MyNote: "Anak Sulung atau Anak Bungsukah Kita?"
--------------------------------------------------------------------
Perumpamaan Tentang Anak Yang Hilang (Lukas 15:11-32)
--------------------------------------------------------------------Dalam perumpamaan tentang anak yang hilang, ada 3 tokoh utama yaitu bapa, anak sulung, anak bungsu.
Ada beberapa poin penting yang dapat saya tangkap dari perumpamaan ini :
- KELUARGA
- PERTOBATAN
- KASIH
- KEEGOISAN MANUSIA
Dalam perumpamaan ini, fokus utama sepertinya kepada si anak bungsu. Jikalau dilihat sepintas lalu, sepertinya si anak bungsu lah yang paling mendapat perhatian dari awal sampai akhir kisah. Memang penekanannya lebih kepada anak bungsu. Namun bukan berarti anak sulung tidak mendapat perhatian. Mungkin inilah sebabnya kenapa bisa timbul penafsiran bahwa "semakin berdosa, semakin dikasihi Tuhan".
Namun coba diperhatikan baik-baik konteks keseluruhan kisah, apakah betul penafsiran tersebut? Jawabannya jelas SALAH BESAR! Itu adalah jebakan iblis!
Coba perhatikan baik-baik bagaimana kisah hidup si anak bungsu setelah ia meminta hak warisannya dan menghambur-hamburkan uangnya, hidupnya menderita. Tiada pengharapan.
Ini sebenarnya menunjukkan bagaimana hidup kita jika jauh dari Tuhan.
Anak bungsu ini kemudian sadar betapa bodohnya ia. Dia menyesali perbuatannya (ayat 17-19). Apakah hanya menyesal saja? Tidak, dia memutuskan kembali kepada bapanya, mengakui segala kesalahannya dan mencoba meminta menjadi orang upahan bapanya (dia merasa tidak layak jadi anak lagi). Inilah penyesalan dan pertobatan.
Mungkin jika kita hanya pikir secara dangkal sampai di sini saja, kita cenderung akan menarik kesimpulan seperti statement yang salah di atas. Jikalau dimaknai dengan serius, pernyataan "semakin berdosa, semakin disayang Tuhan", sebenarnya justru menunjukkan keegoisan manusia. Manusia tidak menyadari apa dosa yang telah dilakukannya. Justru sebenarnya membangga-banggakan dosanya. Membingungkan?
Coba deh dipikir, apakah mungkin Allah yang Mahakudus mengasihi dosa? Allah mengasihi manusia, bukan dosa. Dia ingin manusia lepas dari dosa bukan semakin terbelenggu dalam dosa. Jikalau pemikiran bahwa agar semakin dikasihi Allah, kita harus semakin berbuat dosa, berkembang dalam pikiran saudara/i, sebenarnya saudara/i sedang jatuh semakin dalam ke jurang maut. Saudara/i justru akan semakin jauh dari Allah, bukan mendekat kepada Allah. Bukan semakin dikasihi Allah.
Coba lihat si anak bungsu, apakah ia membanggakan dosa-dosanya, apakah ia semakin melakukan dosa? Tidak bukan?! Satu-satunya titik balik dalam hidupnya adalah penyesalan dan berbalik kembali kepada bapa.
Jikalau si anak bungsu tidak menyesal dan justru semakin terjerumus ke dalam jalan hidupnya yang salah itu, dapatkah saudara/i bayangkan akhir hidupnya? Semakin tiada pengharapan bukan?!
Saat ia berbalik, menyesal dan bertobatlah baru ia mendapatkan pengharapan.
Allah ingin saudara/i berbalik meninggalkan dosa dan kembali kepada-Nya.
Apa artinya berbalik meninggalkan dosa?
Itu artinya bertobat, mengakui segala dosa-dosa kita, dan berjanji tidak melakukannya lagi. Hidup seturut kehendak Allah. Hidup di jalan Allah.
Ada perubahan hidup yang nyata. Hidup yang diubahkan. Tidak lagi mengasihi dosa, tetapi membenci dosa. Adanya kasih yang sungguh-sungguh terhadap sesama.
Menarik sekali statement tentang "jika tidak berbuat dosa, itu bukan manusia namanya".
Benar juga statement ini. Memang tidak ada manusia yang tidak berbuat dosa, semua manusia telah jatuh ke dalam dosa (Roma 3:23).
Jadi adakah manusia yang tidak berdosa? Adakah orang-orang yang rajin ke gereja, rajin melayani Tuhan, hidupnya saleh, tidak berbuat dosa?
Adakah manusia yang lebih baik dari manusia lainnya?
Inilah yang harus kita pahami dari si anak sulung.
Dia sebenarnya juga terhilang di rumah, karena dia sebenarnya tidak menyadari siapa dirinya.
Banyak dosa-dosanya yang tidak dibereskan. Iri hati dan dengki adalah salah satunya.
Dosa dalam hatilah yang paling berbahaya dan mesti segera dibereskan.
Si anak sulung juga tidak memahami kasih di dalam keluarga.
Ayat 30 cukup menarik. Bagaimana si anak sulung bisa tahu bahwa si anak bungsu memboroskan uangnya bersama-sama para pelacur?
Padahal di ayat 13 hanya dikatakan si anak bungsu pergi ke negeri yang jauh, dan memboroskan hartanya dengan hidup berfoya-foya. Tidak dikatakan bersama pelacur-pelacur. Jadi kita bisa nampak sikap iri hati dan dengki dari si anak sulung.
Seharusnya si anak sulung ikut berbahagia karena adiknya telah kembali dan bertobat.
Dia juga seharusnya bisa mensyukuri bahwa hidup bersama bapa sungguh baik jikalau ia melihat pengalaman hidup adiknya yang menderita, tiada pengharapan saat meninggalkan bapanya.
Bukankah harusnya si anak sulung justru bersyukur atas pemeliharaan bapa dalam hidupnya? Bukannya malah dengki.
Apakah saudara/i adalah si anak bungsu? ataukah si anak sulung?
Di posisi apapun saudara/i, jikalau saudara/i belum membereskan dosa-dosa saudara/i, segeralah BERTOBAT!
Kembalilah kepada Allah.
"Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita." (1 Yohanes 1:8).
Bacalah Galatia 5:19-26.
"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9).
"Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6).
---
repost_04032010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar