Bersyukur Itu...
Dalam situasi dan kondisi atau kejadian berdampak positif, kata ini begitu mudah kita ucapkan. Namun tidak demikian ketika dalam keadaan yang buruk. Meskipun ada juga yang selalu benar-benar bersyukur baik dalam saat baik maupun buruk sekalipun.
Kita tidak bisa menafikan bahwa kecenderungan kita adalah bersyukur tatkala itu berdampak baik bagi kita. Tatkala sesuatu yang buruk terjadi, sangat sulit rasanya untuk tetap bersyukur.
Apakah ini sesuatu yang salah? Sulit juga mengatakan salah atau benar. Dan alangkah lebih baik tidak mengatakan masalah salah atau benar. Ini sesuatu yang sangat manusiawi karena kita makhluk yang cenderung egois.
Apa yang mungkin lebih baik direnungkan adalah bagaimana kita bersyukur. Setidaknya inilah yang saya tangkap dari sebuah diskusi dalam suatu kelas pengajaran sabtu yang lalu. Apakah bersyukur itu hanya sekedar suatu luapan emosi dan euforia sesaat? Ataukah hanya sekedar rasa di hati? Ataukah sekedar lips service belaka? Jikalau bukan, lalu apa?
Bersyukur bisa menjadi sesuatu yang sifatnya sangat egois. Fokusnya hanya pada aku. Contohnya misal ada kebakaran, kita bersyukur bahwa bukan kita atau rumah kita yang jadi korban. Hanya sampai di sana ungkapan syukur kita. Apakah ini salah? Kembali lagi kepada pernyataan sebelumnya. Bukan soal benar atau salah.
Kita coba telaah lebih dalam. Adakah wujud syukur itu bisa lebih dari hanya fokus pada diri sendiri? Bagaimana jika fokusnya diarahkan atau diperluas kepada orang lain atau sekitar kita? Apa yang bisa kita lakukan atau kerjakan sebagai ungkapan syukur kita bagi sesama atau sekitar kita? Adakah yang bisa kita kerjakan? Saya yakin tentu ada. Hanya kadang kita tidak mau memikirkannya atau tidak terpikirkan oleh kita. Saya rasa inilah yang lebih penting direnungkan, dipikirkan, dikerjakan dan dilakukan. Bagaimana caranya? Jujur, saya juga tidak bisa atau tidak berani mengatakannya karena saya juga masih merenungi hal ini. Dan ya semoga satu langkah maju dapat diambil nantinya. Semoga...
~NR30052016~
Dalam situasi dan kondisi atau kejadian berdampak positif, kata ini begitu mudah kita ucapkan. Namun tidak demikian ketika dalam keadaan yang buruk. Meskipun ada juga yang selalu benar-benar bersyukur baik dalam saat baik maupun buruk sekalipun.
Kita tidak bisa menafikan bahwa kecenderungan kita adalah bersyukur tatkala itu berdampak baik bagi kita. Tatkala sesuatu yang buruk terjadi, sangat sulit rasanya untuk tetap bersyukur.
Apakah ini sesuatu yang salah? Sulit juga mengatakan salah atau benar. Dan alangkah lebih baik tidak mengatakan masalah salah atau benar. Ini sesuatu yang sangat manusiawi karena kita makhluk yang cenderung egois.
Apa yang mungkin lebih baik direnungkan adalah bagaimana kita bersyukur. Setidaknya inilah yang saya tangkap dari sebuah diskusi dalam suatu kelas pengajaran sabtu yang lalu. Apakah bersyukur itu hanya sekedar suatu luapan emosi dan euforia sesaat? Ataukah hanya sekedar rasa di hati? Ataukah sekedar lips service belaka? Jikalau bukan, lalu apa?
Bersyukur bisa menjadi sesuatu yang sifatnya sangat egois. Fokusnya hanya pada aku. Contohnya misal ada kebakaran, kita bersyukur bahwa bukan kita atau rumah kita yang jadi korban. Hanya sampai di sana ungkapan syukur kita. Apakah ini salah? Kembali lagi kepada pernyataan sebelumnya. Bukan soal benar atau salah.
Kita coba telaah lebih dalam. Adakah wujud syukur itu bisa lebih dari hanya fokus pada diri sendiri? Bagaimana jika fokusnya diarahkan atau diperluas kepada orang lain atau sekitar kita? Apa yang bisa kita lakukan atau kerjakan sebagai ungkapan syukur kita bagi sesama atau sekitar kita? Adakah yang bisa kita kerjakan? Saya yakin tentu ada. Hanya kadang kita tidak mau memikirkannya atau tidak terpikirkan oleh kita. Saya rasa inilah yang lebih penting direnungkan, dipikirkan, dikerjakan dan dilakukan. Bagaimana caranya? Jujur, saya juga tidak bisa atau tidak berani mengatakannya karena saya juga masih merenungi hal ini. Dan ya semoga satu langkah maju dapat diambil nantinya. Semoga...
~NR30052016~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar