapat terwujud. Mereka rindu melihat kota mereka maju. Mereka rindu melihat kota mereka sejahtera. Mungkin lebih tepatnya faktor pendorong itu adalah pengharapan yang bukan sekedar janji. Apakah tidak terselip kepentingan lain untuk keuntungan diri sendiri misalnya? Itu dikembalikan ke individu masing-masing.

Sama halnya dengan kasih sejati yang tidak menuntut balas jasa, demikian juga dengan ketulusan. Kasih mendorong seseorang secara tulus mengerjakan atau melakukan sesuatu. Ianya mengalir dan memberi. Berharap kembali mungkin ada tapi tidak menuntut harus kembali.

Ketulusan itu gampang diucapkan, sama halnya dengan kasih. Namun tidaklah mudah dilakukan. Ya mengasihi dengan tulus. Memberi dengan tulus tanpa pamrih. Itu sama sekali tidak mudah dilakukan. Namun tidak berarti tidak bisa dilakukan.

Ketulusan berbicara tentang kemurnian. Seperti emas yang adalah logam mulia. Mengapa disebut mulia? karena ianya murni tidak tercampur bahan lain. Sebuah emas, semakin dibakar akan semakin murni. Ketulusan juga demikian, perlu ditempa. Itu juga sebabnya ketulusan menuntut adanya pengorbanan. Tanpa mau berkorban, tidak mungkin seseorang dapat tulus mengasihi atau memberi atau melakukan sesuatu. Suatu keniscayaan.

Mungkinkah Tuhan Yesus mau berkorban di atas kayu salib untuk menebus manusia yang berdosa jika Ia tidak mengasihi manusia dengan tulus? Saya rasa tidak. Justru karena kasih-Nya lah Ia mau melakukan itu.

Lantas... Bagaimana dengan kita. Adakah kita mengasihi Tuhan Yesus dengan tulus? Seberapa kita sungguh mengasihi-Nya? Setulus semurni apa kasih kita kepada-Nya? Apa buktinya?

Tiga kali Tuhan Yesus bertanya kepada Simon Petrus, "Apakah engkau mengasihi Aku? Apakah engkau sungguh mengasihi Aku?"
Bagaimana jika pertanyaan itu diajukan kepada kita? Apa jawab kita?

#JedaSejenak
#NR31052016

Senin, 30 Mei 2016

Bersyukur Itu...

Bersyukur Itu...

Dalam situasi dan kondisi atau kejadian berdampak positif, kata ini begitu mudah kita ucapkan. Namun tidak demikian ketika dalam keadaan yang buruk. Meskipun ada juga yang selalu benar-benar bersyukur baik dalam saat baik maupun buruk sekalipun.

Kita tidak bisa menafikan bahwa kecenderungan kita adalah bersyukur tatkala itu berdampak baik bagi kita. Tatkala sesuatu yang buruk terjadi, sangat sulit rasanya untuk tetap bersyukur.

Apakah ini sesuatu yang salah? Sulit juga mengatakan salah atau benar. Dan alangkah lebih baik tidak mengatakan masalah salah atau benar. Ini sesuatu yang sangat manusiawi karena kita makhluk yang cenderung egois.

Apa yang mungkin lebih baik direnungkan adalah bagaimana kita bersyukur. Setidaknya inilah yang saya tangkap dari sebuah diskusi dalam suatu kelas pengajaran sabtu yang lalu. Apakah bersyukur itu hanya sekedar suatu luapan emosi dan euforia sesaat? Ataukah hanya sekedar rasa di hati? Ataukah sekedar lips service belaka? Jikalau bukan, lalu apa?

Bersyukur bisa menjadi sesuatu yang sifatnya sangat egois. Fokusnya hanya pada aku. Contohnya misal ada kebakaran, kita bersyukur bahwa bukan kita atau rumah kita yang jadi korban. Hanya sampai di sana ungkapan syukur kita. Apakah ini salah? Kembali lagi kepada pernyataan sebelumnya. Bukan soal benar atau salah.

Kita coba telaah lebih dalam. Adakah wujud syukur itu bisa lebih dari hanya fokus pada diri sendiri? Bagaimana jika fokusnya diarahkan atau diperluas kepada orang lain atau sekitar kita? Apa yang bisa kita lakukan atau kerjakan sebagai ungkapan syukur kita bagi sesama atau sekitar kita? Adakah yang bisa kita kerjakan? Saya yakin tentu ada. Hanya kadang kita tidak mau memikirkannya atau tidak terpikirkan oleh kita. Saya rasa inilah yang lebih penting direnungkan, dipikirkan, dikerjakan dan dilakukan. Bagaimana caranya? Jujur, saya juga tidak bisa atau tidak berani mengatakannya karena saya juga masih merenungi hal ini. Dan ya semoga satu langkah maju dapat diambil nantinya. Semoga...

~NR30052016~

Rabu, 11 Mei 2016

Opium

Opium

Terperih rasa tersayat kata
Pilu geram asap merah
Simpati mengalir (memang)
Opium simpati kalian tebar
Rasa pilu sebatas muka
Opium simpati tuk pesona
Ah...
Terperih rasa tersayat kata
Usahlah pilu dicampur cuka
Usahlah simpati beracun opium
Pilu itu bukan puitis apalagi politis

#NR11052016