~ Menilai diri sendiri itu gampang! "Saya pasti benar!" ~
Mungkinkah ini kelebihan kita sebagai manusia bahwasanya diri kita sendirilah yang selalu benar? Kita ini orang baik. Itulah pandangan kita. Selalu merasa dirinya sendirilah yang baik.
Dalam hal yang berkonotasi negatif sekalipun, kita selalu merasa kita yang baik. Bukankah kita acapkali mendengar orang berkata bahwa dirinya tidak mau munafik. "Saya memang masih suka melakukan dosa ini dosa itu." Dalam ungkapan tidak mau munafik, seringkali terkandung makna kesombongan dan pembenaran diri sendiri: "Saya masih lebih baik daripada mereka yang kelihatan sok suci dan bersih itu." Apakah itu yang kita lihat dari orang lain? Atau jangan-jangan itu diri kita sendiri? Bisa ya bisa juga bukan.
Apakah ada yang salah dengan sikap di atas? Bukankah itu sesuatu yang jujur. Apa adanya tanpa topeng kesucian? Sudahlah.. Tidak penting bicara benar atau salah, boleh atau tidak bersikap demikian. Adalah jauh lebih penting melihat esensi dan motivasinya serta tujuan yang ingin dicapai. Apakah sebagai kebanggaan untuk kesombongan? Apakah sebagai pengakuan untuk perubahan atau perbaikan diri? Apa dampaknya pada orang lain?
Itu baru dalam tahap pengakuan saja. Bagaimana dalam tahap kebersalahan? Terkadang lebih parah lagi. Bahkan orang lain dikorbankan, dijadikan alasan atau istilahnya kambing hitam (kasihan kamu kambing hitam, selalu dapat yang jelek-jelek). Hal ini bahkan berlangsung mulai dari kejatuhan manusia di dalam dosa. Bukankah Adam menyalahkan Hawa, Hawa menyalahkan ular? Bahkan sebenarnya Adam menyalahkan Tuhan sendiri. Itulah kita, salah pun merasa tidak salah. Pokoknya diri kita yang benar.
Apakah itu yang seringkali kita lihat? Para koruptor, pencuri, pembunuh, pemerkosa, dll tindak kriminalitas jarang ada yang tidak menjadikan pihak lain sebagai kambing hitam, termasuk di dalamnya menyalahkan iblis bahkan Tuhan. Atau jangan-jangan itu refleksi diri kita sendiri? Entahlah..
#JedaSejenak
#NR05102016
Mungkinkah ini kelebihan kita sebagai manusia bahwasanya diri kita sendirilah yang selalu benar? Kita ini orang baik. Itulah pandangan kita. Selalu merasa dirinya sendirilah yang baik.
Dalam hal yang berkonotasi negatif sekalipun, kita selalu merasa kita yang baik. Bukankah kita acapkali mendengar orang berkata bahwa dirinya tidak mau munafik. "Saya memang masih suka melakukan dosa ini dosa itu." Dalam ungkapan tidak mau munafik, seringkali terkandung makna kesombongan dan pembenaran diri sendiri: "Saya masih lebih baik daripada mereka yang kelihatan sok suci dan bersih itu." Apakah itu yang kita lihat dari orang lain? Atau jangan-jangan itu diri kita sendiri? Bisa ya bisa juga bukan.
Apakah ada yang salah dengan sikap di atas? Bukankah itu sesuatu yang jujur. Apa adanya tanpa topeng kesucian? Sudahlah.. Tidak penting bicara benar atau salah, boleh atau tidak bersikap demikian. Adalah jauh lebih penting melihat esensi dan motivasinya serta tujuan yang ingin dicapai. Apakah sebagai kebanggaan untuk kesombongan? Apakah sebagai pengakuan untuk perubahan atau perbaikan diri? Apa dampaknya pada orang lain?
Itu baru dalam tahap pengakuan saja. Bagaimana dalam tahap kebersalahan? Terkadang lebih parah lagi. Bahkan orang lain dikorbankan, dijadikan alasan atau istilahnya kambing hitam (kasihan kamu kambing hitam, selalu dapat yang jelek-jelek). Hal ini bahkan berlangsung mulai dari kejatuhan manusia di dalam dosa. Bukankah Adam menyalahkan Hawa, Hawa menyalahkan ular? Bahkan sebenarnya Adam menyalahkan Tuhan sendiri. Itulah kita, salah pun merasa tidak salah. Pokoknya diri kita yang benar.
Apakah itu yang seringkali kita lihat? Para koruptor, pencuri, pembunuh, pemerkosa, dll tindak kriminalitas jarang ada yang tidak menjadikan pihak lain sebagai kambing hitam, termasuk di dalamnya menyalahkan iblis bahkan Tuhan. Atau jangan-jangan itu refleksi diri kita sendiri? Entahlah..
#JedaSejenak
#NR05102016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar