Selasa, 09 Agustus 2016

"Berat Nian Masalahku..."

"Berat Nian Masalahku..."

~ Ada kalanya beratnya beban masalah bukanlah pada masalah itu sendiri. Tetapi pada diri kita sendiri yang terlalu memaksa untuk dapat menyelesaikan masalah itu ataupun terlalu memaksa diri untuk mengikuti maunya masalah --- kita fokus atau larut pada diri kita sendiri. ~

Apakah maksudnya kita harus melarikan diri dari masalah? Apakah kita jangan memikirkan masalah?
Tidak! Bukan seperti itu!
Masalah adalah masalah. Suka atau tidak suka, memang kita harus menghadapinya. Bagaimana kita menghadapinya yang membedakan berat tidaknya beban masalah itu bagi kita. Kecenderungan kita umumnya adalah larut dalam masalah sehingga sulit bagi kita berpikir jernih dan melihat solusi dari masalah. Kita bisa larut meratapi diri ataupun sebaliknya berusaha sekuat tenaga mengangkat masalah dengan tangan kita sendiri. Inilah yang sering kita lakukan bukan?

Kita jarang untuk beristirahat sejenak. Kita jarang mengambil jeda sejenak. Kita jarang mencoba men-zoom out sudut pandang kita atas masalah. Kita terlalu egosentris.

Lebih parahnya lagi kita cenderung menyalahkan pihak lain. Jujur saja, siapakah yang paling sering kita salahkan jika ada masalah menimpa kita? Nasib? Tuhan? Jika mau jujur bukankah Tuhan seringkali menjadi pihak yang sering kita salahkan?

"Firman Tuhan tidak pernah menyederhanakan atau menyepelekan masalah, pergumulan, maupun penderitaan."

Ketika merenungkan kutipan khotbah di Ibadah Raya minggu kemarin, saya menyadari satu hal, masalah adalah hal yang serius. Masalah memang bukan hal yang bisa kita sederhanakan. Ketika kita mencoba menyederhanakan masalah, kita sebenarnya sedang membesarkan masalah. Kita mencoba lari dari masalah. Masalah sudah ada beratnya sendiri. Janganlah kita menambahkan beratnya lagi. Ilustrasi tentang tas yang berat bagi seorang anak kecil, namun tidak bagi ayahnya cukup menggambarkan bahwa sebenarnya bukan soal berat ringannya masalah. Namun bagaimana kita memandang masalah itu. Kita seperti anak kecil itu, kekuatan kita tidak seberapa namun memaksa diri untuk harus bisa mengangkat tas itu. Kita berpikir kita mampu, padahal sesungguhnya tidak. Kita hendaknya menyadari batas kemampuan kita. Namun ini tidak berarti kita sedikit-sedikit menyerahkan atau melemparkan masalah kepada Tuhan. Biar Tuhan yang selesaikan. Itu juga sikap yang tidak tepat.

Hendaknya kita bisa menempatkan diri pada perimbangan yang tepat. Kita tetap menghadapi masalah tersebut. Tapi kita juga harus yakin dan percaya Tuhan akan menyertai dan menolong kita melewatinya. Namun ini nampaknya hanya mudah diucapkan. Benar! Tidak mudah ketika kita benar-benar dihadapkan pada masalah.

Apa yang harus kita lakukan ketika menghadapi masalah? Sekali lagi jangan lupa tetap harus beristirahat! Itulah kesimpulan dari khotbah minggu kemarin. Kelihatannya sederhana. Ya memang seperti itu. Tapi apakah itu berarti menyederhanakan masalah? Sekali-kali tidak. Tidak ada dikatakan sederhanakan masalah. Namun sikap kita menghadapi masalah. Ada orang yang ketika ada masalah, jadinya tidak mau makan, tidak mau tidur. Yang dipikirkan cuma masalah dan berputar-putar di masalah itu saja. Bukannya memikirkan bagaimana mengatasi masalah ini. Bagaimana menghadapi masalah ini. Pikiran menjadi beku. Dan tidak mampu lagi memikirkan solusi atau jalan keluar. Bahkan sampai lupa bahwa ada Tuhan yang menyertainya. Bukankah kita cenderung seperti itu?

"Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?" (Matius 6:27)

Apakah dengan selalu kuatir, lalu masalah akan terselesaikan? Apakah dengan selalu memikirkan masalah, lalu masalah itu akan selesai dengan sendirinya? Bukankah justru kekhawatiran hanya akan menambah berat masalah? Bukankah dengan tidak mau makan, tidak mau tidur, dll hal yang merusak tubuh hanya akan menambah masalah baru? Pikirkan dan renungkanlah!

"Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!" (Mazmur 3:6)

Bisakah kita seperti apa yang Daud ungkapkan di atas? Meskipun begitu berat masalah yang dia hadapi, dia tetap bisa beristirahat. Dan apakah dia kuatir? Ya dan Tidak! Dia ada kehawatiran tapi tidak berlarut dan menjadi momok bagi dia. Dia yakin Tuhan yang akan menyertainya dan menolongnya melewati masalah-masalah yang ia hadapi. Dapatkah kita seperti itu?

#JedaSejenak
#NR09082016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar