DIDIKAN
"Masakan kita hanya mau menerima yang baik (baca : BERKAT) saja dari Tuhan, tetapi tidak mau menerima yang "jelek" (baca : DIDIKAN, TEGURAN, NASEHAT, HAJARAN) dari Tuhan?"
Kita sebagai manusia cenderung menginginkan keinginan kita selalu dipenuhi. Apa yang kita minta kepada Tuhan, kita maunya selalu dikabulkan.
Namun tatkala yang diberikan oleh Tuhan adalah hal yang "jelek" menurut kacamata manusia (atau mungkin jelek menurut kita sendiri karena tidak sesuai keinginan kita), kita cenderung bersungut-sungut. Kita umumnya marah sama Tuhan. Kita mulai menyalahkan Tuhan. Kita mulai menuntut: "Katanya Engkau baik, kenapa memberikan atau membiarkan hal ini yang terjadi?", "Di manakah Engkau Tuhan? Kenapa malah penderitaan ini yang aku dapatkan?",
"Aku melayani Engkau sepenuh hati, sepenuh jiwa, tetapi kenapa malah dapat hal yang jelek begini?", dan keluhan-keluhan lainnya.
Apakah benar Tuhan tidak peduli sama kita?
Apakah benar Tuhan mempermainkan kita?
Atau jangan-jangan Tuhan hanya mau memanfaatkan kita saja?
Berbagai pertanyaan tuduhan muncul di kepala kita.
Apakah benar hal-hal yang kita tuduhkan?
Kadang kita terlalu memaksakan ego dan keinginan kita. Kita selalu maunya apa yang kita pinta harus Tuhan kabulkan. Kita cenderung melihat bahwa kalau Tuhan itu baik berarti Dia harus mengabulkan semua hal yang kita pinta kepada-Nya. Kadang kita sampai lupa atau tidak sadar atau mungkin memang tidak tahu bahwa ada hal-hal yang kita pinta itu sebenarnya adalah RACUN yang kita kira adalah MADU. Tatkala Tuhan memberikan MADU yang sesungguhnya, kita justru menganggapnya sebagai RACUN. Itulah salah satu hal yang sering tidak kita sadari.
Coba kita lihat terlebih dahulu konteks seorang ayah (orangtua) dengan anaknya. Adakah orang tua yang tidak sayang anaknya?
Setiap orang tua (yang baik dan bertanggungjawab) pasti akan memberikan yang terbaik bagi anaknya.
Seorang ayah atau ibu tahu apa yang baik bagi anaknya. Tatkala sang anak merengek-rengek minta sesuatu, belum tentu sang ayah atau sang ibu pasti mengabulkan permohonan sang anak.
Saat sang anak melakukan salah, tidak jarang ayah atau ibunya juga akan menghukum atau menghajar anaknya.
Tentu bagi sang anak, akan terasa sakit dan sepertinya orang tuanya sudah tidak sayang lagi sama dia. Namun seiring waktu, sang anak kelak akan mengerti mengapa ia dihukum (mungkin dipukul dengan rotan, dan lain sebagainya) tatkala ia melakukan kesalahan. Namun di jaman sekarang, kadang anak terlalu dimanja sehingga meskipun sang anak ada melakukan salah, orang tua tidak menghukum malah cenderung mengabaikan. Dibiarkan saja. Tanpa disadari sedikit banyak hal ini kelak akan membentuk bagaimana anak ini.
Bukankah seorang ayah akan menghajar anaknya jikalau anaknya salah?
Seorang anak yang tidak pernah dihajar oleh orang tuanya cenderung menjadi anak yang manja. Ia bisa menjadi cengeng ataupun liar tidak terkendali. Apakah orang tua jaman sekarang menyadari akan hal ini?
Demikian juga dengan anak yang apapun keinginannya selalu dipenuhi oleh orang tuanya. Bahkan mungkin tugas atau pr dari sekolah saja sampai orang tua atau pembantu yang kerjakan. Pokoknya jangan sampai sang anak menangis. Tidak tahu juga apakah ada orang tua yang mendidik anaknya seperti itu. Sang anak selalu dilayani. Apapun yang diminta pasti dipenuhi. Tinggal meminta saja. Istilah kerennya mungkin ongkang-ongkang kaki saja, tidak perlu susah-susah berusaha karena tinggal minta saja. Tugas sekolah ada yang bisa kerjakan, dan lain sebagainya.
Mungkinkah sang anak akan menjadi kuat dan mandiri kalau tahunya hanya meminta berkat dari orangtuanya saja?
Mungkinkah sang anak bisa mandiri kalau selalu dimanja? Mau ini dikasih, mau itu dikasih. Pokoknya kalau mau apa aja pasti dikabulkan.
Apakah benar cara mendidik anak seperti itu?
Begitukah cara orangtua yang baik mendidik anaknya? Tidak bukan?!
Jikalau kita saja tahu bahwa tidak semua keinginan anak harus kita penuhi, apalagi Tuhan kita.
Kalau orangtua kita tidak menghajar kita, mungkinkah kita jadi orang?
Orang tua menghajar kita karena mereka sayang dengan kita. Mereka ingin kita bisa mandiri dan bisa jadi orang.
Demikian juga dengan Tuhan kita!
Dia menghajar kita karena Dia sayang sama kita.
Bersyukurlah kalau Dia masih mau mendidik dan menghajar kita.
Karena akan tiba waktunya, Dia tidak lagi menghajar dan mendidik kita yaitu saat penghakiman itu datang, ya saat kedatangan-Nya yg kedua kali.
Jadi terimalah didikan, ajaran, teguran, dan hajaran dari Tuhan karena itulah yang membuat kita bisa tumbuh dari bayi rohani yang lemah dan tak berdaya menjadi anak-anak Tuhan yang kuat dan tidak cengeng.
Janganlah kita terus menjadi bayi-bayi rohani yang cengeng !!
Kiranya Tuhan memberkati.
"Masakan kita hanya mau menerima yang baik (baca : BERKAT) saja dari Tuhan, tetapi tidak mau menerima yang "jelek" (baca : DIDIKAN, TEGURAN, NASEHAT, HAJARAN) dari Tuhan?"
Kita sebagai manusia cenderung menginginkan keinginan kita selalu dipenuhi. Apa yang kita minta kepada Tuhan, kita maunya selalu dikabulkan.
Namun tatkala yang diberikan oleh Tuhan adalah hal yang "jelek" menurut kacamata manusia (atau mungkin jelek menurut kita sendiri karena tidak sesuai keinginan kita), kita cenderung bersungut-sungut. Kita umumnya marah sama Tuhan. Kita mulai menyalahkan Tuhan. Kita mulai menuntut: "Katanya Engkau baik, kenapa memberikan atau membiarkan hal ini yang terjadi?", "Di manakah Engkau Tuhan? Kenapa malah penderitaan ini yang aku dapatkan?",
"Aku melayani Engkau sepenuh hati, sepenuh jiwa, tetapi kenapa malah dapat hal yang jelek begini?", dan keluhan-keluhan lainnya.
Apakah benar Tuhan tidak peduli sama kita?
Apakah benar Tuhan mempermainkan kita?
Atau jangan-jangan Tuhan hanya mau memanfaatkan kita saja?
Berbagai pertanyaan tuduhan muncul di kepala kita.
Apakah benar hal-hal yang kita tuduhkan?
Kadang kita terlalu memaksakan ego dan keinginan kita. Kita selalu maunya apa yang kita pinta harus Tuhan kabulkan. Kita cenderung melihat bahwa kalau Tuhan itu baik berarti Dia harus mengabulkan semua hal yang kita pinta kepada-Nya. Kadang kita sampai lupa atau tidak sadar atau mungkin memang tidak tahu bahwa ada hal-hal yang kita pinta itu sebenarnya adalah RACUN yang kita kira adalah MADU. Tatkala Tuhan memberikan MADU yang sesungguhnya, kita justru menganggapnya sebagai RACUN. Itulah salah satu hal yang sering tidak kita sadari.
Coba kita lihat terlebih dahulu konteks seorang ayah (orangtua) dengan anaknya. Adakah orang tua yang tidak sayang anaknya?
Setiap orang tua (yang baik dan bertanggungjawab) pasti akan memberikan yang terbaik bagi anaknya.
Seorang ayah atau ibu tahu apa yang baik bagi anaknya. Tatkala sang anak merengek-rengek minta sesuatu, belum tentu sang ayah atau sang ibu pasti mengabulkan permohonan sang anak.
Saat sang anak melakukan salah, tidak jarang ayah atau ibunya juga akan menghukum atau menghajar anaknya.
Tentu bagi sang anak, akan terasa sakit dan sepertinya orang tuanya sudah tidak sayang lagi sama dia. Namun seiring waktu, sang anak kelak akan mengerti mengapa ia dihukum (mungkin dipukul dengan rotan, dan lain sebagainya) tatkala ia melakukan kesalahan. Namun di jaman sekarang, kadang anak terlalu dimanja sehingga meskipun sang anak ada melakukan salah, orang tua tidak menghukum malah cenderung mengabaikan. Dibiarkan saja. Tanpa disadari sedikit banyak hal ini kelak akan membentuk bagaimana anak ini.
Bukankah seorang ayah akan menghajar anaknya jikalau anaknya salah?
Seorang anak yang tidak pernah dihajar oleh orang tuanya cenderung menjadi anak yang manja. Ia bisa menjadi cengeng ataupun liar tidak terkendali. Apakah orang tua jaman sekarang menyadari akan hal ini?
Demikian juga dengan anak yang apapun keinginannya selalu dipenuhi oleh orang tuanya. Bahkan mungkin tugas atau pr dari sekolah saja sampai orang tua atau pembantu yang kerjakan. Pokoknya jangan sampai sang anak menangis. Tidak tahu juga apakah ada orang tua yang mendidik anaknya seperti itu. Sang anak selalu dilayani. Apapun yang diminta pasti dipenuhi. Tinggal meminta saja. Istilah kerennya mungkin ongkang-ongkang kaki saja, tidak perlu susah-susah berusaha karena tinggal minta saja. Tugas sekolah ada yang bisa kerjakan, dan lain sebagainya.
Mungkinkah sang anak akan menjadi kuat dan mandiri kalau tahunya hanya meminta berkat dari orangtuanya saja?
Mungkinkah sang anak bisa mandiri kalau selalu dimanja? Mau ini dikasih, mau itu dikasih. Pokoknya kalau mau apa aja pasti dikabulkan.
Apakah benar cara mendidik anak seperti itu?
Begitukah cara orangtua yang baik mendidik anaknya? Tidak bukan?!
Jikalau kita saja tahu bahwa tidak semua keinginan anak harus kita penuhi, apalagi Tuhan kita.
Kalau orangtua kita tidak menghajar kita, mungkinkah kita jadi orang?
Orang tua menghajar kita karena mereka sayang dengan kita. Mereka ingin kita bisa mandiri dan bisa jadi orang.
Demikian juga dengan Tuhan kita!
Dia menghajar kita karena Dia sayang sama kita.
Bersyukurlah kalau Dia masih mau mendidik dan menghajar kita.
Karena akan tiba waktunya, Dia tidak lagi menghajar dan mendidik kita yaitu saat penghakiman itu datang, ya saat kedatangan-Nya yg kedua kali.
Jadi terimalah didikan, ajaran, teguran, dan hajaran dari Tuhan karena itulah yang membuat kita bisa tumbuh dari bayi rohani yang lemah dan tak berdaya menjadi anak-anak Tuhan yang kuat dan tidak cengeng.
Janganlah kita terus menjadi bayi-bayi rohani yang cengeng !!
Kiranya Tuhan memberkati.
#NR27012010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar