~Bukankah selalu lebih mudah mencari kesalahan orang lain daripada kebaikan orang lain?~
Bukankah selalu lebih mudah mencibir, menertawakan, mengejek kelemahan daripada memuji, menyanjung, membanggakan kelebihan seseorang?
Memang betul peribahasa "nila setitik rusak susu sebelangga." Setiap manusia sepertinya memang dituntut sempurna di mata orang lain apalagi jika orang itu adalah orang terkenal. Apapun tingkah tanduknya haruslah kelihatan sempurna. Kita - ya kita para penonton --- begitu gampang mencibir, menjelekkan, berubah haluan 180° tatkala sosok yang diharapkan sempurna itu ada secuil salah saja. Ini hanya dari sosok yang dikatakan baik saja. Jika demikian, betapa lebih lagi keburukan sosok yang dikatakan jahat atau buruk. Mengerikan!
Entah kenapa, apakah mereka pantas diperlakukan demikian? Entahlah..
Bagaimana jika itu adalah diri kita sendiri? Atau jika itu keluarga atau orang yang dekat dengan kita? Bagaimana kita memandangnya? Menjijikkan? Mengerikan?
Entahlah..
Apakah mungkin memang demikian adanya kita ini? Menganakemaskan secuil alpha, menganaktirikan sebongkah dharma. Ataukah memang demikian tuntutan kesempurnaan itu? Sepertinya iya karena sempurna tiadalah bercacat cela. Jika demikian, bukankah memang kita manusia tidak ada yang sempurna?
Jadi kesalahan adalah hal yang lumrah bagi kita. Sesuatu yang bisa dimaklumi. Sesuatu yang kita katakan sangat manusiawi.
Menyadari hal ini juga pun tidak membuat kita menilai diri kita. Kita selalu merasa berhak menjelek-jelekkan orang lain terutama karena kesalahan orang tersebut. Bertindak bak diri sendiri lah yang benar dan suci.
Lalu apakah artinya kesalahan itu adalah sesuatu yang harus didiamkan? Tidak demikian juga. Kesalahan pasti ada konsekuensinya termasuk ya cibiran dan cemoohan atau cacian. Kesalahan pasti ada konsekuensi moral, sosial, bahkan hukum.
Hal yang lebih penting adalah apakah kita menarik pelajaran dari kesalahan orang lain agar kita tidak melakukan kesalahan itu? Apakah kita belajar menjadi lebih bijak menyikapi kesalahan orang lain? Atau kita hanya sekedar ikut-ikutan arus menyudutkan orang yang bersalah semakin terpuruk dan tersudut? Apakah kita ikut mengambil batu untuk merajam yang bersalah? Tidakkah kita belajar dari Kristus Yesus seperti kisah di Yohanes 8:1-11?
~ Menyatakan kesalahan untuk memperbaiki seseorang bukan untuk menghancurkan seseorang lebih dalam lagi ~
"Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."
(2 Timotius 3:16)
#JedaSejenak
#NR04102016
Bukankah selalu lebih mudah mencibir, menertawakan, mengejek kelemahan daripada memuji, menyanjung, membanggakan kelebihan seseorang?
Memang betul peribahasa "nila setitik rusak susu sebelangga." Setiap manusia sepertinya memang dituntut sempurna di mata orang lain apalagi jika orang itu adalah orang terkenal. Apapun tingkah tanduknya haruslah kelihatan sempurna. Kita - ya kita para penonton --- begitu gampang mencibir, menjelekkan, berubah haluan 180° tatkala sosok yang diharapkan sempurna itu ada secuil salah saja. Ini hanya dari sosok yang dikatakan baik saja. Jika demikian, betapa lebih lagi keburukan sosok yang dikatakan jahat atau buruk. Mengerikan!
Entah kenapa, apakah mereka pantas diperlakukan demikian? Entahlah..
Bagaimana jika itu adalah diri kita sendiri? Atau jika itu keluarga atau orang yang dekat dengan kita? Bagaimana kita memandangnya? Menjijikkan? Mengerikan?
Entahlah..
Apakah mungkin memang demikian adanya kita ini? Menganakemaskan secuil alpha, menganaktirikan sebongkah dharma. Ataukah memang demikian tuntutan kesempurnaan itu? Sepertinya iya karena sempurna tiadalah bercacat cela. Jika demikian, bukankah memang kita manusia tidak ada yang sempurna?
Jadi kesalahan adalah hal yang lumrah bagi kita. Sesuatu yang bisa dimaklumi. Sesuatu yang kita katakan sangat manusiawi.
Menyadari hal ini juga pun tidak membuat kita menilai diri kita. Kita selalu merasa berhak menjelek-jelekkan orang lain
Lalu apakah artinya kesalahan itu adalah sesuatu yang harus didiamkan? Tidak demikian juga. Kesalahan pasti ada konsekuensinya termasuk ya cibiran dan cemoohan atau cacian. Kesalahan pasti ada konsekuensi moral, sosial, bahkan hukum.
Hal yang lebih penting adalah apakah kita menarik pelajaran dari kesalahan orang lain agar kita tidak melakukan kesalahan itu? Apakah kita belajar menjadi lebih bijak menyikapi kesalahan orang lain? Atau kita hanya sekedar ikut-ikutan arus menyudutkan orang yang bersalah semakin terpuruk dan tersudut? Apakah kita ikut mengambil batu untuk merajam yang bersalah? Tidakkah kita belajar dari Kristus Yesus seperti kisah di Yohanes 8:1-11?
~ Menyatakan kesalahan untuk memperbaiki seseorang bukan untuk menghancurkan seseorang lebih dalam lagi ~
"Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."
(2 Timotius 3:16)
#JedaSejenak
#NR04102016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar