Kamis, 20 Oktober 2016

Berkata Itu...

Berkata itu...

Bukan apa yang bisa kau kerjakan, tetapi apa yang kau kerjakan.
Bukan apa yang bisa kau pikirkan, tetapi apa yang kau pikirkan.
Bukan apa yang bisa kau rasakan,
tetapi apa yang kau rasakan.
Bukan apa yang bisa kau pahami,
tetapi apa yang kau pahami.

Engkau bisa melakukan, memikirkan, merasakan, memahami. Engkau bisa mencoba semuanya itu. Tetapi apakah kau kerjakan?

Engkau bisa berkata tentang orang lain. Engkau bisa menasehati orang lain. Engkau bisa menilai orang lain menurut dirimu sendiri. Engkau bahkan bisa menghakimi orang lain menurut sudut pandangmu sendiri. Engkau bisa dan mungkin engkau mengerjakannya. Mungkin secara sengaja maupun tidak.

Apakah ada yang salah dengan semua itu? Mungkin tidak. Persoalannya hanya pada satu hal yaitu diri kita sendiri. Sudahkah kita bercermin diri? Sudahkah kita berkata, menasehati, menertawakan bahkan menghakimi diri sendiri sebelum orang lain?
Jika sudah, mungkin kita akan mempunyai sudut pandang yang berbeda. Iya mungkin.

Memahami bukan hanya sekedar mendengar.
Meresapi bukan hanya sekedar membaca.
Melakukan bukan hanya sekedar mengatakan.
Menuntaskan bukan hanya sekedar mengerjakan.

#JedaSejenak
#NR14102016

Rabu, 05 Oktober 2016

Tunjuk Telunjuk

~ Menilai diri sendiri itu gampang! "Saya pasti benar!" ~

Mungkinkah ini kelebihan kita sebagai manusia bahwasanya diri kita sendirilah yang selalu benar? Kita ini orang baik. Itulah pandangan kita. Selalu merasa dirinya sendirilah yang baik.

Dalam hal yang berkonotasi negatif sekalipun, kita selalu merasa kita yang baik. Bukankah kita acapkali mendengar orang berkata bahwa dirinya tidak mau munafik. "Saya memang masih suka melakukan dosa ini dosa itu." Dalam ungkapan tidak mau munafik, seringkali terkandung makna kesombongan dan pembenaran diri sendiri: "Saya masih lebih baik daripada mereka yang kelihatan sok suci dan bersih itu." Apakah itu yang kita lihat dari orang lain? Atau jangan-jangan itu diri kita sendiri? Bisa ya bisa juga bukan.

Apakah ada yang salah dengan sikap di atas? Bukankah itu sesuatu yang jujur. Apa adanya tanpa topeng kesucian? Sudahlah.. Tidak penting bicara benar atau salah, boleh atau tidak bersikap demikian. Adalah jauh lebih penting melihat esensi dan motivasinya serta tujuan yang ingin dicapai. Apakah sebagai kebanggaan untuk kesombongan? Apakah sebagai pengakuan untuk perubahan atau perbaikan diri? Apa dampaknya pada orang lain?

Itu baru dalam tahap pengakuan saja. Bagaimana dalam tahap kebersalahan? Terkadang lebih parah lagi. Bahkan orang lain dikorbankan, dijadikan alasan atau istilahnya kambing hitam (kasihan kamu kambing hitam, selalu dapat yang jelek-jelek). Hal ini bahkan berlangsung mulai dari kejatuhan manusia di dalam dosa. Bukankah Adam menyalahkan Hawa, Hawa menyalahkan ular? Bahkan sebenarnya Adam menyalahkan Tuhan sendiri. Itulah kita, salah pun merasa tidak salah. Pokoknya diri kita yang benar.

Apakah itu yang seringkali kita lihat? Para koruptor, pencuri, pembunuh, pemerkosa, dll tindak kriminalitas jarang ada yang tidak menjadikan pihak lain sebagai kambing hitam, termasuk di dalamnya menyalahkan iblis bahkan Tuhan. Atau jangan-jangan itu refleksi diri kita sendiri? Entahlah..

#JedaSejenak
#NR05102016

Selasa, 04 Oktober 2016

Secuil Alpha, Sebongkah Dharma

~Bukankah selalu lebih mudah mencari kesalahan orang lain daripada kebaikan orang lain?~

Bukankah selalu lebih mudah mencibir, menertawakan, mengejek kelemahan daripada memuji, menyanjung, membanggakan kelebihan seseorang?

Memang betul peribahasa "nila setitik rusak susu sebelangga." Setiap manusia sepertinya memang dituntut sempurna di mata orang lain apalagi jika orang itu adalah orang terkenal. Apapun tingkah tanduknya haruslah kelihatan sempurna. Kita - ya kita para penonton --- begitu gampang mencibir, menjelekkan, berubah haluan 180° tatkala sosok yang diharapkan sempurna itu ada secuil salah saja. Ini hanya dari sosok yang dikatakan baik saja. Jika demikian, betapa lebih lagi keburukan sosok yang dikatakan jahat atau buruk. Mengerikan!

Entah kenapa, apakah mereka pantas diperlakukan demikian? Entahlah..
Bagaimana jika itu adalah diri kita sendiri? Atau jika itu keluarga atau orang yang dekat dengan kita? Bagaimana kita memandangnya? Menjijikkan? Mengerikan?
Entahlah..

Apakah mungkin memang demikian adanya kita ini? Menganakemaskan secuil alpha, menganaktirikan sebongkah dharma. Ataukah memang demikian tuntutan kesempurnaan itu? Sepertinya iya karena sempurna tiadalah bercacat cela. Jika demikian, bukankah memang kita manusia tidak ada yang sempurna?
Jadi kesalahan adalah hal yang lumrah bagi kita. Sesuatu yang bisa dimaklumi. Sesuatu yang kita katakan sangat manusiawi.

Menyadari hal ini juga pun tidak membuat kita menilai diri kita. Kita selalu merasa berhak menjelek-jelekkan orang lain terutama karena kesalahan orang tersebut. Bertindak bak diri sendiri lah yang benar dan suci.

Lalu apakah artinya kesalahan itu adalah sesuatu yang harus didiamkan? Tidak demikian juga. Kesalahan pasti ada konsekuensinya termasuk ya cibiran dan cemoohan atau cacian. Kesalahan pasti ada konsekuensi moral, sosial, bahkan hukum.

Hal yang lebih penting adalah apakah kita menarik pelajaran dari kesalahan orang lain agar kita tidak melakukan kesalahan itu? Apakah kita belajar menjadi lebih bijak menyikapi kesalahan orang lain? Atau kita hanya sekedar ikut-ikutan arus menyudutkan orang yang bersalah semakin terpuruk dan tersudut? Apakah kita ikut mengambil batu untuk merajam yang bersalah? Tidakkah kita belajar dari Kristus Yesus seperti kisah di Yohanes 8:1-11?

~ Menyatakan kesalahan untuk memperbaiki seseorang bukan untuk menghancurkan seseorang lebih dalam lagi ~

"Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."
(2 Timotius 3:16)

#JedaSejenak
#NR04102016