"Kegagalan adalah sukses yang tertunda." Tentunya kita sudah seringkali mendengar akan hal ini. Apakah hal ini sepenuhnya benar? Ada benarnya namun tidak sepenuhnya benar.
Bagaimanapun juga kegagalan bukanlah sukses yang tertunda. Kegagalan adalah kegagalan. Kegagalan bukanlah kesuksesan. Keduanya tidaklah sama.
Intinya kegagalan ya kegagalan. Sampai di sini persoalan selesai. Kisah selesai. Titik.
Bagaimana Anda memulai perjalanan berikutnya dari titik kegagalan tersebut adalah persoalan yang lain. Dan itu adalah chapter selanjutnya dari hidup Anda.
Ada yang memilih hidup dalam ratapan; Ada yang memilih menjalani dan mencoba melupakan;
Ada juga yang menjalani dan menjadikannya sebagai cambuk motivasi dan pembelajaran. Namun ada pula yang betul-betul terpuruk karena kegagalan itu. Mereka tidak mampu bangkit setelah mengalami kegagalan.
Kita bisa mengambil contoh di Alkitab. Kita ambil saja kisah Petrus dan Yudas Iskariot. Dua dari dua belas murid Yesus. Apa persamaan keduanya? Mereka sama-sama gagal. Namun ada perbedaan besar di antara keduanya. Yang satu terpuruk dan tidak mampu bangkit lagi. Yang satu terpuruk tetapi akhirnya bangkit lagi dan dipakai dengan luar biasa oleh Tuhan.
Ketika Yudas Iskariot mengkhianati Yesus, sebenarnya ia menyesali kesalahannya itu. Namun sangat disayangkan dia hanya sampai di sana saja. Yudas terpuruk tapi ia tidak berbalik. Ia memilih mengakhiri hidupnya. Akhir kisah yang tragis.
Sementara itu, Petrus juga mengalami kegagalan terbesar dalam hidupnya. Ia menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Padahal sebelumnya dengan lantang Petrus berkata bahwa sekalipun iman para murid yang lain tergoncang, ia sekali-kali tidak akan tergoncang dan tidak akan meninggalkan Yesus. Namun pada kenyataannya Petrus justru menyangkal Yesus. Bahkan sampai tiga kali. Petrus menyesali kesalahannya. Namun ia tidak terpuruk terus. Petrus berbalik dan akhirnya dipakai dengan luar biasa oleh Tuhan.
Dua orang yang sama-sama gagal. Namun chapter selanjutnya yang bertolak belakang. Yang satu betul-betul gagal. Yang satu berdampak luar biasa.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita mau seperti Yudas Iskariot atau Petrus? Anda sendiri yang memutuskan.
#NR08062015
Bagaimanapun juga kegagalan bukanlah sukses yang tertunda. Kegagalan adalah kegagalan. Kegagalan bukanlah kesuksesan. Keduanya tidaklah sama.
Intinya kegagalan ya kegagalan. Sampai di sini persoalan selesai. Kisah selesai. Titik.
Bagaimana Anda memulai perjalanan berikutnya dari titik kegagalan tersebut adalah persoalan yang lain. Dan itu adalah chapter selanjutnya dari hidup Anda.
Ada yang memilih hidup dalam ratapan; Ada yang memilih menjalani dan mencoba melupakan;
Ada juga yang menjalani dan menjadikannya sebagai cambuk motivasi dan pembelajaran. Namun ada pula yang betul-betul terpuruk karena kegagalan itu. Mereka tidak mampu bangkit setelah mengalami kegagalan.
Kita bisa mengambil contoh di Alkitab. Kita ambil saja kisah Petrus dan Yudas Iskariot. Dua dari dua belas murid Yesus. Apa persamaan keduanya? Mereka sama-sama gagal. Namun ada perbedaan besar di antara keduanya. Yang satu terpuruk dan tidak mampu bangkit lagi. Yang satu terpuruk tetapi akhirnya bangkit lagi dan dipakai dengan luar biasa oleh Tuhan.
Ketika Yudas Iskariot mengkhianati Yesus, sebenarnya ia menyesali kesalahannya itu. Namun sangat disayangkan dia hanya sampai di sana saja. Yudas terpuruk tapi ia tidak berbalik. Ia memilih mengakhiri hidupnya. Akhir kisah yang tragis.
Sementara itu, Petrus juga mengalami kegagalan terbesar dalam hidupnya. Ia menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Padahal sebelumnya dengan lantang Petrus berkata bahwa sekalipun iman para murid yang lain tergoncang, ia sekali-kali tidak akan tergoncang dan tidak akan meninggalkan Yesus. Namun pada kenyataannya Petrus justru menyangkal Yesus. Bahkan sampai tiga kali. Petrus menyesali kesalahannya. Namun ia tidak terpuruk terus. Petrus berbalik dan akhirnya dipakai dengan luar biasa oleh Tuhan.
Dua orang yang sama-sama gagal. Namun chapter selanjutnya yang bertolak belakang. Yang satu betul-betul gagal. Yang satu berdampak luar biasa.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita mau seperti Yudas Iskariot atau Petrus? Anda sendiri yang memutuskan.
#NR08062015
posted from Bloggeroid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar